alexametrics
24.1 C
Kudus
Friday, November 26, 2021

Trie Koentarto, Guru Seni SMKN 1 Purwodadi Raih Jateng Musik Award 2021

Ini Soal Taste, Tak Sekadar Teori

Bermusik menjadi kegemaran Trie Koentarto sejak kecil. Trie Koent –nama bekennya- ini pernah bercita-cita menjadi seorang artis. Mimpinya itu juga sempat ia kubur dalam-dalam. Keadaan ekonomi orang tuanya membuatnya pesimistis meraihnya.

Anak ke tujuh dari 12 bersaudara ini sempat menabung agar bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Karena gelora ingin berpendidikan tinggi begitu besar, akhirnya ia nekad mengikuti seleksi dengan uang yang dikumpulkan sendiri selama sekolah. Karena ingin mengembangkan bakat bermusiknya, ia mengambil jurusan Seni Musik di IKIP PGRI Semarang pada 1990 silam.

Setelah diterima, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Di sana ia fokus belajar musik, ilmunya benar-benar diasah. Bahkan, sejak awal ia tak pernah bercita-cita menjadi guru. ”Sehingga mata kuliah (makul) keguruannya malah kurang bagus nilainya,” jelas pria yang berumur 51 tahun ini.

Baru dapat dua tahun kuliah, Trie Koent mulai banyak aktivitas bermusik di luar kampus. Mulai dari manggung di kafe, mall, hingga kerap mengiringi artis papan atas seperti Yuni Shara, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata hingga Rossa.

Dari sanalah ia mulai mengumpul pundi-pundi rupiah yang ia pakai membayar kuliah. Malahan setiap ada kelebihan, ia bagikan kepada orang tuanya. Keasyikannya bermusik di luar kampus, membuatnya mengambaikan skripsi. Bahkan, ia sempat harus membantu biarnya adeknya masuk perguruan tinggi.

Setelah lulus, pada 2000 ia mendaftar ke CPNS. Penempatan mengajar pertama didapat di Desa Dokoro Kecamatan Wirosari. Saat itu, ia harus perjalanan pulang pergi (PP) Semarang-Purwodadi. Lantaran saat itu ia tinggal di Semarang. Kegiatan sekolah membuatnya mengabaikan bakat musiknya, hampir 20 tahun lamanya. Dirasa lelah, akhirnya tinggal lagi di Kabupaten Grobogan dan menikah.

Lalu, pada 2009 mulai masuk di SMKN 1 Purwodadi. Dari yang sekolah sepi musik, kini berbagai prestasi musik diraih seperti lomba-lomba di festival band, nasyid, solo gitar, vokal grup, hingga paduan suara. Dia juga menciptakan mars sekolah.

”Setelah 20 tahun vakum. Saya juga mulai membuka les musik di rumah. Mulai bisa megang alat-alat musik seperti drum, piano, gitar, gitar klasik dan olah vokal. Mulai fokus ke studio yang ada di rumah. Tapi akhirnya, awal pandemi studio benar-benar off,” imbuhnya.

Baca Juga :  Etika Berbahasa di Lingkungan Sekolah

Bingung mau apa, ia mulai merambah media daring dengan mengaktifkan Instagram, Facebook, YouTube dengan kerap mengunggah karya bermusiknya di sana. Mulailah banyak orang yang mem-follow media daringnya. Dia sempat punya 10 ribu pengikut. Dengan ia kerap melakukan cover lagu yang juga direspons langsung pemain aslinya, bahkan hingga di-repost sebanyak 2,3 juta akun.

”Selama saya aktif itu, saya tak pernah menyembunyikan identitas saya sebagai seorang guru. Bahkan, saya inginnya memang saya jadi guru seni yang tidak direndahkan. Karena buat saya guru yang berwibawa itu adalah guru yang mempunyai prioritas dibidangnya. Bukan secara teori,” jelasnya.

