alexametrics
30 C
Kudus
Wednesday, May 18, 2022

Refleksi Hari Ibu: Peran Perempuan untuk Bangsa

SEJARAH lahirnya Hari Ibu, tidak terlepas dari sejarah panjang perjuangan para perempuan khususnya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di masa perjuangan bangsa Indonesia.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan pada Kongres Perempuan Indonesia ke III tahun 1938 di Bandung. Berdasarkan Kepres RI Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional Yang Bukan Hari Libur, pemerintah menjadikan Hari Ibu sebagai hari nasional yang diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia.

Giwo Rubianto Wiyogo, seorang Aktivis Perempuan, sebagai Ketua Umum KOWANI (Kongres Wanita Indonesia), menegaskan Peringatan Hari Ibu (PHI) mempunyai makna lebih dari sekedar Mother’s Day. Di mana, Mother’s Day seringkali dimaknai sebagai seremonial perayaan sebagai hari spesial untuk perempuan dalam perannya sebagai ibu. Sedangkan PHI ternyata memiliki makna heroik lebih dalam dari sekedar perayaan Mother’s Day.


Ditilik dari sejarah lahirnya, maka PHI merupakan upaya bangsa Indonesia mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan Indonesia dalam berjuang merebut kemerdekaan. Mengutip ungkapan Giwo (Ketum KOWANI) bahwa PHI harus menjadi momentum perempuan dalam perannya sebagai garda terdepan dan memegang peran sebagai Ibu Bangsa.

PHI diharapkan sebagai momen penting untuk mendorong semua pemangku kepentingan guna memberikan perhatian dan pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan. Sekaligus merupakan momentum untuk merenungkan tentang pencapaian cita-cita kaum perempuan Indonesia untuk kepentingan Bangsa. Dan harapan kaum perempuan dalam memperjuangkan peranan dan kedudukannya di kancah kehidupan berbangsa dan bernegara yang menggambarkan semangat nasionalisme perempuan berdaya untuk Indonesia maju.

Melalui PHI diyakini perempuan mampu meningkatkan kualitas hidup serta mengembangkan segala potensi dan kemampuannya sebagai motor penggerak sekaligus agen perubahan (agent of change).

Baca Juga :  Pembelajaran di Masa Pandemi

Gambaran ibu professional tentu selayaknya perempuan yang mampu dan berdaya dalam menjalankan berbagai perannya secara seimbang, di antaranya: pertama, peran perempuan sebagai individu. Peran perempuan sebagai individu dimaksudkan bahwa perempuan harus mampu mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu, perempuan perlu didorong dan didukung untuk mampu menyalurkan bakat, minat dan passion yang dimiliki. Sehingga bisa menghasilkan karya produktif yang memungkinkan menjadikan perempuan berdaya dan mandiri secara financial.

Kedua, peran perempuan sebagai istri. Peran perempuan sebagai istri dapat dipahami bahwa perempuan memiliki andil besar dalam ketahanan keluarga. Jika suami sebagai pemimpin keluarga, maka istri sebagai pengelola dan manajer rumah tangga.  Masing-masing memiliki peran untuk saling mendukung, melengkapi dan berbagi serta saling membantu dalam menjalankan roda kehidupan rumah tangga.

Ketiga, peran perempuan sebagai ibu. Peran perempuan sebagai ibu, tentu saja berkaitan dengan perannya sebagai madrasatul ula, pendidik dan pembimbing utama bagi anak-anaknya. Di sini tentu saja perempuan memegang peran penting dan sentral dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Keempat, peran perempuan sebagai masyarakat. Seorang perempuan juga harus mampu menjalankan perannya sebagai anggota masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, keberadaannya di masyarakat diharapkan mampu memberikan manfaat positif sesuai dengan kemampuannya.

