alexametrics
29.7 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Film Animasi Tingkatkan Keterampilan Menulis

DALAM penilaian hasil pembelajaran bahasa Inggris di SMP 1 Kaliwungu kelas IX tahun pelajaran 2018/2019 ada dua keterampilan yang siswa mendapatkan nilai rendah. Yaitu speaking (berbicara) dan writing (menulis).

Menulis sangat penting, karena dengan menulis siswa dapat mengungkapkan ide atau gagasan, pendapat, dan perasaan, sehingga dapat berinteraksi dengan orang lain.

Berdasarkan hasil pengamatan guru, rendahnya kemampuan menulis siswa disebabkan penguasaan vocabulary (kosa kata) yang terbatas yang memengaruhi hasil pilihan kata yang ditulis. Keterbatasan grammar (tata bahasa) membuat kesulitan dalam menyusun kalimat yang dapat dipahami. Media pembelajaran yang kurang menarik dan kurang berfungsi membantu siswa dalam menulis.


Menulis narrative text merupakan materi yang dirasa sulit bagi siswa. Tata bahasa yang digunakan dalam bentuk simple past tense (waktu lampau). Dalam bahasa Indonesia tidak dikenal tata bahasa waktu lampau. Kosa kata yang digunakan juga terbilang lebih sukar dibandingkan dengan kosa kata pada bab yang lain. Sebagian besar kosa kata yang digunakan belum pernah siswa jumpai.

Dalam pembelajaran, guru sering menggunakan media pembelajaran gambar yang ada di buku paket. Meski sudah dijelaskan dan dipandu guru, tapi siswa masih merasa kesulitan menulis. Pembelajaran juga terasa membosankan, karena hanya terpaku pada buku paket.

Mencermati kenyataan tersebut, guru berupaya mencari cara bagaimana meningkatkan keterampilan menulis. Cara yang dipilih yaitu dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik.

Menurut  Asyar, Rayandra (2012: 8) mengemukakan, media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan pesan, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif, di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar mengajar.

Baca Juga :  Pembelajaran Mahal Dan Etika

Media film animasi adalah jawaban yang tepat sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis narrative text. Film animasi dipilih karena disukai anak-anak, ada  unsur hiburan, dan terdapat pesan moral dari ceritanya.

Pelaksanaan pembelajaran ini, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Guru menayangkan beberapa gambar melalui proyektor LCD yang berkaitan dengan film animasi yang akan ditonton. Guru bertanya jawab dengan siswa dalam kelompoknya berkaitan dengan kosa kata baru dan tata bahasa.

Siswa menonton film animasi yang ditayangkan guru dengan judul ”Snow White and The Seven Dwarfs”. Selesai menonton siswa diberi stimulus untuk bertanya jawab tentang film itu, baik dengan guru dan  temannya. Setelah itu guru menunjukkan kembali bagian yang penting dari cerita film tersebut. Kemudian guru memberi tugas siswa menulis narrative text berdasarkan film animasi yang ditonton dengan menggunakan kalimatnya sendiri.

Dari pengamatan guru ketika proses pembelajaran, siswa menjadi tertarik dan antusias, baik pada waktu menonton film maupun bertanya jawab dengan guru dan temannya. Mereka tampak asyik mengerjakan tugas guru menulis narrative text dengan kalimatnya sendiri. Hal ini berimbas pada aktivitas belajar siswa dan hasil penilaian menulis yang meningkat dari pada sebelumnya. (*)

DALAM penilaian hasil pembelajaran bahasa Inggris di SMP 1 Kaliwungu kelas IX tahun pelajaran 2018/2019 ada dua keterampilan yang siswa mendapatkan nilai rendah. Yaitu speaking (berbicara) dan writing (menulis).

Menulis sangat penting, karena dengan menulis siswa dapat mengungkapkan ide atau gagasan, pendapat, dan perasaan, sehingga dapat berinteraksi dengan orang lain.

Berdasarkan hasil pengamatan guru, rendahnya kemampuan menulis siswa disebabkan penguasaan vocabulary (kosa kata) yang terbatas yang memengaruhi hasil pilihan kata yang ditulis. Keterbatasan grammar (tata bahasa) membuat kesulitan dalam menyusun kalimat yang dapat dipahami. Media pembelajaran yang kurang menarik dan kurang berfungsi membantu siswa dalam menulis.

Menulis narrative text merupakan materi yang dirasa sulit bagi siswa. Tata bahasa yang digunakan dalam bentuk simple past tense (waktu lampau). Dalam bahasa Indonesia tidak dikenal tata bahasa waktu lampau. Kosa kata yang digunakan juga terbilang lebih sukar dibandingkan dengan kosa kata pada bab yang lain. Sebagian besar kosa kata yang digunakan belum pernah siswa jumpai.

Dalam pembelajaran, guru sering menggunakan media pembelajaran gambar yang ada di buku paket. Meski sudah dijelaskan dan dipandu guru, tapi siswa masih merasa kesulitan menulis. Pembelajaran juga terasa membosankan, karena hanya terpaku pada buku paket.

Mencermati kenyataan tersebut, guru berupaya mencari cara bagaimana meningkatkan keterampilan menulis. Cara yang dipilih yaitu dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik.

Menurut  Asyar, Rayandra (2012: 8) mengemukakan, media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan pesan, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif, di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar mengajar.

Baca Juga :  Belajar Keterampilan Bekal Masa Depan Siswa

Media film animasi adalah jawaban yang tepat sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis narrative text. Film animasi dipilih karena disukai anak-anak, ada  unsur hiburan, dan terdapat pesan moral dari ceritanya.

Pelaksanaan pembelajaran ini, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Guru menayangkan beberapa gambar melalui proyektor LCD yang berkaitan dengan film animasi yang akan ditonton. Guru bertanya jawab dengan siswa dalam kelompoknya berkaitan dengan kosa kata baru dan tata bahasa.

Siswa menonton film animasi yang ditayangkan guru dengan judul ”Snow White and The Seven Dwarfs”. Selesai menonton siswa diberi stimulus untuk bertanya jawab tentang film itu, baik dengan guru dan  temannya. Setelah itu guru menunjukkan kembali bagian yang penting dari cerita film tersebut. Kemudian guru memberi tugas siswa menulis narrative text berdasarkan film animasi yang ditonton dengan menggunakan kalimatnya sendiri.

Dari pengamatan guru ketika proses pembelajaran, siswa menjadi tertarik dan antusias, baik pada waktu menonton film maupun bertanya jawab dengan guru dan temannya. Mereka tampak asyik mengerjakan tugas guru menulis narrative text dengan kalimatnya sendiri. Hal ini berimbas pada aktivitas belajar siswa dan hasil penilaian menulis yang meningkat dari pada sebelumnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/