Lalu, pada beberapa waktu lalu. Ia sempat melakukan cover lagu ‘Ku Ingin’ milik Gigi Band yang akhirnya di-respons langsung oleh RANS Musik. ”Saya ditelepon dan videocall sama timnya. Sempat nggak percaya, karena taku penipuan. Akhirnya mereka menujukkan ID-Card dan mendapat kabar jika 22 Oktober diundang dalam acara konser musik di Jakarta,” ungkapnya.

Di sana, Trie Koent menjadi tamu spesial karena manggung bareng Band Gigi dengan membawakan lagu ‘Bisa Saja’ by Band Gigi. ”Mereka mengundang saya karena kerap menonton video yang saya upload di medsos tersebut,” imbuhnya.

Setelah itu pada 20 Oktober ia sampai di Jakarta. Namun, hal buruk menimpanya. Seluruh akun medsosnya diretas orang. Membuat semua akun yang ia rintis selama pandemi ini hilang.

”Semua akun diretas, saat itu malam sebelum perform. Pihak RANS meminta link medsos milik saya untuk diulas dalam talkshow. Namun, gagal diulas karena semua sudah hilang. Padahal media promosi saya ya itu. Sangat meyayangkan hal itu, karena sudah banyak followers dan insight sudah tinggi. Kini saya membuat Instagram baru lagi yang bernama @omahmusik_triekoent,” keluhnya.

BERPRESTASI: Trie Koentarto guru seni musik di SMKN 1 Purwodadi bersama Kepala SMKN 1 Purwodadi Soekamto saat menunjukkan gitar andalan dan piala penghargaan yang diraihnya baru-baru ini. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Meski begitu, pemegang gitar fender stratocaster ini tak ingin berlarut dalam kesedihan. Baru-baru ini, Trie Koent juga mengikuti kompetisi Jateng Musik Award 2021. Beberapa musisi se-Jateng masuk nominasi, mulai dari pencipta lagu terbaik, penyanyi hingga gitaris tergayeng.

”Saya masuk kategori Gitaris Tergayeng 2021. Dari 8 ribu musisi, diambil lima nominasi. Alhamdulillah terpilih dan saya dapatkan,” paparnya.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Bermusik menjadi kegemaran Trie Koentarto sejak kecil. Trie Koent –nama bekennya- ini pernah bercita-cita menjadi seorang artis. Mimpinya itu juga sempat ia kubur dalam-dalam. Keadaan ekonomi orang tuanya membuatnya pesimistis meraihnya.

Anak ke tujuh dari 12 bersaudara ini sempat menabung agar bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Karena gelora ingin berpendidikan tinggi begitu besar, akhirnya ia nekad mengikuti seleksi dengan uang yang dikumpulkan sendiri selama sekolah. Karena ingin mengembangkan bakat bermusiknya, ia mengambil jurusan Seni Musik di IKIP PGRI Semarang pada 1990 silam.

Setelah diterima, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Di sana ia fokus belajar musik, ilmunya benar-benar diasah. Bahkan, sejak awal ia tak pernah bercita-cita menjadi guru. ”Sehingga mata kuliah (makul) keguruannya malah kurang bagus nilainya,” jelas pria yang berumur 51 tahun ini.

Baru dapat dua tahun kuliah, Trie Koent mulai banyak aktivitas bermusik di luar kampus. Mulai dari manggung di kafe, mall, hingga kerap mengiringi artis papan atas seperti Yuni Shara, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata hingga Rossa.

Dari sanalah ia mulai mengumpul pundi-pundi rupiah yang ia pakai membayar kuliah. Malahan setiap ada kelebihan, ia bagikan kepada orang tuanya. Keasyikannya bermusik di luar kampus, membuatnya mengambaikan skripsi. Bahkan, ia sempat harus membantu biarnya adeknya masuk perguruan tinggi.

