alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Mengembangkan Soal HOTS

KURIKULUM 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dengan kompetensi dasar (KD) sebagai kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik. Untuk mengetahui ketercapaian KD, pendidik harus merumuskan sejumlah indikator pencapaian kompetensi (IPK). IPK ini digunakan sebagai acuan penilaian. Pendidik atau satuan pendidikan juga harus menentukan pencapaian kriteria ketuntasan minimal.

Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang, ketika orang tersebut dihadapkan pada situasi atau suatu permasalahan yang harus dipecahkan. Berpikir selalu berkaitan dengan proses mengeksplorasi gagasan, membentuk berbagai kemungkinan yang bervariasi untuk dapat menemukan solusi.

Salah satu taksonomi proses berpikir yang diacu secara luas adalah taksonomi Bloom dan telah direvisi Anderson & Krathwohl (2001). Dalam taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan ada 6 level proses berpikir, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mengkreasi (creating).


Anderson dan Krathwohl mengategorikan kemampuan proses menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating) termasuk berpikir tingkat tinggi. Menganalisis adalah kemampuan menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga diperoleh makna yang lebih dalam.

Pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS (higher order thinking skills) yang membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokan KKO. Sebagai contoh, kata kerja ”menentukan” pada Taksonomi Bloom ada pada ranah memahami dan menerapkan. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ”menentukan” ada pada ranah mengevaluasi, apabila untuk menentukan keputusan yang didahului dengan proses berpikir dan menganalisa informasi yang disajikan pada stimulus. Lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan, kata kerja ”menentukan” bisa digolongkan mengkreasi apabila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional sangat dipengaruhi proses berpikir yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Baca Juga :  Peran Guru sebagai Motivator Belajar siswa

Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural. Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

Agar dapat merumuskan butir soal HOTS, guru harus menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan stimulus dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Paparan materi yang menuntut penalaran tinggi tidak selalu ada dalam buku pembelajaran. Untuk itu, dalam pembuatan soal HOTS diperlukan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis konstruksi soal, dan kreativitas guru dalam memilih stimulus sesuai karakteristik daerah atau keadaan di sekitar sekolah.

Langkah-langkah pengembangan soal-soal HOTS meliputi, pertama, menganalisis kompetensi dasar yang dapat dibuat soal-soal HOTS, karena tidak semua kompetensi dasar dapat dijadikan model-model soal HOTS. Kedua, menyusun kisi-kisi soal, bertujuan untuk membantu guru dalam menulis butir soal.

Ketiga, memilih stimulus yang menarik dan kontekstual. Stimulus belum pernah dibaca, sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, dan mendorong peserta didik untuk membaca. Keempat, menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal. Kelima, membuat pedoman penskoran dan kunci jawaban. (*)

KURIKULUM 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dengan kompetensi dasar (KD) sebagai kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik. Untuk mengetahui ketercapaian KD, pendidik harus merumuskan sejumlah indikator pencapaian kompetensi (IPK). IPK ini digunakan sebagai acuan penilaian. Pendidik atau satuan pendidikan juga harus menentukan pencapaian kriteria ketuntasan minimal.

Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang, ketika orang tersebut dihadapkan pada situasi atau suatu permasalahan yang harus dipecahkan. Berpikir selalu berkaitan dengan proses mengeksplorasi gagasan, membentuk berbagai kemungkinan yang bervariasi untuk dapat menemukan solusi.

Salah satu taksonomi proses berpikir yang diacu secara luas adalah taksonomi Bloom dan telah direvisi Anderson & Krathwohl (2001). Dalam taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan ada 6 level proses berpikir, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mengkreasi (creating).

Anderson dan Krathwohl mengategorikan kemampuan proses menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating) termasuk berpikir tingkat tinggi. Menganalisis adalah kemampuan menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga diperoleh makna yang lebih dalam.

Pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS (higher order thinking skills) yang membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokan KKO. Sebagai contoh, kata kerja ”menentukan” pada Taksonomi Bloom ada pada ranah memahami dan menerapkan. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ”menentukan” ada pada ranah mengevaluasi, apabila untuk menentukan keputusan yang didahului dengan proses berpikir dan menganalisa informasi yang disajikan pada stimulus. Lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan, kata kerja ”menentukan” bisa digolongkan mengkreasi apabila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional sangat dipengaruhi proses berpikir yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Baca Juga :  Dorongan Orang Tua Memotivasi Semangat Belajar Siswa

Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural. Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

Agar dapat merumuskan butir soal HOTS, guru harus menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan stimulus dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Paparan materi yang menuntut penalaran tinggi tidak selalu ada dalam buku pembelajaran. Untuk itu, dalam pembuatan soal HOTS diperlukan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis konstruksi soal, dan kreativitas guru dalam memilih stimulus sesuai karakteristik daerah atau keadaan di sekitar sekolah.

Langkah-langkah pengembangan soal-soal HOTS meliputi, pertama, menganalisis kompetensi dasar yang dapat dibuat soal-soal HOTS, karena tidak semua kompetensi dasar dapat dijadikan model-model soal HOTS. Kedua, menyusun kisi-kisi soal, bertujuan untuk membantu guru dalam menulis butir soal.

Ketiga, memilih stimulus yang menarik dan kontekstual. Stimulus belum pernah dibaca, sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, dan mendorong peserta didik untuk membaca. Keempat, menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal. Kelima, membuat pedoman penskoran dan kunci jawaban. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/