alexametrics
29.7 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Pembelajaran Kolaboratif Sangat Bermakna

KUALITAS pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari peran siswa sebagai subjek didik dan peran guru dalam merencanakan, mempersiapkan, dan mengorganisasi pembelajaran secara efektif dan efisien. Model pempelajaran yang paling popular dan sering dijumpai adalah model pembelajaran genetik, yakni guru sekedar menyampaikan konsep apa adanya (faktual) tanpa mengungkapkan faktor mengapanya (Djohar, 1999). Kenyataan di lapangan sering dijumpai adanya kelangkaan guru yang mampu mengajarkan sains sebagai ilmu empiris. Hal ini mungkin disebabkan guru kurang memiliki empati terhadap sains itu sendiri. Sebagai dampaknya bahwa guru jarang berhasil megarahkan siswa untuk akrab dan tertarik dengan sains sampai terbuka mata budinya untuk menyenangi sains. Sebagian besar pembelajaran di kelas dilakukan dengan metode ceramah dan sedikit divariasi dengan tanya jawab. Para guru memanfaatkan siswa untuk dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan arahan atau harapan guru. Pertanyaan yang dilontarkan guru berupa pertanyaan sederhana, seperti: apakah ini?; atau apakah ini benar? Para siswa hanya mengulangi penjelasan yang sudah tertulis dalam buku teks, dan menyatakannya sebagai kerja kelompok. Melalui pembelajaran konvensional seperti di atas, siswa belum memperoleh pembelajaran yang bermakna.

Saat ini telah terjadi perubahan paradigma dalam pembelajaran. Pembelajaran tidak diartikan lagi sebagai proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan sebagai upaya guru untuk membantu siswa dengan menyediakan sarana dan situasi yang mendukung agar siswa dapat mengkonstruksi konsep atau pemahamannya. Tanggung jawab belajar terdapat pada diri siswa, sedangkan guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Dalam hal ini, guru lebih berfungsi sebagai fasilitator. Guru harus memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk berdikusi dan mengemukakan pendapat atau pemahamannya. Pembelajaran dikatakan berhasil jika melibatkan seluruh sense peserta didik. Komunikasi yang aktif dan adanya kolaborasi antar siswa maupun antara siswa dengan guru merupakan hal yang esensial untuk menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Kondisi yang demikian merupakan salah satu karakteristik pembelajaran kolaboratif.

Baca Juga :  Serba–Serbi ANBK 2021

Kegiatan pembelajaran kolaborasi diarahkan untuk menanamkan kebiasaan  untuk memahami apa yang dipelajari, sikap ingin melakukan sesuatu, dan keterampilan bagaimana melakukan sesuatu. Pembelajaran secara kolaboratif memungkinkan banyak memberikan nilai tambah, baik bagi siswa maupun bagi guru. Hal itu dapat dilihat dari pengalaman siswa dalam bekerjasama bukan hanya dengan sesama teman sekelasnya, namun dengan siswa lain yang sebelumnya belum mereka kenal, interaksi antar siswa yang baru mereka kenal menjadi terarah karena mengikuti program yang sudah direncanakan oleh guru, mendorong motivasi dan semangat kompetitif dalam arti positif bagi siswa dan pengalaman masing-masing guru dalam mengajar berbeda-beda, ada yang merasa berhasil, setengah berhasil, bahkan di beberapa tempat tidak berdaya.  Agar pengalaman-pengalaman tersebut menjadi lebih bermakna, maka “berbagi” dan “berkolaborasi” merupakan suatu hal penting bagi para pelaku pendidikan. Dengan berbagi dan berkolaborasi, para pelaku pendidikan bisa saling belajar, saling mengisi dan melengkapi, yang menimbulkan sinergi. Kolaboratif ini sangat berakar pada sebuah sifat sosial yang melekat pada pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu lain-lain.


Kolaborasi sesungguhnya merupakan kebutuhan manusia, di mana secara alamiah manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya, bekerjasama, dan saling bantu membantu antar sesama. Demikian juga dalam kegiatan pembelajaran, kolaborasi merupakan suatu keniscayaan. (*)

.