Setelah lulus, pada 2000 ia mendaftar ke CPNS. Penempatan mengajar pertama didapat di Desa Dokoro Kecamatan Wirosari. Saat itu, ia harus perjalanan pulang pergi (PP) Semarang-Purwodadi. Lantaran saat itu ia tinggal di Semarang. Kegiatan sekolah membuatnya mengabaikan bakat musiknya, hampir 20 tahun lamanya. Dirasa lelah, akhirnya tinggal lagi di Kabupaten Grobogan dan menikah.

Lalu, pada 2009 mulai masuk di SMKN 1 Purwodadi. Dari yang sekolah sepi musik, kini berbagai prestasi musik diraih seperti lomba-lomba di festival band, nasyid, solo gitar, vokal grup, hingga paduan suara. Dia juga menciptakan mars sekolah.

”Setelah 20 tahun vakum. Saya juga mulai membuka les musik di rumah. Mulai bisa megang alat-alat musik seperti drum, piano, gitar, gitar klasik dan olah vokal. Mulai fokus ke studio yang ada di rumah. Tapi akhirnya, awal pandemi studio benar-benar off,” imbuhnya.

Baca Juga :  Mengajar Literasi Numerasi untuk Sukses AKM

Bingung mau apa, ia mulai merambah media daring dengan mengaktifkan Instagram, Facebook, YouTube dengan kerap mengunggah karya bermusiknya di sana. Mulailah banyak orang yang mem-follow media daringnya. Dia sempat punya 10 ribu pengikut. Dengan ia kerap melakukan cover lagu yang juga direspons langsung pemain aslinya, bahkan hingga di-repost sebanyak 2,3 juta akun.

”Selama saya aktif itu, saya tak pernah menyembunyikan identitas saya sebagai seorang guru. Bahkan, saya inginnya memang saya jadi guru seni yang tidak direndahkan. Karena buat saya guru yang berwibawa itu adalah guru yang mempunyai prioritas dibidangnya. Bukan secara teori,” jelasnya.

Lalu, pada beberapa waktu lalu. Ia sempat melakukan cover lagu ‘Ku Ingin’ milik Gigi Band yang akhirnya di-respons langsung oleh RANS Musik. ”Saya ditelepon dan videocall sama timnya. Sempat nggak percaya, karena taku penipuan. Akhirnya mereka menujukkan ID-Card dan mendapat kabar jika 22 Oktober diundang dalam acara konser musik di Jakarta,” ungkapnya.

Di sana, Trie Koent menjadi tamu spesial karena manggung bareng Band Gigi dengan membawakan lagu ‘Bisa Saja’ by Band Gigi. ”Mereka mengundang saya karena kerap menonton video yang saya upload di medsos tersebut,” imbuhnya.

Setelah itu pada 20 Oktober ia sampai di Jakarta. Namun, hal buruk menimpanya. Seluruh akun medsosnya diretas orang. Membuat semua akun yang ia rintis selama pandemi ini hilang.

”Semua akun diretas, saat itu malam sebelum perform. Pihak RANS meminta link medsos milik saya untuk diulas dalam talkshow. Namun, gagal diulas karena semua sudah hilang. Padahal media promosi saya ya itu. Sangat meyayangkan hal itu, karena sudah banyak followers dan insight sudah tinggi. Kini saya membuat Instagram baru lagi yang bernama @omahmusik_triekoent,” keluhnya.

BERPRESTASI: Trie Koentarto guru seni musik di SMKN 1 Purwodadi bersama Kepala SMKN 1 Purwodadi Soekamto saat menunjukkan gitar andalan dan piala penghargaan yang diraihnya baru-baru ini. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Meski begitu, pemegang gitar fender stratocaster ini tak ingin berlarut dalam kesedihan. Baru-baru ini, Trie Koent juga mengikuti kompetisi Jateng Musik Award 2021. Beberapa musisi se-Jateng masuk nominasi, mulai dari pencipta lagu terbaik, penyanyi hingga gitaris tergayeng.

”Saya masuk kategori Gitaris Tergayeng 2021. Dari 8 ribu musisi, diambil lima nominasi. Alhamdulillah terpilih dan saya dapatkan,” paparnya.






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru