alexametrics
26.3 C
Kudus
Saturday, May 14, 2022

Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi

KEGIATAN sekolah yang dilakukan oleh siswa dengan guru di kelas atau tatap muka  adalah suatu hal yang hampir tidak tergantikan dibandingkan dengan pembelajaran jarak jauh (daring atau online). Satu tahun lamanya pembelajaran online berlangsung di rumah. Sudah tidak dipungkiri lagi, akibat pandemi semua kegiatan masyarakat dibatasi untuk menekan penyebaran Covid-19 termasuk juga pembatasan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar baik di sekolah.

Selama pandemi  kita sudah sering mendengar dengan istilah pembelajaran daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan).  Istilah yang diperkenalkan ini, sekarang menjadi terobosan baru untuk pola sistem pendidikan di masa-masa darurat seperti ini. Pembelajaran secara daring atau dalam jaringan ini berarti pembelajaran yang dilakukan secara online, menggunakan aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial yang terhubung dengan koneksi internet. Pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka. Akan tetapi, melalui platform yang telah tersedia. Segala bentuk materi pelajaran dibagikan secara online, komunikasi yang dilakukan secara online, dan tes dilaksanakan secara online.

Sistem pembelajaran daring dan luring ini mau tidak mau harus tetap terjadi di tengah pandemi  karena sebelum pandemi ini berakhir, peserta didik tidak mungkin dibiarkan libur panjang sampai pandemi selesai. Supaya pembelajaran tetap berjalan seperti biasa dan meminimalisir penyebaran Covid-19, banyak dari media sosial yang menawarkan jasa-jasa fitur aplikasinya yang bisa digunakan untuk proses belajar dan mengajar seperti aplikasi WhatsApp, Google Classroom, Microsoft Teams, Google Meet, dan Zoom. Selain itu, siswa bebas ingin menggunakan perangkat apapun misal gawai, laptop (PC), tablet, dsb.

Baca Juga :  Meningkatkan Hasil BDR melalui Zoom

Kemudian untuk pembelajaran luring atau di luar jaringan atau lebih dikenal dengan istilah offline berarti pembelajaran yang tidak lain merupakan pembelajaran tatap muka secara konvesional dan sering digunakan oleh tenaga pendidik sebelum adanya pandemi Covid-19. Akan tetapi, di saat pandemi ini berlangsung terjadi beberapa perubahan tertentu seperti jam belajarnya yang menjadi lebih singkat dan materinya sedikit.

Seiring dengan berjalannya metode pembelajaran daring yang dikembangkan sedemikian rupa, hal ini juga mendorong terciptanya sebuah konsep blended learning. Blended learning adalah suatu metode pembelajaran yang menggabungkan antara daring dan luring. Konsep ini ternyata lebih cepat terbentuk dari prediksi pemerintah sebelumnya. Konsep blended learning pada dasarnya bertujuan untuk menghadirkan fleksibilitas pembelajaran yang belum pernah dirasakan murid sebelumnya. Dengan kesempatan ini siswa dapat mengeksplorasi belajar daring secara luas, tetapi mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan melalui pertemuan luring dengan guru dan teman. Pembelajaran ini sedang berusaha diterapkan di berbagai daerah di sekolah pada masa transisi new normal pandemi .

Tidak adanya kepastian batas waktu untuk mengakhiri studi online ini membuat siswa menjadi bosan. Mereka merindukan suasana sekolah, bertemu teman, dan kegiatan yang mereka lakukan sebelum pandemi. Oleh karena hal tersebut, pemerintah dengan segera membuat keputusan bersama dengan Menteri Pendidikan dan mengumumkan hasil rapat bersama pada Juli 2021 bahwa sekolah dapat menyelenggarakan PTM. Namun, dengan catatan pelaksanaan PTM tersebut dilakukan secara terbatas dan harus mengikuti berbagai prosedur dan persyaratan untuk pelaksanaannya. (*)

KEGIATAN sekolah yang dilakukan oleh siswa dengan guru di kelas atau tatap muka  adalah suatu hal yang hampir tidak tergantikan dibandingkan dengan pembelajaran jarak jauh (daring atau online). Satu tahun lamanya pembelajaran online berlangsung di rumah. Sudah tidak dipungkiri lagi, akibat pandemi semua kegiatan masyarakat dibatasi untuk menekan penyebaran Covid-19 termasuk juga pembatasan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar baik di sekolah.

Selama pandemi  kita sudah sering mendengar dengan istilah pembelajaran daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan).  Istilah yang diperkenalkan ini, sekarang menjadi terobosan baru untuk pola sistem pendidikan di masa-masa darurat seperti ini. Pembelajaran secara daring atau dalam jaringan ini berarti pembelajaran yang dilakukan secara online, menggunakan aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial yang terhubung dengan koneksi internet. Pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka. Akan tetapi, melalui platform yang telah tersedia. Segala bentuk materi pelajaran dibagikan secara online, komunikasi yang dilakukan secara online, dan tes dilaksanakan secara online.

Sistem pembelajaran daring dan luring ini mau tidak mau harus tetap terjadi di tengah pandemi  karena sebelum pandemi ini berakhir, peserta didik tidak mungkin dibiarkan libur panjang sampai pandemi selesai. Supaya pembelajaran tetap berjalan seperti biasa dan meminimalisir penyebaran Covid-19, banyak dari media sosial yang menawarkan jasa-jasa fitur aplikasinya yang bisa digunakan untuk proses belajar dan mengajar seperti aplikasi WhatsApp, Google Classroom, Microsoft Teams, Google Meet, dan Zoom. Selain itu, siswa bebas ingin menggunakan perangkat apapun misal gawai, laptop (PC), tablet, dsb.

Baca Juga :  Pendidikan Karakter dengan Konsep ”Nguwongke Uwong”

Kemudian untuk pembelajaran luring atau di luar jaringan atau lebih dikenal dengan istilah offline berarti pembelajaran yang tidak lain merupakan pembelajaran tatap muka secara konvesional dan sering digunakan oleh tenaga pendidik sebelum adanya pandemi Covid-19. Akan tetapi, di saat pandemi ini berlangsung terjadi beberapa perubahan tertentu seperti jam belajarnya yang menjadi lebih singkat dan materinya sedikit.

Seiring dengan berjalannya metode pembelajaran daring yang dikembangkan sedemikian rupa, hal ini juga mendorong terciptanya sebuah konsep blended learning. Blended learning adalah suatu metode pembelajaran yang menggabungkan antara daring dan luring. Konsep ini ternyata lebih cepat terbentuk dari prediksi pemerintah sebelumnya. Konsep blended learning pada dasarnya bertujuan untuk menghadirkan fleksibilitas pembelajaran yang belum pernah dirasakan murid sebelumnya. Dengan kesempatan ini siswa dapat mengeksplorasi belajar daring secara luas, tetapi mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan melalui pertemuan luring dengan guru dan teman. Pembelajaran ini sedang berusaha diterapkan di berbagai daerah di sekolah pada masa transisi new normal pandemi .

Tidak adanya kepastian batas waktu untuk mengakhiri studi online ini membuat siswa menjadi bosan. Mereka merindukan suasana sekolah, bertemu teman, dan kegiatan yang mereka lakukan sebelum pandemi. Oleh karena hal tersebut, pemerintah dengan segera membuat keputusan bersama dengan Menteri Pendidikan dan mengumumkan hasil rapat bersama pada Juli 2021 bahwa sekolah dapat menyelenggarakan PTM. Namun, dengan catatan pelaksanaan PTM tersebut dilakukan secara terbatas dan harus mengikuti berbagai prosedur dan persyaratan untuk pelaksanaannya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/