KUALITAS pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari peran siswa sebagai subjek didik dan peran guru dalam merencanakan, mempersiapkan, dan mengorganisasi pembelajaran secara efektif dan efisien. Model pempelajaran yang paling popular dan sering dijumpai adalah model pembelajaran genetik, yakni guru sekedar menyampaikan konsep apa adanya (faktual) tanpa mengungkapkan faktor mengapanya (Djohar, 1999). Kenyataan di lapangan sering dijumpai adanya kelangkaan guru yang mampu mengajarkan sains sebagai ilmu empiris. Hal ini mungkin disebabkan guru kurang memiliki empati terhadap sains itu sendiri. Sebagai dampaknya bahwa guru jarang berhasil megarahkan siswa untuk akrab dan tertarik dengan sains sampai terbuka mata budinya untuk menyenangi sains. Sebagian besar pembelajaran di kelas dilakukan dengan metode ceramah dan sedikit divariasi dengan tanya jawab. Para guru memanfaatkan siswa untuk dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan arahan atau harapan guru. Pertanyaan yang dilontarkan guru berupa pertanyaan sederhana, seperti: apakah ini?; atau apakah ini benar? Para siswa hanya mengulangi penjelasan yang sudah tertulis dalam buku teks, dan menyatakannya sebagai kerja kelompok. Melalui pembelajaran konvensional seperti di atas, siswa belum memperoleh pembelajaran yang bermakna.

Saat ini telah terjadi perubahan paradigma dalam pembelajaran. Pembelajaran tidak diartikan lagi sebagai proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan sebagai upaya guru untuk membantu siswa dengan menyediakan sarana dan situasi yang mendukung agar siswa dapat mengkonstruksi konsep atau pemahamannya. Tanggung jawab belajar terdapat pada diri siswa, sedangkan guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Dalam hal ini, guru lebih berfungsi sebagai fasilitator. Guru harus memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk berdikusi dan mengemukakan pendapat atau pemahamannya. Pembelajaran dikatakan berhasil jika melibatkan seluruh sense peserta didik. Komunikasi yang aktif dan adanya kolaborasi antar siswa maupun antara siswa dengan guru merupakan hal yang esensial untuk menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Kondisi yang demikian merupakan salah satu karakteristik pembelajaran kolaboratif.

Baca Juga :  Video Musik Animasi "Sabda Alam" Siswa SMK RUS Kudus Dinilai Berkelas

Kegiatan pembelajaran kolaborasi diarahkan untuk menanamkan kebiasaan  untuk memahami apa yang dipelajari, sikap ingin melakukan sesuatu, dan keterampilan bagaimana melakukan sesuatu. Pembelajaran secara kolaboratif memungkinkan banyak memberikan nilai tambah, baik bagi siswa maupun bagi guru. Hal itu dapat dilihat dari pengalaman siswa dalam bekerjasama bukan hanya dengan sesama teman sekelasnya, namun dengan siswa lain yang sebelumnya belum mereka kenal, interaksi antar siswa yang baru mereka kenal menjadi terarah karena mengikuti program yang sudah direncanakan oleh guru, mendorong motivasi dan semangat kompetitif dalam arti positif bagi siswa dan pengalaman masing-masing guru dalam mengajar berbeda-beda, ada yang merasa berhasil, setengah berhasil, bahkan di beberapa tempat tidak berdaya.  Agar pengalaman-pengalaman tersebut menjadi lebih bermakna, maka “berbagi” dan “berkolaborasi” merupakan suatu hal penting bagi para pelaku pendidikan. Dengan berbagi dan berkolaborasi, para pelaku pendidikan bisa saling belajar, saling mengisi dan melengkapi, yang menimbulkan sinergi. Kolaboratif ini sangat berakar pada sebuah sifat sosial yang melekat pada pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu lain-lain.

Kolaborasi sesungguhnya merupakan kebutuhan manusia, di mana secara alamiah manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya, bekerjasama, dan saling bantu membantu antar sesama. Demikian juga dalam kegiatan pembelajaran, kolaborasi merupakan suatu keniscayaan. (*)

.

Most Read

Artikel Terbaru

/