alexametrics
29.7 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Berani Bicara dengan TTA

TIME Token Arends disingkat TTA merupakan metode pembelajaraan kooperatif yang demokratis, menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Peserta didik harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas peserta didik menjadi perhatian utama. Dengan kata lain, mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru berperan sebagai motovator dan fasilitator, mengajak peserta didik mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang dihadapi.

Metode TTA digunakan untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial agar peserta didik tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Keberanian peserta didik dapat dikembangkan melalui penyampaian id-ide yang ada dalam pikirannya. Semua peserta didik harus berbicara.

Langkah-langkah pembelajaran dengan metode TTA adalah sebagai berikut. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal. Guru memberi tugas kepada peserta didik. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon kepada semua peserta didik. Guru meminta peserta didik menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Peserta didik dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan peserta didik lainnya. Peserta didik yang telah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi. Peserta didik yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua peserta didik berbicara. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan kepada setiap peserta didik.


Berikut adalah kelebihan penggunaan metode TTA dalam pembelajaran. Mendorong peserta didik untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya. Peserta didik tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Peserta didik menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi (aspek berbicara). Melatih peserta didik untuk mengungkapkan pendapatnya. Menumbuhkan kebiasaan pada peserta didik untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik. Melatih peserta didik untuk menghargai pendapat orang lain. Guru dapat berperan untuk mengajak peserta didik mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang dihadapi. Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.

Baca Juga :  Asyik Belajar Matematika melalui Model NHT

Kekurangan metode TTA yaitu tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah peserta didiknya banyak. Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran karena semua peserta didik harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya. Aktivitas peserta didik yang aktif  menjadi terbatas.

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas jumlah peserta didik dibatasi maksimal 18 peserta didik dalam tiap kelas. Ini memungkinkan untuk dilaksanakan pembelajaran dengan metode TTA. Rencana penerapan metode TTA yaitu untuk belajar tema 3 subtema 3 pembelajaran 5 di kelas VI SD Negeri 3 Suru. Materi pembelajaran terkait rambu-rambu lalu lintas. Peserta didik diajak untuk mengidentifikasi kosakata tidak baku di dalam wacana, lalu menentukan bentuk bakunya. Selanjutnya memberikan contoh sikap menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik di jalan raya dan contoh yang tidak. Selain itu peserta didik juga diajak untuk mengenali dan memahami makna rambu-rambu lalu lintas.

Melalui TTA semua peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk berbicara. Yang awalnya pasif akhirya berani juga untuk berbicara. Berikan apresiasi positif untuk keberaniannya. Jika ada yang belum sesuai harapan, luruskan agar menjadi benar tanpa harus mematahkan semangatnya.

Berani bicara itu hebat, bicara benar akan lebih hebat. (*)

TIME Token Arends disingkat TTA merupakan metode pembelajaraan kooperatif yang demokratis, menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar. Peserta didik harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas peserta didik menjadi perhatian utama. Dengan kata lain, mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru berperan sebagai motovator dan fasilitator, mengajak peserta didik mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang dihadapi.

Metode TTA digunakan untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial agar peserta didik tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Keberanian peserta didik dapat dikembangkan melalui penyampaian id-ide yang ada dalam pikirannya. Semua peserta didik harus berbicara.

Langkah-langkah pembelajaran dengan metode TTA adalah sebagai berikut. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal. Guru memberi tugas kepada peserta didik. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon kepada semua peserta didik. Guru meminta peserta didik menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Peserta didik dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan peserta didik lainnya. Peserta didik yang telah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi. Peserta didik yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua peserta didik berbicara. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan kepada setiap peserta didik.

Berikut adalah kelebihan penggunaan metode TTA dalam pembelajaran. Mendorong peserta didik untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya. Peserta didik tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Peserta didik menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi (aspek berbicara). Melatih peserta didik untuk mengungkapkan pendapatnya. Menumbuhkan kebiasaan pada peserta didik untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik. Melatih peserta didik untuk menghargai pendapat orang lain. Guru dapat berperan untuk mengajak peserta didik mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang dihadapi. Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.

Baca Juga :  Problem Based Learning (PBL) Tingkatkan Keaktifan Belajar

Kekurangan metode TTA yaitu tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah peserta didiknya banyak. Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran karena semua peserta didik harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya. Aktivitas peserta didik yang aktif  menjadi terbatas.

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas jumlah peserta didik dibatasi maksimal 18 peserta didik dalam tiap kelas. Ini memungkinkan untuk dilaksanakan pembelajaran dengan metode TTA. Rencana penerapan metode TTA yaitu untuk belajar tema 3 subtema 3 pembelajaran 5 di kelas VI SD Negeri 3 Suru. Materi pembelajaran terkait rambu-rambu lalu lintas. Peserta didik diajak untuk mengidentifikasi kosakata tidak baku di dalam wacana, lalu menentukan bentuk bakunya. Selanjutnya memberikan contoh sikap menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik di jalan raya dan contoh yang tidak. Selain itu peserta didik juga diajak untuk mengenali dan memahami makna rambu-rambu lalu lintas.

Melalui TTA semua peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk berbicara. Yang awalnya pasif akhirya berani juga untuk berbicara. Berikan apresiasi positif untuk keberaniannya. Jika ada yang belum sesuai harapan, luruskan agar menjadi benar tanpa harus mematahkan semangatnya.

Berani bicara itu hebat, bicara benar akan lebih hebat. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/