alexametrics
26.5 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

SMPN 1 Sumber Cegah Anak Putus Sekolah dengan Gerakan Orang Tua Asuh

REMBANG – SMPN 1 Sumber meluncurkan program gerakan orang tua asuh dari guru untuk siswa. Langkah ini untuk membantu sebagian kebutuhan sekolah siswanya yang berstatus anak yatim. Sumber dananya dihimpun secara gotong royong guru dan kepala sekolah. Program ini bakal digulirkan setiap bulan.

Program ini telah dimulai Kemarin, (25/1). Harapannya dengan program tersebut dapat lebih menambah semangat dan motivasi anak-anak didik dalam menimba ilmu. Khususnya Di tengah-tengah keterbatasan ekonomi dan kemandirian.

Program tersebut digagas setelah penelusuran ke rumah-rumah siswa secara door to door saat pelaksanaan pembelajaran online. Kepala Sekolah SMPN 1 Sumber Isti Choma Wati mengajak para guru untuk melakukan pemantauan langsung kondisi anak-anak. Saat pelaksanaan pembelajaran online.


“Kami agendakan pemantauan ke 10 anak. Yang dikunjungi anak-anak yatim. Ibunya meninggal, bapaknya kerja tidak pernah pulang. Akhirnya ikut mbah atau pak lik. Dilihat kondisinya, membuat air mata menetes,” ungkapnya

Dari pantauan itu banyak akhirnya diketahui. Dari mulai cara belajar. Akses ke sekolah. Kuotanya bagaimana? Karena tidak semua anak-anak masuk kriteria penerima Program Indonesia Pintar (PIP).

”Salah satunya anak kami di Polbayem, Sumber. Kita geser lagi. Sama ada yang bekerja, sehingga ada yang ikut mbah lek dan pak de. Meski kerjanya serabutan. Itu anak-anak yatim saya ada 26 anak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Jelang Arus Mudik, Dishub Rembang Lakukan Tes Urine pada Sopir Bus

Untuk pembelajaran tatap muka (PTM) bagaimana, Isti pun memikirkannya transportasi. Sebab di Kecamatan Sumber tidak ada kendaraan umum. Salah satu transportasi sepeda motor. Sementara untuk bersepeda jangkauannya jauh.

Ia mencontohkan, dari sebelah timur paling jauh Grawan. Ada yang rumahnya Pelemsari, jaraknya 11,5 km. Paling selatan Ronggomulyo jarak 8 km. Logede lebih jauh lagi. Jika dekat jalan kaki.

”Mereka ada yang diantar jemput. Tapi tidak semua. Karena pagi-pagi orang tuanya ada yang sudah bekerja,” imbuhnya.

Sisi lain yang diraih saat turun ke rumah-rumah anak, kepala sekolah dan bapak serta ibu guru melihat semangat mereka sekolah. Keinginannya mereka tidak putus sekolah. Tetap menimba ilmu sampai selesai, jangan sampai terkendala.

Jadi yang dipikirkan sekolah bagaimana anak yatim atau piatu bisa berikan bantuan. Meskipun dari sisi nominal tidak banyak. Tetapi yang utama rutin setiap bulan. Sehingga digagaslah gerakan orang tua asuh.

”Untuk sedikit membantu anak-anak.  Biar beban orang tua yang tinggal satu bapak atau ibu terasa lebih ringan. Baik beli buku, alat tulis, seragam yang harus sudah diganti dan lain-lain),” imbuhnya. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

REMBANG – SMPN 1 Sumber meluncurkan program gerakan orang tua asuh dari guru untuk siswa. Langkah ini untuk membantu sebagian kebutuhan sekolah siswanya yang berstatus anak yatim. Sumber dananya dihimpun secara gotong royong guru dan kepala sekolah. Program ini bakal digulirkan setiap bulan.

Program ini telah dimulai Kemarin, (25/1). Harapannya dengan program tersebut dapat lebih menambah semangat dan motivasi anak-anak didik dalam menimba ilmu. Khususnya Di tengah-tengah keterbatasan ekonomi dan kemandirian.

Program tersebut digagas setelah penelusuran ke rumah-rumah siswa secara door to door saat pelaksanaan pembelajaran online. Kepala Sekolah SMPN 1 Sumber Isti Choma Wati mengajak para guru untuk melakukan pemantauan langsung kondisi anak-anak. Saat pelaksanaan pembelajaran online.

“Kami agendakan pemantauan ke 10 anak. Yang dikunjungi anak-anak yatim. Ibunya meninggal, bapaknya kerja tidak pernah pulang. Akhirnya ikut mbah atau pak lik. Dilihat kondisinya, membuat air mata menetes,” ungkapnya

Dari pantauan itu banyak akhirnya diketahui. Dari mulai cara belajar. Akses ke sekolah. Kuotanya bagaimana? Karena tidak semua anak-anak masuk kriteria penerima Program Indonesia Pintar (PIP).

”Salah satunya anak kami di Polbayem, Sumber. Kita geser lagi. Sama ada yang bekerja, sehingga ada yang ikut mbah lek dan pak de. Meski kerjanya serabutan. Itu anak-anak yatim saya ada 26 anak,” ungkapnya.

Baca Juga :  Target PAD Naik, Pemkab Rembang Godok Formula Penegakan Perda

Untuk pembelajaran tatap muka (PTM) bagaimana, Isti pun memikirkannya transportasi. Sebab di Kecamatan Sumber tidak ada kendaraan umum. Salah satu transportasi sepeda motor. Sementara untuk bersepeda jangkauannya jauh.

Ia mencontohkan, dari sebelah timur paling jauh Grawan. Ada yang rumahnya Pelemsari, jaraknya 11,5 km. Paling selatan Ronggomulyo jarak 8 km. Logede lebih jauh lagi. Jika dekat jalan kaki.

”Mereka ada yang diantar jemput. Tapi tidak semua. Karena pagi-pagi orang tuanya ada yang sudah bekerja,” imbuhnya.

Sisi lain yang diraih saat turun ke rumah-rumah anak, kepala sekolah dan bapak serta ibu guru melihat semangat mereka sekolah. Keinginannya mereka tidak putus sekolah. Tetap menimba ilmu sampai selesai, jangan sampai terkendala.

Jadi yang dipikirkan sekolah bagaimana anak yatim atau piatu bisa berikan bantuan. Meskipun dari sisi nominal tidak banyak. Tetapi yang utama rutin setiap bulan. Sehingga digagaslah gerakan orang tua asuh.

”Untuk sedikit membantu anak-anak.  Biar beban orang tua yang tinggal satu bapak atau ibu terasa lebih ringan. Baik beli buku, alat tulis, seragam yang harus sudah diganti dan lain-lain),” imbuhnya. (ali)






Reporter: Wisnu Aji

Most Read

Artikel Terbaru

/