Untuk mewujudkan perempuan yang mampu menjalankan perannya sebagai ibu professional, tentu dibutuhkan dukungan dari pasangan dan lingkungan sekitar yang konstruktif. Dengan lahirnya para perempuan yang berdaya dalam menjalankan semua perannya secara seimbang maka akan mampu membangun pondasi Negara dengan sangat kuat. Karena mendidik satu ibu sama dengan mendidik satu generasi. (*)

SEJARAH lahirnya Hari Ibu, tidak terlepas dari sejarah panjang perjuangan para perempuan khususnya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di masa perjuangan bangsa Indonesia.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan pada Kongres Perempuan Indonesia ke III tahun 1938 di Bandung. Berdasarkan Kepres RI Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional Yang Bukan Hari Libur, pemerintah menjadikan Hari Ibu sebagai hari nasional yang diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia.

Giwo Rubianto Wiyogo, seorang Aktivis Perempuan, sebagai Ketua Umum KOWANI (Kongres Wanita Indonesia), menegaskan Peringatan Hari Ibu (PHI) mempunyai makna lebih dari sekedar Mother’s Day. Di mana, Mother’s Day seringkali dimaknai sebagai seremonial perayaan sebagai hari spesial untuk perempuan dalam perannya sebagai ibu. Sedangkan PHI ternyata memiliki makna heroik lebih dalam dari sekedar perayaan Mother’s Day.

Ditilik dari sejarah lahirnya, maka PHI merupakan upaya bangsa Indonesia mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan Indonesia dalam berjuang merebut kemerdekaan. Mengutip ungkapan Giwo (Ketum KOWANI) bahwa PHI harus menjadi momentum perempuan dalam perannya sebagai garda terdepan dan memegang peran sebagai Ibu Bangsa.

PHI diharapkan sebagai momen penting untuk mendorong semua pemangku kepentingan guna memberikan perhatian dan pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan. Sekaligus merupakan momentum untuk merenungkan tentang pencapaian cita-cita kaum perempuan Indonesia untuk kepentingan Bangsa. Dan harapan kaum perempuan dalam memperjuangkan peranan dan kedudukannya di kancah kehidupan berbangsa dan bernegara yang menggambarkan semangat nasionalisme perempuan berdaya untuk Indonesia maju.

Melalui PHI diyakini perempuan mampu meningkatkan kualitas hidup serta mengembangkan segala potensi dan kemampuannya sebagai motor penggerak sekaligus agen perubahan (agent of change).

Baca Juga :  Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa

Gambaran ibu professional tentu selayaknya perempuan yang mampu dan berdaya dalam menjalankan berbagai perannya secara seimbang, di antaranya: pertama, peran perempuan sebagai individu. Peran perempuan sebagai individu dimaksudkan bahwa perempuan harus mampu mengembangkan potensi dirinya. Oleh karena itu, perempuan perlu didorong dan didukung untuk mampu menyalurkan bakat, minat dan passion yang dimiliki. Sehingga bisa menghasilkan karya produktif yang memungkinkan menjadikan perempuan berdaya dan mandiri secara financial.

Kedua, peran perempuan sebagai istri. Peran perempuan sebagai istri dapat dipahami bahwa perempuan memiliki andil besar dalam ketahanan keluarga. Jika suami sebagai pemimpin keluarga, maka istri sebagai pengelola dan manajer rumah tangga.  Masing-masing memiliki peran untuk saling mendukung, melengkapi dan berbagi serta saling membantu dalam menjalankan roda kehidupan rumah tangga.

Ketiga, peran perempuan sebagai ibu. Peran perempuan sebagai ibu, tentu saja berkaitan dengan perannya sebagai madrasatul ula, pendidik dan pembimbing utama bagi anak-anaknya. Di sini tentu saja perempuan memegang peran penting dan sentral dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Keempat, peran perempuan sebagai masyarakat. Seorang perempuan juga harus mampu menjalankan perannya sebagai anggota masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, keberadaannya di masyarakat diharapkan mampu memberikan manfaat positif sesuai dengan kemampuannya.

Untuk mewujudkan perempuan yang mampu menjalankan perannya sebagai ibu professional, tentu dibutuhkan dukungan dari pasangan dan lingkungan sekitar yang konstruktif. Dengan lahirnya para perempuan yang berdaya dalam menjalankan semua perannya secara seimbang maka akan mampu membangun pondasi Negara dengan sangat kuat. Karena mendidik satu ibu sama dengan mendidik satu generasi. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/