alexametrics
29.4 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Gembor-Gembor Beauty Privilege sebagai Tolak Ukur Kecantikan Perempuan

ISTILAH beauty privilege akhir-akhir ini sangat menarik untuk dibahas. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya konten-konten di platform media sosial (medsos) mengenai kecantikan. Beauty diartikan sebagai cantik, rupawan, dan menawan. Sedangkan, privilege diartikan sebagai hak yang istimewa. Dengan begitu, beauty privilege adalah istilah untuk menggambarkan keberuntungan seseorang yang terlahir menjadi rupawan.

Kadang kala kata ”glow up” yang sering kita baca atau dengar merupakan suatu bentuk perjalanan diri, dari yang biasa saja menuju perubahan lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, muncul anggapan jika seseorang dengan paras yang menarik lebih mendapatkan perlakukan istimewa. Ada juga ungkapan ”beauty is pain” sebagai penggambaran bahwa untuk menjadi cantik dan menarik dari sudut pandang orang lain butuh pengorbanan dan perjalanan yang panjang.

Sadar atau tidak sadar, seorang perempuan ketika memasuki masa remaja sudah menerapkan budaya beauty privilege. Tampan dan cantik bukanlah standar dalam menentukan keberuntungan orang lain, karena mengukur standar kecantikan dan ketampanan juga berasal dalam individu masing-masing, misalnya good attitude.


Ada candaan ”orang cakep mah bebas. Hidupnya enak dan bebannya berkurang satu.” Candaan ini, lahir sebagai bukti bahwa beauty privilege memang benar adanya. Konon katanya kecantikan dan ketampanan itu subjektif, karena berasal dari hasil persepsi dan penilaian segelintir individu.

Perspektif tersebut yang memunculkan penilaian, jika seseorang yang memiliki paras rupawan akan dengan mudah mendapatkan segalanya. Maka dari itu, beberapa di antara mereka memiliki standar kecantikan sebagai bagian penting dari citra dirinya.

Akibat dari adanya konsep dan pemikiran masyarakat mengenai beauty privilege menyebabkan ketidaksetaraan yang terus berlanjut di tengah masyarakat sampai saat ini. Masih banyak pemikiran kuno yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, seperti menilai seseorang dari fisiknya tanpa melihat kepribadiannya.

Baca Juga :  Tanggung Jawab dan Kerja Sama Pendidikan di Masa Pandemi

Menurut saya, beauty privilege ini tidak mungkin berdiri sendiri. Pasti ada intertwine dengan isu lain. Stereotip gender pun turut andil juga dalam asumsi beauty privilege terhadap good looking dan standar kecantikan eurosentris sebagai value-nya.

Kadang-kadang muncul stigma, bahwa perempuan akan cantik saat badannya langsing dan laki-laki dianggap lebih tampan saat maskulin. Padahal, stigma tersebut secara tidak langsung mendiskriminasi mereka yang belum good looking. Dari sudut pandang saya, bahwa sebenarnya beauty privilege itu tidak salah. Namun, mindset segelintir orang dan cara treat orang dengan keistimewaan beauty privilege-nya itu salah, karena hanya memandang dengan sebelah mata. Sehingga dapat berpotensi munculnya diskriminasi dan terjadi ketidaknormalisasi di dalam masyarakat.

Kadang-kadang terbesit dalam pikiran, bahwa cantik adalah segalanya, sehingga kata insecurity sering mendominasi pikiran yang menyebabkan runtuhnya rasa percaya diri. Sebenarnya tidak masalah jika merasa insecure atau self-hatred, karena diri sendiri juga memerlukan kritik saran untuk sebuah perubahan menjadi lebih baik.

Adanya rasa insecure akan membuat kita lebih memperhatikan diri sendiri dan memotivasi untuk tampil dengan versi terbaiknya. Memang beauty privilege terlihat menjanjikan, tetapi hal tersebut tidak bertahan lama dan memudar seiring berjalannya waktu.

