alexametrics
29.8 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

Kebijakan PTM Full pada Masa Pandemi

SUDAH hampir dua tahun para siswa maupun tenaga pendidik menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring akibat pandemi Covid-19. KBM secara daring dinilai kurang efektif dalam penyampaian dan proses penerimaan materi pelajaran. Selain itu, KBM secara daring juga berpengaruh terhadap tingginya tingkat stres dan kejenuhan para siswa dan tenaga pendidik.

Keadaan pandemi Covid-19 di Indonesia yang berangsur membaik dan tingkat kasus yang cenderung tidak mengalami pelonjakan tajam, menjadikan pemerintah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) mengumumkan aturan baru mengenai pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen. Dengan maksimal durasi enam jam pelajaran.

Tentu saja, keputusan tersebut berdasarkan hasil musyawarah yang matang dan dengan memperhatikan beberapa risiko yang akan terjadi. Situasi pandemi Covid-19 yang mulai terkendali menumbuhkan pula optimisme untuk bersama memulihkan pendidikan demi masa depan anak-anak Indonesia.


Dalam aturan terbaru yang diumumkan Kemendikbud Ristek, juga menyebutkan beberapa kriteria daerah level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Selain itu, jumlah pendidik dan tenaga kependidikan yang telah divaksin, serta ketentuan kapasitas PTM dan durasi jam pelajarannya.

Kebijakan baru ini, tentu saja menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Terutama para orang tua. Pihak yang pro diadakan PTM full ini, memiliki anggapan bahwa pembelajaran bisa menjadi lebih efektif. Utamanya dalam penyerapan materi dan ilmu-ilmu baru.

Selain itu, siswa juga bisa kembali merasakan suasana belajar mengajar di sekolah dan dapat bertemu serta bersosialisasi dengan teman-teman sekolahnya. Rasa jenuh dan bosan melaksanakan pembelajaran secara daring juga menjadi alasan tersendiri bagi pihak yang pro terhadap kebijakan ini.

Baca Juga :  Menciptakan Lingkungan Positif di Dalam Kelas

Sedangkan bagi pihak yang kontra beranggapan adanya kebijakan PTM full ini, bisa menyebabkan risiko pelonjakan kasus lagi. Apalagi munculnya virus korona varian baru omicron yang menjadi kekhawatiran bagi masyarakat. Selain itu, mereka juga mengkhawatirkan mengenai kurang tegasnya protokol kesehatan yang ada di sekolah.

Kebijakan adanya PTM pada masa pandemi sebenarnya sebelumnya telah diterapkan beberapa sekolah. Namun, dari segi jumlahnya pelaksanaan masih dibatasi dan tidak dilakukan secara 100 persen.

Adanya kebijakan baru PTM full ini, tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para tenaga pendidik. Tantangan tersebut banyaknya persiapan yang harus dipersiapkan sekolah untuk menghadapi PTM full. Baik dari segi protokol kesehatan maupun fasilitas penunjangnya, serta ketaatan para murid dan tenaga pendidik dalam melaksanakan protokol kesehatan.

Selain itu, diperlukan banyak ruang-ruang untuk tetap menghindari adanya kerumunan. Hal-hal itu harus sangat diperhatikan, agar tidak menjadi peluang munculnya masalah baru di masa pandemi Covid-19 ini.

Pada akhirnya, kebijakan baru dari Kemendikbud Ristek mengenai diberlakukannya PTM full ini, harus disikapi bersama dengan penuh antusias dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Harapannya dengan kebijakan baru ini, KBM bisa kembali normal dan tujuan pemulihan pendidikan yang ingin dicapai bisa terwujud. (*)

SUDAH hampir dua tahun para siswa maupun tenaga pendidik menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring akibat pandemi Covid-19. KBM secara daring dinilai kurang efektif dalam penyampaian dan proses penerimaan materi pelajaran. Selain itu, KBM secara daring juga berpengaruh terhadap tingginya tingkat stres dan kejenuhan para siswa dan tenaga pendidik.

Keadaan pandemi Covid-19 di Indonesia yang berangsur membaik dan tingkat kasus yang cenderung tidak mengalami pelonjakan tajam, menjadikan pemerintah Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) mengumumkan aturan baru mengenai pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen. Dengan maksimal durasi enam jam pelajaran.

Tentu saja, keputusan tersebut berdasarkan hasil musyawarah yang matang dan dengan memperhatikan beberapa risiko yang akan terjadi. Situasi pandemi Covid-19 yang mulai terkendali menumbuhkan pula optimisme untuk bersama memulihkan pendidikan demi masa depan anak-anak Indonesia.

Dalam aturan terbaru yang diumumkan Kemendikbud Ristek, juga menyebutkan beberapa kriteria daerah level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Selain itu, jumlah pendidik dan tenaga kependidikan yang telah divaksin, serta ketentuan kapasitas PTM dan durasi jam pelajarannya.

Kebijakan baru ini, tentu saja menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Terutama para orang tua. Pihak yang pro diadakan PTM full ini, memiliki anggapan bahwa pembelajaran bisa menjadi lebih efektif. Utamanya dalam penyerapan materi dan ilmu-ilmu baru.

Selain itu, siswa juga bisa kembali merasakan suasana belajar mengajar di sekolah dan dapat bertemu serta bersosialisasi dengan teman-teman sekolahnya. Rasa jenuh dan bosan melaksanakan pembelajaran secara daring juga menjadi alasan tersendiri bagi pihak yang pro terhadap kebijakan ini.

Baca Juga :  Asyiknya Belajar dengan Picture and Picture

Sedangkan bagi pihak yang kontra beranggapan adanya kebijakan PTM full ini, bisa menyebabkan risiko pelonjakan kasus lagi. Apalagi munculnya virus korona varian baru omicron yang menjadi kekhawatiran bagi masyarakat. Selain itu, mereka juga mengkhawatirkan mengenai kurang tegasnya protokol kesehatan yang ada di sekolah.

Kebijakan adanya PTM pada masa pandemi sebenarnya sebelumnya telah diterapkan beberapa sekolah. Namun, dari segi jumlahnya pelaksanaan masih dibatasi dan tidak dilakukan secara 100 persen.

Adanya kebijakan baru PTM full ini, tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para tenaga pendidik. Tantangan tersebut banyaknya persiapan yang harus dipersiapkan sekolah untuk menghadapi PTM full. Baik dari segi protokol kesehatan maupun fasilitas penunjangnya, serta ketaatan para murid dan tenaga pendidik dalam melaksanakan protokol kesehatan.

Selain itu, diperlukan banyak ruang-ruang untuk tetap menghindari adanya kerumunan. Hal-hal itu harus sangat diperhatikan, agar tidak menjadi peluang munculnya masalah baru di masa pandemi Covid-19 ini.

Pada akhirnya, kebijakan baru dari Kemendikbud Ristek mengenai diberlakukannya PTM full ini, harus disikapi bersama dengan penuh antusias dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Harapannya dengan kebijakan baru ini, KBM bisa kembali normal dan tujuan pemulihan pendidikan yang ingin dicapai bisa terwujud. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/