alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

SMK NU Lasem Rembang Mulai Susun Kurikulum Paradigma Baru

REMBANG – Peningkatan kualitas dan kinerja SMK NU Lasem terus digenjot. Terkini, sekolah ini tengah fokus menyusun kurikulum paradigma baru. Langkah ini baru diterapkan di sekolah  dengan label SMK Pusat Keunggulan (PK).

Kepala Sekolah SMK NU Lasem Arif Dimyati menyebutkan kurikulum baru telah diterapkan. SMK PK jumlahnya 900 lebih se-Indonesia. Di Rembang ada empat sekolah, salah satunya SMK NU Lasem. Untuk itu ada dua kurikulum untuk kelas X. Yakni paradigma baru atau Kurikulum Operasional Sekolah (KOS) dan K13.

Ia mengakui jika kurikulum tersebut memang tak selancar target pemerintah. Sehingga tak diterapkan ke semua SMK. “Sebenarnya tujuan pemerintah mau diterapkan di seluruh SMK. Cuma dalam hal dimulai dari SMK pusat keunggulan. Nanti dari sekolah PK akan ditularkan sekolah-sekolah yang lain,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.


Arif menyampaikan teknis kurikulum KOS tersebut lebih menekankan merdeka belajar. Lalu poin paling utama adalah pembentukan profil pelajar Pancasila dan budaya kerja. Hal itulah yang berbeda dan paling mencolok.

Arif tidak menampik proses pembuatan proses penyusunan kurikulum tersebut banyak kendala. Contoh kesiapan dari pemerintah. Diakuinya Direktorat tampaknya juga belum siap.

Baca Juga :  Pengawal Kades di Rembang Dapat Senpi Ilegal Beli di Toko Online

Kemudian untuk di sekolah sendiri terkendala barang yang baru. Sesuatu yang baru. Kurang sosialisasi. Juga instruktur-instruktur yang melatih penyusunan tersebut merasa masih kurang materinya. “Jadi tidak selancar yang diinginkan pemerintah. Tahun depan katakanlah baru bisa terlaksana dengan baik. Sekarang sudah melaksanakan. Khusus sekolah yang menerima bantuan SMK PK,” ujarnya.

Proses penyusunan dari pendamping perguruan tinggi. Kemudian dari balai besar. Di SMK NU Lasem BOE Malang, serta dunia industri. Karena SMK harus menggandeng dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Kurikulum intinya nantinya output-nya bisa diterima dunia kerja. Di dalamnya ada muatan profil pelajar pancasila, pembentukan karakter. Untuk penerapan 8 jam. Dimulai kelas X,” terangnya.

Ke depan setelah melaksanakan atau praktik. Akan dilakukan evaluasi. “Bentuknya tergantung kebijakan sekolah. Contoh penguatan karakter SMK NU Lasem menggandeng Koramil untuk ikut disiplinkan siswa. Lalu menggandeng dunia industri didalam dalam rangka penerapan budaya kerja. Misalnya sekolah seperti dunia industri,” imbuhnya. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – Peningkatan kualitas dan kinerja SMK NU Lasem terus digenjot. Terkini, sekolah ini tengah fokus menyusun kurikulum paradigma baru. Langkah ini baru diterapkan di sekolah  dengan label SMK Pusat Keunggulan (PK).

Kepala Sekolah SMK NU Lasem Arif Dimyati menyebutkan kurikulum baru telah diterapkan. SMK PK jumlahnya 900 lebih se-Indonesia. Di Rembang ada empat sekolah, salah satunya SMK NU Lasem. Untuk itu ada dua kurikulum untuk kelas X. Yakni paradigma baru atau Kurikulum Operasional Sekolah (KOS) dan K13.

Ia mengakui jika kurikulum tersebut memang tak selancar target pemerintah. Sehingga tak diterapkan ke semua SMK. “Sebenarnya tujuan pemerintah mau diterapkan di seluruh SMK. Cuma dalam hal dimulai dari SMK pusat keunggulan. Nanti dari sekolah PK akan ditularkan sekolah-sekolah yang lain,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Arif menyampaikan teknis kurikulum KOS tersebut lebih menekankan merdeka belajar. Lalu poin paling utama adalah pembentukan profil pelajar Pancasila dan budaya kerja. Hal itulah yang berbeda dan paling mencolok.

Arif tidak menampik proses pembuatan proses penyusunan kurikulum tersebut banyak kendala. Contoh kesiapan dari pemerintah. Diakuinya Direktorat tampaknya juga belum siap.

Baca Juga :  Stop Perundungan, Ciptakan Kenyamanan

Kemudian untuk di sekolah sendiri terkendala barang yang baru. Sesuatu yang baru. Kurang sosialisasi. Juga instruktur-instruktur yang melatih penyusunan tersebut merasa masih kurang materinya. “Jadi tidak selancar yang diinginkan pemerintah. Tahun depan katakanlah baru bisa terlaksana dengan baik. Sekarang sudah melaksanakan. Khusus sekolah yang menerima bantuan SMK PK,” ujarnya.

Proses penyusunan dari pendamping perguruan tinggi. Kemudian dari balai besar. Di SMK NU Lasem BOE Malang, serta dunia industri. Karena SMK harus menggandeng dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Kurikulum intinya nantinya output-nya bisa diterima dunia kerja. Di dalamnya ada muatan profil pelajar pancasila, pembentukan karakter. Untuk penerapan 8 jam. Dimulai kelas X,” terangnya.

Ke depan setelah melaksanakan atau praktik. Akan dilakukan evaluasi. “Bentuknya tergantung kebijakan sekolah. Contoh penguatan karakter SMK NU Lasem menggandeng Koramil untuk ikut disiplinkan siswa. Lalu menggandeng dunia industri didalam dalam rangka penerapan budaya kerja. Misalnya sekolah seperti dunia industri,” imbuhnya. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/