alexametrics
25.7 C
Kudus
Friday, July 1, 2022

Menanamkan Karakter Peduli Sosial pada Siswa SD

PANDEMI Covid-19 yang melanda hampir di seluruh dunia memang membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Tak terkecuali pada anak-anak. Di masa seperti sekarang ini, keseharian anak-anak juga turut berubah. Mereka tidak lagi sesering biasanya berinteraksi bersama dengan teman sebayanya. Namun, hal tersebut seharusnya tak lantas membuat mereka berhenti peduli terhadap sesamanya.

Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan manusia lain. Dan peduli sosial adalah bentuk sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain atau masyarakat yang saling membutuhkan. Kepedulian sosial ini, juga berterkaitan dengan beberapa nilai-nilai kehidupan manusia lain, seperti kejujuran, kasih sayang, kerendahan hati, keramahan, kebaikan, dan lain sebagainya (Suyadi dalam Setiawan, Vien dan Suryono, 2017).

Di dalam dunia pendidikan sendiri, penanaman peduli sosial menjadi salah satu dari 18 pendidikan karakter yang diatur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ini menjadi dasar untuk menguatkan momentum Indonesia kuat pada 2045. Maka di sinilah peran pendidik tidak dapat tergantikan. Sebab, pada dasarnya para pendidik mempunyai keharusan dalam penanaman karakter pada diri siswa. Terutama karakter peduli sosial pada peserta didik yang merupakan sebuah sikap kepekaan dalam bertindak untuk memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar yang membutuhakan (Hartono, 2014).


Sikap peduli sosial seperti itu, perlu dipupuk sedini mungkin. Sebab, sikap inilah yang pada akhirnya berperan dalam membentuk individu yang peka sosial. Berbicara soal kepedulian sosial pada anak-anak tentu tidak akan terlepas dari rentang usia sekolah dasar (SD). Di rentang usia seperti itu, anak-anak cenderung melakukan fotokopi perilaku orang-orang di sekitarnya. Tak terkecuali guru-guru di sekolahnya.

Sebelum pandemi para pendidik (mungkin) dapat dengan mudah menanamkan karakter peduli sosial di sekolah melalui kegiatan yang dilakukan secara bertahap dan kontinyu kepada peserta didik. Seperti infaq melalui program filantropis, menjenguk dan membantu teman yang mendapatkan musibah, takziah ke keluarga teman yang berduka, kemudian mengumpulkan bantuan untuk korban bencana alam sebagai rasa duka kepada sesama.

Baca Juga :  Pendidikan Karakter dengan Konsep ”Nguwongke Uwong”

Selama pandemi aktivitas kita menjadi terbatas. Tak leluasa seperti dulu. Namun, bukan berarti kegiatan-kegiatan sosial itu perlu kita hentikan. Justru seharusnya kegiatan-kegiatan seperti itu lebih dimasifkan. Apalagi banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Dengan adanya kegiatan sosial itu, juga diharapkan peserta didik mampu memahami betapa pentingnya berbagi meskipun di masa-masa serba sulit seperti sekarang ini.

Meskipun hal ini terlihat mudah, bisa jadi dalam pelaksanaannya akan mengalami beberapa kendala. Untuk itu, para pendidik perlu memperhatikan beberapa hal berikut dalam menanamkan kepedulian sosial dalam diri anak didiknya. Pertama, keteladanan. Seorang guru tidak hanya mengarahkan dan mengingatkan siswa untuk bertindak dan peduli terhadap sesama. Tetapi guru juga melakukan hal yang sama, sehingga dapat diambil sebagai teladan bagi peserta didik. Posisi guru kelas sebagai teladan dalam penanaman karakter sangatlah diutamakan. Karena keteladanan merupakan faktor utama dalam mensukseskan penanaman  karakter peduli sosial pada peserta didik.

Kedua, pembiasaan. Penanaman pendidikan karakter tidak dapat dilakukan secara instan. Sekolah dituntut untuk terus melakukan terobosan, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan menerapkan pembiasaan dari beberapa kegiatan secara kontinyu, diharapkan penanaman karakter sosial dapat berjalan maksimal.

Okeke and Drake dalam risetnya memberikan catatan jika posisi guru seharusnyan tidak hanya menyelesaikan kewajiban yang bersifat akademik. Namun, guru harus bisa menjadikan peserta didik sebagai individu yang berprilaku baik. Juga memiliki karakter sosial yang dapat diterima di masyarakat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan tentang seberapa penting menumbuhkan karakter peduli sosial pada anak. Terutama dalam lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik. Sebab, sekolah tidak hanya bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa, namun juga memiliki tanggung jawab moral serta sosial. (*)

PANDEMI Covid-19 yang melanda hampir di seluruh dunia memang membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Tak terkecuali pada anak-anak. Di masa seperti sekarang ini, keseharian anak-anak juga turut berubah. Mereka tidak lagi sesering biasanya berinteraksi bersama dengan teman sebayanya. Namun, hal tersebut seharusnya tak lantas membuat mereka berhenti peduli terhadap sesamanya.

Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan manusia lain. Dan peduli sosial adalah bentuk sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain atau masyarakat yang saling membutuhkan. Kepedulian sosial ini, juga berterkaitan dengan beberapa nilai-nilai kehidupan manusia lain, seperti kejujuran, kasih sayang, kerendahan hati, keramahan, kebaikan, dan lain sebagainya (Suyadi dalam Setiawan, Vien dan Suryono, 2017).

Di dalam dunia pendidikan sendiri, penanaman peduli sosial menjadi salah satu dari 18 pendidikan karakter yang diatur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Ini menjadi dasar untuk menguatkan momentum Indonesia kuat pada 2045. Maka di sinilah peran pendidik tidak dapat tergantikan. Sebab, pada dasarnya para pendidik mempunyai keharusan dalam penanaman karakter pada diri siswa. Terutama karakter peduli sosial pada peserta didik yang merupakan sebuah sikap kepekaan dalam bertindak untuk memberikan bantuan kepada masyarakat sekitar yang membutuhakan (Hartono, 2014).

Sikap peduli sosial seperti itu, perlu dipupuk sedini mungkin. Sebab, sikap inilah yang pada akhirnya berperan dalam membentuk individu yang peka sosial. Berbicara soal kepedulian sosial pada anak-anak tentu tidak akan terlepas dari rentang usia sekolah dasar (SD). Di rentang usia seperti itu, anak-anak cenderung melakukan fotokopi perilaku orang-orang di sekitarnya. Tak terkecuali guru-guru di sekolahnya.

Sebelum pandemi para pendidik (mungkin) dapat dengan mudah menanamkan karakter peduli sosial di sekolah melalui kegiatan yang dilakukan secara bertahap dan kontinyu kepada peserta didik. Seperti infaq melalui program filantropis, menjenguk dan membantu teman yang mendapatkan musibah, takziah ke keluarga teman yang berduka, kemudian mengumpulkan bantuan untuk korban bencana alam sebagai rasa duka kepada sesama.

Baca Juga :  Mewujudkan Student Wellbeing pada Anak Tunagrahita

Selama pandemi aktivitas kita menjadi terbatas. Tak leluasa seperti dulu. Namun, bukan berarti kegiatan-kegiatan sosial itu perlu kita hentikan. Justru seharusnya kegiatan-kegiatan seperti itu lebih dimasifkan. Apalagi banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Dengan adanya kegiatan sosial itu, juga diharapkan peserta didik mampu memahami betapa pentingnya berbagi meskipun di masa-masa serba sulit seperti sekarang ini.

Meskipun hal ini terlihat mudah, bisa jadi dalam pelaksanaannya akan mengalami beberapa kendala. Untuk itu, para pendidik perlu memperhatikan beberapa hal berikut dalam menanamkan kepedulian sosial dalam diri anak didiknya. Pertama, keteladanan. Seorang guru tidak hanya mengarahkan dan mengingatkan siswa untuk bertindak dan peduli terhadap sesama. Tetapi guru juga melakukan hal yang sama, sehingga dapat diambil sebagai teladan bagi peserta didik. Posisi guru kelas sebagai teladan dalam penanaman karakter sangatlah diutamakan. Karena keteladanan merupakan faktor utama dalam mensukseskan penanaman  karakter peduli sosial pada peserta didik.

Kedua, pembiasaan. Penanaman pendidikan karakter tidak dapat dilakukan secara instan. Sekolah dituntut untuk terus melakukan terobosan, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan menerapkan pembiasaan dari beberapa kegiatan secara kontinyu, diharapkan penanaman karakter sosial dapat berjalan maksimal.

Okeke and Drake dalam risetnya memberikan catatan jika posisi guru seharusnyan tidak hanya menyelesaikan kewajiban yang bersifat akademik. Namun, guru harus bisa menjadikan peserta didik sebagai individu yang berprilaku baik. Juga memiliki karakter sosial yang dapat diterima di masyarakat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan tentang seberapa penting menumbuhkan karakter peduli sosial pada anak. Terutama dalam lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik. Sebab, sekolah tidak hanya bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa, namun juga memiliki tanggung jawab moral serta sosial. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/