alexametrics
25.2 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Pendidikan Karakter di SD pada Masa Pandemi Covid-19

COVID-19 memberikan efek kejut disemua lini kehidupan. Salah satunya adalah pendidikan. Setelah Indonesia dinyatakan sebagai negara yang terjangkit Covid-19 terdapat perubahan yang besar dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pembelajaran yang awalnya diselenggarakan di sekolah bergeser ke rumah masing-masing.

Di masa pandemi Covid-19, guru harus tetap mengajar dengan mengindahkan kerjadari rumah. Situasi pembelajaran dengan kondisi guru dan siswa berada di lokasi dansituasi yang berbeda pada dasarnya belum pernah disimulasikan dan dilatih secara spesifik. Kalaupun ada biasanya terkesan mendadak dan terbatas. Berbeda dengan pembelajaran di sekolah, guru mengajar di ruang kelas. Di kelas, guru sudah mendapatkan bekal pembelajaran yang di dalamnya memuat persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.

Implementasi pembelajaran dari rumah tidak semudah membalikkan tangan. Banyak reaksi yang timbul dari siswa dan orang tua. Banyak siswa yang mengeluh karena mereka merasa bosan belajar dengan sistem dalam jaringan (daring), siswa merasa dikejar-kejar oleh tugas yang menumpuk, jaringan internet yang terbatas, serta kesenjangan antara kota dan desa yang belum siap dengan pembelajaran berbasis daring. Masalah ini sering menjadi sorotan sehingga kerap muncul di permukaan.


Ada satu hal yang tidak kalah penting dalam pendidikan di Indonesia, bahkan menjadi amanah Undang-Undang Sisdiknas, amanah tersebut adalah pendidikan karakter. Pendidikan sejatinya bukanlah transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik semata. Pendidikan seyogyanya menempatkan pendidikan budi pekerti sebagaimana yang dipesankan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Arus utama pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan, khususnya Pendidikan dasar. Peserta didik jenjang Sekolah Dasar sangat membutuhkan pendidikan karakter untuk kebutuhan perkembangannya. Mempersiapkan generasi yang baik sama halnya dengan menanamkan kesejahteraan untuk masa depan. Anakanak yang sekarang tumbuh dan berkembang merupakan cerminan masa depan. Artinya pendididikan karakter bagi anak SD mutlak diberikan.

Baca Juga :  Pentingnya Wahana Penyalur Pesan dalam Pembelajaran

Belajar dari rumah atau pembelajaran daring adalah pilihan yang terbaik dari pilihan yang ada. Artinya bukan berarti kebijakan ini kebijakan yang salah. Pada dasarnya tidak ada yang menghendaki kebijakan belajar di rumah. Pandemi Covid-19 membuat situasi belajar mengajar dari ruang kelas dialihkan sementara dari rumah masing-masing, sampai pada situasi pulih dan kembali pada kondisi semula. Kebijakan belajar dari rumah merupakan kebijakan solusi alternatif, maka sudah pasti memiliki kekurangan.

Kesiapan guru dan siswa dalam menjalani pembelajaran daring sudah banyak dibincangkan. Namun ada hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam perbincangan tersebut yakni karakter. Pendidikan karakter merupakan sistem penanaman nilai karakter kepada warga sekolah. Artinya watak atau kepribadian yang baik harus dimiliki oleh setiap individu. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, seseorang dapat dikenal baik atau buruk berdasarkan watak atau karakternya.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan karakter ada tiga, yakni melalui perencanaan, implementasi dan monitoring atau evaluasi. Dalam penjelasannya, perencanaan dapat berupa rencana sekolah dalam menyiapkan tersenggaranya pendidikan karakter. Sementara pada proses implementasi yakni pada pembelajaran di sekolah. Pada tahap monitoring dan evaluasi yakni memantau proses implementasi pendidikan karakter yang terfokus pada program.

