alexametrics
23.5 C
Kudus
Thursday, July 7, 2022

Hubungan Latar Cerpen dengan Realitas Sosial melalui Jigsaw

CERITA pendek, sesuai dengan sebutannya memang sebuah cerita yang tidak panjang. Alur cerita yang disajikan juga tidak bertele-tele atau berkepanjangan. Cara pengaturan cerita padat dan tepat, sehingga masalah yang timbul dapat selesai.

Kosasih (2003:12) mengatakan, cerpen merupakan karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaiaan, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.

Cerpen sebagai salah satu bentuk prosa, mendukung fungsi sastra pada umumnya. Fungsi prosa adalah untuk memperoleh keindahan, pengalaman, nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita, dan nilai-nilai budaya yang luhur. Selain itu, dapat pula mengembangkan cipta, rasa, serta membantu pembentukan untuk pembelajaran (secara tidak langsung).


Penunjukan latar dalam karya sastra dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam. Tergantung selera dan kreativitas pengarang. Ada pengarang yang melukiskan secara rinci. Ada pula yang sekadar menunjukkan dalam bagian cerita.

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu, pertama, latar tempat. Yaitu lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan berupa tempat-tempat dengan nama-nama tertentu, misalnya desa, sungai, jalan, hutan, kota, dan sebagainya.

Kedua, latar waktu. Berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa yang dikisahkan dalam karya sastra. Adanya kesejalanan waktu dimanfaatkan untuk memberikan kesan kepada pembaca seolah-olah cerita tersebut sungguh- sungguh ada dan terjadi.

Ketiga, latar sosial. Yaitu hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial
masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi atau cerpen. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, serta cara berpikir dan bersikap.

Baca Juga :  Keceriaan Siswa setelah adanya PTM Terbatas

Selain itu, latar sosial juga berhubungan dengan situasi sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, dan atas. Latar sosial berperan menentukan apakah sebuah latar menjadi khas dari sebuah cerita serta memiliki hubungan dengan kehidupan sosial.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah salah satu pendekatan dalam pembelajaran kooperatif di mana penerapannya siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok terdiri atas tim ahli sesuai dengan pertanyaan yang disiapkan guru maksimal lima pertanyaan sesuai dengan jumlah tim ahli.

Model pembelajaran Jigsaw menghendaki siswa belajar melalui kelompok. Model pembelajaran ini mendorong kerja sama dalam kelompok. Setiap anggota kelompok memahami dan mendalami sesuatu. Kemudian digabung menjadi satu dengan anggota-anggota kelompok lain untuk memperoleh suatu pemahaman yang utuh.

Pembelajaran menjelaskan hubungan latar suatu cerpen (cerita pendek) dengan realitas sosial dan menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita anak. Baik asli maupun terjemahan dengan model Jigsaw, siswa akan dituntut aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran memahami cerita, baik cerpen maupun cerita anak.

Model Jigsaw memberikan kesempatan kepada siswa mengemukakan pendapat mereka, sehingga diharapkan dapat lebih menghayati dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Pada model Jigsaw, siswa diharapkan menyeselesaikan perbedaan pendapat di antara siswa.

Pemaparan pendapat oleh siswa melalui kegiatan diskusi kelompok asal dengan kelompok ahli. Dengan begitu, diharapkan pemecahan masalah menjelaskan hubungan latar suatu cerpen dengan realitas sosial dan menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita anak. Baik asli maupun terjemahan akan dapat terselesaikan. (*)

 

CERITA pendek, sesuai dengan sebutannya memang sebuah cerita yang tidak panjang. Alur cerita yang disajikan juga tidak bertele-tele atau berkepanjangan. Cara pengaturan cerita padat dan tepat, sehingga masalah yang timbul dapat selesai.

Kosasih (2003:12) mengatakan, cerpen merupakan karangan pendek yang berbentuk prosa. Dalam cerpen dikisahkan sepenggal kehidupan tokoh, yang penuh pertikaiaan, peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.

Cerpen sebagai salah satu bentuk prosa, mendukung fungsi sastra pada umumnya. Fungsi prosa adalah untuk memperoleh keindahan, pengalaman, nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita, dan nilai-nilai budaya yang luhur. Selain itu, dapat pula mengembangkan cipta, rasa, serta membantu pembentukan untuk pembelajaran (secara tidak langsung).

Penunjukan latar dalam karya sastra dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam. Tergantung selera dan kreativitas pengarang. Ada pengarang yang melukiskan secara rinci. Ada pula yang sekadar menunjukkan dalam bagian cerita.

Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu, pertama, latar tempat. Yaitu lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan berupa tempat-tempat dengan nama-nama tertentu, misalnya desa, sungai, jalan, hutan, kota, dan sebagainya.

Kedua, latar waktu. Berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa yang dikisahkan dalam karya sastra. Adanya kesejalanan waktu dimanfaatkan untuk memberikan kesan kepada pembaca seolah-olah cerita tersebut sungguh- sungguh ada dan terjadi.

Ketiga, latar sosial. Yaitu hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial
masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi atau cerpen. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, serta cara berpikir dan bersikap.

Baca Juga :  Membentuk Karakter Peserta Didik lewat Pendidikan Kepramukaan

Selain itu, latar sosial juga berhubungan dengan situasi sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, dan atas. Latar sosial berperan menentukan apakah sebuah latar menjadi khas dari sebuah cerita serta memiliki hubungan dengan kehidupan sosial.

Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah salah satu pendekatan dalam pembelajaran kooperatif di mana penerapannya siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok terdiri atas tim ahli sesuai dengan pertanyaan yang disiapkan guru maksimal lima pertanyaan sesuai dengan jumlah tim ahli.

Model pembelajaran Jigsaw menghendaki siswa belajar melalui kelompok. Model pembelajaran ini mendorong kerja sama dalam kelompok. Setiap anggota kelompok memahami dan mendalami sesuatu. Kemudian digabung menjadi satu dengan anggota-anggota kelompok lain untuk memperoleh suatu pemahaman yang utuh.

Pembelajaran menjelaskan hubungan latar suatu cerpen (cerita pendek) dengan realitas sosial dan menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita anak. Baik asli maupun terjemahan dengan model Jigsaw, siswa akan dituntut aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran memahami cerita, baik cerpen maupun cerita anak.

Model Jigsaw memberikan kesempatan kepada siswa mengemukakan pendapat mereka, sehingga diharapkan dapat lebih menghayati dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Pada model Jigsaw, siswa diharapkan menyeselesaikan perbedaan pendapat di antara siswa.

Pemaparan pendapat oleh siswa melalui kegiatan diskusi kelompok asal dengan kelompok ahli. Dengan begitu, diharapkan pemecahan masalah menjelaskan hubungan latar suatu cerpen dengan realitas sosial dan menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita anak. Baik asli maupun terjemahan akan dapat terselesaikan. (*)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/