alexametrics
32 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Memahami Karakter Siswa Sekolah Dasar

KARAKTERISTIK siswa beserta dengan keragamannya, baik ditinjau dari sisi psikologi, sosial, dan neurofisik menuntut adanya pola baru dalam pembelajaran. Tuntutan itu dimulai dari perubahan paradigma pendidikan yaitu penempatan anak sebagai pusat pembelajaran. Mengingat hal itu, guru yang harus proaktif dan kreatif menyesuaikan diri dengan siswanya. Peran guru tidak hanya menyampaikan materi kepada siswa, tetapi melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.

Siswa sekolah dasar memiliki karakter yang berbeda dengan tingkatan sebelum atau sesudahnya. Menurut Sumantri dalam Wardani  (2012) karakteristik anak usia sekolah dasar yaitu senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.

Karakteristik pertama, anak senang bermain. Pada umumnya siswa SD senang bermain. Guru harus paham dengan perkembangan siswa untuk memberikan aktivitas fisik dengan model bermain. Materi pembelajaran harus dibuat dalam bentuk permainan karena pada usia ini anak masih cukup kental dengan zona bermain. Karakteristik ini menuntut guru untuk melaksanakan pembelajaran yang bermuatan permainan. Rancangan model pembelajaran agar dikonsep untuk bermain yang menyenangkan, tetapi tetap memperhatikan ketercapaian tujuan pembelajaran. Penyusunan jadwal pelajaran pun agar diselang-seling antara mata pelajaran yang membutuhkan pemikiran dengan yang mengandung unsur permainan.


Karakteristik kedua, anak senang bergerak. Berbeda dengan orang dewasa yang betah duduk berjam-jam. Siswa sekolah dasar kemungkinan duduk tenang maksimal 30 menit. Menyuruh siswa untuk duduk rapi dalam jangka waktu yang lama akan dirasakan anak sebagai siksaan. Maka, guru berperan untuk membuat pembelajaran yang senantiasa bergerak dinamis, dalam bentuk permainan yang menarik sehingga stimulus pada minat gerak anak menjadi tinggi. Guru agar merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.

Baca Juga :  Permainan Kasti di Sekolah Dasar

Karakterisitik ketiga, anak senang bekerja dalam kelompok. Siswa sekolah dasar umumnya mengelompok dengan teman seusianya, Melalui pergaulannya, siswa dapat belajar aspek-aspek penting dalam proses sosialisasi seperti belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, setia kawan, menerima tanggung jawab, bersaing secara sehat, dan sebagainya. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar kelompok. Konsep pembelajaran kelas dapat dibuat model tugas kelompok kecil dengan anggota 3-4 siswa. Guru memberi materi melalui tugas sederhana untuk diselesaikan bersama. Tugas tersebut dalam bentuk gabungan unsur psikomotor dan melibatkan unsur kognitif. Misalnya siswa diberi tugas materi gerak sederhana. Untuk memperoleh jawaban, siswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan dahulu gerakan itu, kemudian memaparkan sesuai kemampuan mereka.

Karakteristik keempat, anak senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Memasuki tahap operasi konkret, siswa sekolah dasar memiliki karakteristik senang melakukan hal model praktikum. Berdasarkan ketiga konsep kesenangan bermain, bergerak, dan berkelompok, tentu sangat efektif dikombinasikan dengan praktik langsung. Penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih mudah dipahami jika anak melaksanakan sendiri. Karenanya guru agar merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran, praktik langsung dalam mencangkok.

Manfaat memahami karakter siswa bagi guru adalah dapat memetakan kondisi siswa sesuai dengan karakternya masing-masing. Guru dapat memberikan pelayanan dan memberikan tugas sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan potensi yang dimiliki siswa sesuai minat, bakat, dan kegemarannya. Pada masa PTM terbatas ini tentunya harus dengan menerapkan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan. (*)

KARAKTERISTIK siswa beserta dengan keragamannya, baik ditinjau dari sisi psikologi, sosial, dan neurofisik menuntut adanya pola baru dalam pembelajaran. Tuntutan itu dimulai dari perubahan paradigma pendidikan yaitu penempatan anak sebagai pusat pembelajaran. Mengingat hal itu, guru yang harus proaktif dan kreatif menyesuaikan diri dengan siswanya. Peran guru tidak hanya menyampaikan materi kepada siswa, tetapi melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.

Siswa sekolah dasar memiliki karakter yang berbeda dengan tingkatan sebelum atau sesudahnya. Menurut Sumantri dalam Wardani  (2012) karakteristik anak usia sekolah dasar yaitu senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.

Karakteristik pertama, anak senang bermain. Pada umumnya siswa SD senang bermain. Guru harus paham dengan perkembangan siswa untuk memberikan aktivitas fisik dengan model bermain. Materi pembelajaran harus dibuat dalam bentuk permainan karena pada usia ini anak masih cukup kental dengan zona bermain. Karakteristik ini menuntut guru untuk melaksanakan pembelajaran yang bermuatan permainan. Rancangan model pembelajaran agar dikonsep untuk bermain yang menyenangkan, tetapi tetap memperhatikan ketercapaian tujuan pembelajaran. Penyusunan jadwal pelajaran pun agar diselang-seling antara mata pelajaran yang membutuhkan pemikiran dengan yang mengandung unsur permainan.

Karakteristik kedua, anak senang bergerak. Berbeda dengan orang dewasa yang betah duduk berjam-jam. Siswa sekolah dasar kemungkinan duduk tenang maksimal 30 menit. Menyuruh siswa untuk duduk rapi dalam jangka waktu yang lama akan dirasakan anak sebagai siksaan. Maka, guru berperan untuk membuat pembelajaran yang senantiasa bergerak dinamis, dalam bentuk permainan yang menarik sehingga stimulus pada minat gerak anak menjadi tinggi. Guru agar merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.

Baca Juga :  Hebat, Mahasiswa IAIN Kudus Raih Emas dalam Olimpiade Nasional

Karakterisitik ketiga, anak senang bekerja dalam kelompok. Siswa sekolah dasar umumnya mengelompok dengan teman seusianya, Melalui pergaulannya, siswa dapat belajar aspek-aspek penting dalam proses sosialisasi seperti belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, setia kawan, menerima tanggung jawab, bersaing secara sehat, dan sebagainya. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar kelompok. Konsep pembelajaran kelas dapat dibuat model tugas kelompok kecil dengan anggota 3-4 siswa. Guru memberi materi melalui tugas sederhana untuk diselesaikan bersama. Tugas tersebut dalam bentuk gabungan unsur psikomotor dan melibatkan unsur kognitif. Misalnya siswa diberi tugas materi gerak sederhana. Untuk memperoleh jawaban, siswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan dahulu gerakan itu, kemudian memaparkan sesuai kemampuan mereka.

Karakteristik keempat, anak senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Memasuki tahap operasi konkret, siswa sekolah dasar memiliki karakteristik senang melakukan hal model praktikum. Berdasarkan ketiga konsep kesenangan bermain, bergerak, dan berkelompok, tentu sangat efektif dikombinasikan dengan praktik langsung. Penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih mudah dipahami jika anak melaksanakan sendiri. Karenanya guru agar merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran, praktik langsung dalam mencangkok.

Manfaat memahami karakter siswa bagi guru adalah dapat memetakan kondisi siswa sesuai dengan karakternya masing-masing. Guru dapat memberikan pelayanan dan memberikan tugas sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan siswa. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan potensi yang dimiliki siswa sesuai minat, bakat, dan kegemarannya. Pada masa PTM terbatas ini tentunya harus dengan menerapkan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/