Pendidikan karakter pada jenjang sekolah dasar menjadi pondasi yang menentukan masa depan siswa. Anak harus tumbuh dengan bekal pendidikan karakter. Hasil dari gambaran pendidikan karakter di masa pandemi Covid-19 dapat dijadikan evaluasi dan refleksi penyelenggaraan pendidikan karekter di masa pandemi Covid-19. (*)

COVID-19 memberikan efek kejut disemua lini kehidupan. Salah satunya adalah pendidikan. Setelah Indonesia dinyatakan sebagai negara yang terjangkit Covid-19 terdapat perubahan yang besar dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pembelajaran yang awalnya diselenggarakan di sekolah bergeser ke rumah masing-masing.

Di masa pandemi Covid-19, guru harus tetap mengajar dengan mengindahkan kerjadari rumah. Situasi pembelajaran dengan kondisi guru dan siswa berada di lokasi dansituasi yang berbeda pada dasarnya belum pernah disimulasikan dan dilatih secara spesifik. Kalaupun ada biasanya terkesan mendadak dan terbatas. Berbeda dengan pembelajaran di sekolah, guru mengajar di ruang kelas. Di kelas, guru sudah mendapatkan bekal pembelajaran yang di dalamnya memuat persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.

Implementasi pembelajaran dari rumah tidak semudah membalikkan tangan. Banyak reaksi yang timbul dari siswa dan orang tua. Banyak siswa yang mengeluh karena mereka merasa bosan belajar dengan sistem dalam jaringan (daring), siswa merasa dikejar-kejar oleh tugas yang menumpuk, jaringan internet yang terbatas, serta kesenjangan antara kota dan desa yang belum siap dengan pembelajaran berbasis daring. Masalah ini sering menjadi sorotan sehingga kerap muncul di permukaan.

Ada satu hal yang tidak kalah penting dalam pendidikan di Indonesia, bahkan menjadi amanah Undang-Undang Sisdiknas, amanah tersebut adalah pendidikan karakter. Pendidikan sejatinya bukanlah transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik semata. Pendidikan seyogyanya menempatkan pendidikan budi pekerti sebagaimana yang dipesankan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Arus utama pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendidikan, khususnya Pendidikan dasar. Peserta didik jenjang Sekolah Dasar sangat membutuhkan pendidikan karakter untuk kebutuhan perkembangannya. Mempersiapkan generasi yang baik sama halnya dengan menanamkan kesejahteraan untuk masa depan. Anakanak yang sekarang tumbuh dan berkembang merupakan cerminan masa depan. Artinya pendididikan karakter bagi anak SD mutlak diberikan.

Baca Juga :  Pembelajaran Kimia Berbasis Kependudukan

Belajar dari rumah atau pembelajaran daring adalah pilihan yang terbaik dari pilihan yang ada. Artinya bukan berarti kebijakan ini kebijakan yang salah. Pada dasarnya tidak ada yang menghendaki kebijakan belajar di rumah. Pandemi Covid-19 membuat situasi belajar mengajar dari ruang kelas dialihkan sementara dari rumah masing-masing, sampai pada situasi pulih dan kembali pada kondisi semula. Kebijakan belajar dari rumah merupakan kebijakan solusi alternatif, maka sudah pasti memiliki kekurangan.

Kesiapan guru dan siswa dalam menjalani pembelajaran daring sudah banyak dibincangkan. Namun ada hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam perbincangan tersebut yakni karakter. Pendidikan karakter merupakan sistem penanaman nilai karakter kepada warga sekolah. Artinya watak atau kepribadian yang baik harus dimiliki oleh setiap individu. Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, seseorang dapat dikenal baik atau buruk berdasarkan watak atau karakternya.

Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengembangkan karakter ada tiga, yakni melalui perencanaan, implementasi dan monitoring atau evaluasi. Dalam penjelasannya, perencanaan dapat berupa rencana sekolah dalam menyiapkan tersenggaranya pendidikan karakter. Sementara pada proses implementasi yakni pada pembelajaran di sekolah. Pada tahap monitoring dan evaluasi yakni memantau proses implementasi pendidikan karakter yang terfokus pada program.

Pendidikan karakter pada jenjang sekolah dasar menjadi pondasi yang menentukan masa depan siswa. Anak harus tumbuh dengan bekal pendidikan karakter. Hasil dari gambaran pendidikan karakter di masa pandemi Covid-19 dapat dijadikan evaluasi dan refleksi penyelenggaraan pendidikan karekter di masa pandemi Covid-19. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/