Berbeda halnya dengan inner beauty yang didukung personaliti akan cenderung bertahan hingga tua nanti. Beauty privilege yang dimiliki seseorang tidak salah, dan itu hadiah dari Tuhan. Standar yang diciptakan masyarakat hanya terikat waktu dan tempatnya, sehingga mengubah konkret dari persepsi beauty privilege terhadap visibilitas dalam masyarakat. Ini harus dihapus dan mengganti dengan respect and love yourself. (*)

ISTILAH beauty privilege akhir-akhir ini sangat menarik untuk dibahas. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya konten-konten di platform media sosial (medsos) mengenai kecantikan. Beauty diartikan sebagai cantik, rupawan, dan menawan. Sedangkan, privilege diartikan sebagai hak yang istimewa. Dengan begitu, beauty privilege adalah istilah untuk menggambarkan keberuntungan seseorang yang terlahir menjadi rupawan.

Kadang kala kata ”glow up” yang sering kita baca atau dengar merupakan suatu bentuk perjalanan diri, dari yang biasa saja menuju perubahan lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, muncul anggapan jika seseorang dengan paras yang menarik lebih mendapatkan perlakukan istimewa. Ada juga ungkapan ”beauty is pain” sebagai penggambaran bahwa untuk menjadi cantik dan menarik dari sudut pandang orang lain butuh pengorbanan dan perjalanan yang panjang.

Sadar atau tidak sadar, seorang perempuan ketika memasuki masa remaja sudah menerapkan budaya beauty privilege. Tampan dan cantik bukanlah standar dalam menentukan keberuntungan orang lain, karena mengukur standar kecantikan dan ketampanan juga berasal dalam individu masing-masing, misalnya good attitude.

Ada candaan ”orang cakep mah bebas. Hidupnya enak dan bebannya berkurang satu.” Candaan ini, lahir sebagai bukti bahwa beauty privilege memang benar adanya. Konon katanya kecantikan dan ketampanan itu subjektif, karena berasal dari hasil persepsi dan penilaian segelintir individu.

Perspektif tersebut yang memunculkan penilaian, jika seseorang yang memiliki paras rupawan akan dengan mudah mendapatkan segalanya. Maka dari itu, beberapa di antara mereka memiliki standar kecantikan sebagai bagian penting dari citra dirinya.

Akibat dari adanya konsep dan pemikiran masyarakat mengenai beauty privilege menyebabkan ketidaksetaraan yang terus berlanjut di tengah masyarakat sampai saat ini. Masih banyak pemikiran kuno yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, seperti menilai seseorang dari fisiknya tanpa melihat kepribadiannya.

Baca Juga :  Mudahnya Belajar dengan Google Classroom saat Pandemi

Menurut saya, beauty privilege ini tidak mungkin berdiri sendiri. Pasti ada intertwine dengan isu lain. Stereotip gender pun turut andil juga dalam asumsi beauty privilege terhadap good looking dan standar kecantikan eurosentris sebagai value-nya.

Kadang-kadang muncul stigma, bahwa perempuan akan cantik saat badannya langsing dan laki-laki dianggap lebih tampan saat maskulin. Padahal, stigma tersebut secara tidak langsung mendiskriminasi mereka yang belum good looking. Dari sudut pandang saya, bahwa sebenarnya beauty privilege itu tidak salah. Namun, mindset segelintir orang dan cara treat orang dengan keistimewaan beauty privilege-nya itu salah, karena hanya memandang dengan sebelah mata. Sehingga dapat berpotensi munculnya diskriminasi dan terjadi ketidaknormalisasi di dalam masyarakat.

Kadang-kadang terbesit dalam pikiran, bahwa cantik adalah segalanya, sehingga kata insecurity sering mendominasi pikiran yang menyebabkan runtuhnya rasa percaya diri. Sebenarnya tidak masalah jika merasa insecure atau self-hatred, karena diri sendiri juga memerlukan kritik saran untuk sebuah perubahan menjadi lebih baik.

Adanya rasa insecure akan membuat kita lebih memperhatikan diri sendiri dan memotivasi untuk tampil dengan versi terbaiknya. Memang beauty privilege terlihat menjanjikan, tetapi hal tersebut tidak bertahan lama dan memudar seiring berjalannya waktu.

Berbeda halnya dengan inner beauty yang didukung personaliti akan cenderung bertahan hingga tua nanti. Beauty privilege yang dimiliki seseorang tidak salah, dan itu hadiah dari Tuhan. Standar yang diciptakan masyarakat hanya terikat waktu dan tempatnya, sehingga mengubah konkret dari persepsi beauty privilege terhadap visibilitas dalam masyarakat. Ini harus dihapus dan mengganti dengan respect and love yourself. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/