alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Tantangan Pendidikan Islam Masa Kini

SEIRING dengan perkembangan zaman, tantangan dan hambatan pendidikan Islam juga terus mengalami perkembangan dan perubahan. Jika pada beberapa dekade silam percakapan akrab antara peserta didik dengan guru terasa tabu, maka hari ini justru merupakan hal yang wajar. Bahkan dalam pandangan teori pendidikan modern, hal itu merupakan   sebuah   keharusan.   Interaksi   semacam   itu   justru   menjadi   indikasi keberhasilan proses pendidikan.

Pergeseran paradigma lainnya misalnya dalam  hal pendekatan pembelajaran. Pada era pendidikan Islam tradisional, guru menjadi figur sentral dalam kegiatan pembelajaran. Ia merupakan sumber pengetahuan utama di dalam kelas, bahkan dapat dikatakan satu-satunya. Namun dalam konteks pendidikan Islam modern, hal demikian tidak berlaku lagi. Peran guru hari ini telah mengalami pergeseran, yakni sebagai fasilitator bagi peserta didik. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered), namun lebih berpusat pada peserta didik (student centered).

Pergeseran dan perubahan sebagaimana sedikit digambarkan di atas, merupakan keniscayaan yang tidak terelakkan. Hal ini disebabkan dari waktu ke waktu tuntutan dan kebutuhan manusia terus mengalami perubahan. Hari ini, pengetahuan luas saja tidak bisa   menjamin   seorang   lulusan   dapat   bicara   banyak   dalam   persaingan   global. Diperlukan pula keahlian spesifik yang selaras dengan kebutuhan lapangan. Jika tidak demikian, maka lulusan pendidikan akan terlindas dan tersingkirkan. Lebih-lebih saat ini dunia telah memasuki era baru, yakni Era Revolusi Industri 4.0.


Era Revolusi Industri 4.0 (selanjutnya: Era 4.0) membawa dampak yang tidak sederhana. Ia berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam hal ini adalah pendidikan. Era ini ditandai dengan semakin sentralnya peran teknologi cyber dalam kehidupan manusia. Maka tak heran jika dalam dunia pendidikan muncul istilah “Pendidikan 4.0”.

Baca Juga :  Museum Kretek sebagai Sumber Belajar Sejarah Kretek di Kudus

Pendidikan 4.0 (Education 4.0) adalah istilah umum digunakan oleh para ahli pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mngintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0 yang menurut Jeff Borden mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan. Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan   munculnya   revolusi   industri   keempat   dimana   manusia   dan   mesin diselaraskan   untuk   mendapatkan   solusi,   memecahkan   masalah   dan   tentu   saja menemukan kemungkinan inovasi baru.

Lalu bagaimana Pendidikan Islam menghadapi revolusi ini? Bagaimana ia memanfaatkan  peluang  yang  ada  dan  sekaligus  pada  saat  yang  sama  menjawab tantangan dan mengatasi hambatan yang tidak sederhana? Tulisan ini berusaha untuk memotret dinamika Pendidikan Islam di Era 4.0 dan memetakan strenght, weakness, opportunity, dan threat (SWOT)

Memasuki era disrupsi ini, pendidikan Islam dituntut untuk lebih peka terhadap gejala-gejala perubahan sosial masyarakat. Pendidikan Islam harus mau mendisrupsi diri jika ingin memperkuat eksistensinya. Bersikukuh dengan cara dan sistem lama dan menutup diri dari perkembangan dunia, akan semakin membuat pendidikan Islam kian terpuruk dan usang (obsolet). Maka dari itu, terdapat tiga hal yang harus diupayakan oleh  pendidikan  Islam,  yaitu  mengubah  mindset  lama  yang  terkungkung  aturan birokratis, menjadi mindset disruptif (disruptive mindset) yang mengedepankan cara- cara yang korporatif. Pendidikan Islam juga harus melakukan self-driving agar mampu melakukan inovasi-inovasi sesuai dengan tuntutan era 4.0. Selain itu, pendidikan Islam juga harus melakukan reshape or create terhadap segenap aspek di dalamnya  agar selalu kontekstual terhadap tuntutan dan perubahan. (*)

SEIRING dengan perkembangan zaman, tantangan dan hambatan pendidikan Islam juga terus mengalami perkembangan dan perubahan. Jika pada beberapa dekade silam percakapan akrab antara peserta didik dengan guru terasa tabu, maka hari ini justru merupakan hal yang wajar. Bahkan dalam pandangan teori pendidikan modern, hal itu merupakan   sebuah   keharusan.   Interaksi   semacam   itu   justru   menjadi   indikasi keberhasilan proses pendidikan.

Pergeseran paradigma lainnya misalnya dalam  hal pendekatan pembelajaran. Pada era pendidikan Islam tradisional, guru menjadi figur sentral dalam kegiatan pembelajaran. Ia merupakan sumber pengetahuan utama di dalam kelas, bahkan dapat dikatakan satu-satunya. Namun dalam konteks pendidikan Islam modern, hal demikian tidak berlaku lagi. Peran guru hari ini telah mengalami pergeseran, yakni sebagai fasilitator bagi peserta didik. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered), namun lebih berpusat pada peserta didik (student centered).

Pergeseran dan perubahan sebagaimana sedikit digambarkan di atas, merupakan keniscayaan yang tidak terelakkan. Hal ini disebabkan dari waktu ke waktu tuntutan dan kebutuhan manusia terus mengalami perubahan. Hari ini, pengetahuan luas saja tidak bisa   menjamin   seorang   lulusan   dapat   bicara   banyak   dalam   persaingan   global. Diperlukan pula keahlian spesifik yang selaras dengan kebutuhan lapangan. Jika tidak demikian, maka lulusan pendidikan akan terlindas dan tersingkirkan. Lebih-lebih saat ini dunia telah memasuki era baru, yakni Era Revolusi Industri 4.0.

Era Revolusi Industri 4.0 (selanjutnya: Era 4.0) membawa dampak yang tidak sederhana. Ia berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam hal ini adalah pendidikan. Era ini ditandai dengan semakin sentralnya peran teknologi cyber dalam kehidupan manusia. Maka tak heran jika dalam dunia pendidikan muncul istilah “Pendidikan 4.0”.

Baca Juga :  Manfaat dari Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Pendidikan 4.0 (Education 4.0) adalah istilah umum digunakan oleh para ahli pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara untuk mngintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0 yang menurut Jeff Borden mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan. Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan   munculnya   revolusi   industri   keempat   dimana   manusia   dan   mesin diselaraskan   untuk   mendapatkan   solusi,   memecahkan   masalah   dan   tentu   saja menemukan kemungkinan inovasi baru.

Lalu bagaimana Pendidikan Islam menghadapi revolusi ini? Bagaimana ia memanfaatkan  peluang  yang  ada  dan  sekaligus  pada  saat  yang  sama  menjawab tantangan dan mengatasi hambatan yang tidak sederhana? Tulisan ini berusaha untuk memotret dinamika Pendidikan Islam di Era 4.0 dan memetakan strenght, weakness, opportunity, dan threat (SWOT)

Memasuki era disrupsi ini, pendidikan Islam dituntut untuk lebih peka terhadap gejala-gejala perubahan sosial masyarakat. Pendidikan Islam harus mau mendisrupsi diri jika ingin memperkuat eksistensinya. Bersikukuh dengan cara dan sistem lama dan menutup diri dari perkembangan dunia, akan semakin membuat pendidikan Islam kian terpuruk dan usang (obsolet). Maka dari itu, terdapat tiga hal yang harus diupayakan oleh  pendidikan  Islam,  yaitu  mengubah  mindset  lama  yang  terkungkung  aturan birokratis, menjadi mindset disruptif (disruptive mindset) yang mengedepankan cara- cara yang korporatif. Pendidikan Islam juga harus melakukan self-driving agar mampu melakukan inovasi-inovasi sesuai dengan tuntutan era 4.0. Selain itu, pendidikan Islam juga harus melakukan reshape or create terhadap segenap aspek di dalamnya  agar selalu kontekstual terhadap tuntutan dan perubahan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/