alexametrics
25.9 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Pembelajaran Bahasa Jawa dengan Cooperative Learning

PEMBELAJARAN bahasa Jawa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dengan harapan akan lebih mengangkat nilai adi luhung yang ada dalam tata kehidupan Jawa, seperti toleransi, kasih sayang, gotong royong, rendah hati, kemanusiaan, nilai hormat, tahu berterima kasih, dan lainnya. Melalui pembelajaran bahasa Jawa itu pula diharapkan akan dapat melestarikan bahasa Jawa serta mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini, khususnya bahasa di Jawa Tengah yang terkait dengan bahasa Jawa.

Anton Moeliono (2008: 36) menyatakan pembelajaran Bahasa Jawa diarahkan pada tiga fungsi pokok, yaitu alat komunikasi, edukatif, dan kultural. Alat komunikasi diarahkan agar siswa dapat menggunakan Bahasa Jawa secara baik dan benar untuk keperluan alat berinteraksi dalam keluarga dan masyarakat. Fungsi edukatif diarahkan agar siswa dapat memperoleh nilai-nilai budaya daerah untuk keperluan pembentukan kepribadian dan identitas bangsa. Fungsi kultural agar dapat menggali dan menanamkan kembali nilai-nilai budaya daerah sebagai upaya untuk membangun identitas dan menananmkan filter dalam menyeleksi pengaruh budaya luar.

Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Lingkup program pembelajaran bahasa Jawa meliputi penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami mengapresiasi sastra dan kemampuan menggunakan bahasa Jawa dengan tiga ragam bahasa yaitu ngoko, madya, dan krama.


Dalam upaya memenuhi kebutuhan belajar anak usia SD, khususnya bagi kelas rendah maka pembelajaran kooperatif menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Melalui pembelajaran koorperatif, sajian materi akan dapat dipahami secara mudah dengan cara mengkonstruksi pemahaman konsep melalui kerja berkelompok. Dalam hal ini, siswa akan memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi diri untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri atau pun kelompok.

Karakteristik anak usia SD merupakan salah satu pertimbangan bagi para guru untuk memilih metode pembelajaran. Metode yang dipilih hendaknya metode yang mampu memenuhi kebutuhan anak, yakni memungkinkan anak untuk bergerak atau berpindah tempat; sarat dengan permainan-permainan; memberikan anak kesempatan untuk belajar atau bekerja secara kelompok; memberikan anak kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses belajar.

Baca Juga :  Mudahnya Belajar dengan Google Classroom saat Pandemi

Metode-metode pembelajaran kooperatif yang dapat dikembangkan antara lain Student Team Achievement Division (STAD), Jigsaw, Team-Games-Tournaments (TGT), Group Investigation (GI), Make a Mattch (Mencari Pasangan), Think Pair Share (TPS), dan sebagainya. Metode-metode tersebut tepat diterapkan bagi siswa SD khususnya kelas rendah. Hal ini sejalan dengan perkembangan psikologi anak usia SD yang baru senang bergerak, senang bermain, senang melakukan sesuatu secara langsung, dan senang bekerja dalam kelompok.

Jika model pembelajaran kooperatif ini diterapkan secara maksimal, materi-materi tembang macapat, aksara Jawa, cerita wayang, bahasa ragam ngoko-krama yang pada umumnya masuk dalam kategori materi sulit dalam pelajaran bahasa Jawa akan mampu dikuasai oleh siswa secara optimal. Selain itu, minat untuk mempelajari setiap materi yang dihadapi cenderung lebih tinggi karena setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk menguasai kompetensi tersebut. Pengalaman ketika melaksanakan berbagai kegiatan itulah yang akan selalu terekam dalam memori siswa. Setiap proses pembelajarn yang terarah, terbimbing dan banyak melibatkan aktivitas siswa secara langsung akan bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, tidak akan lagi muncul asumsi bahwa belajar bahasa Jawa itu sulit dan membosankan. Muatan nilai-nilai luhur yang mejadi warisan budaya dapat dicerna dan dipahami oleh siswa dalam rangka pembentukan karakter untuk mencintai budaya daerah.

Tidak ada yang sulit jika kita mau berusaha. Semoga bermanfaat. (*)

PEMBELAJARAN bahasa Jawa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dengan harapan akan lebih mengangkat nilai adi luhung yang ada dalam tata kehidupan Jawa, seperti toleransi, kasih sayang, gotong royong, rendah hati, kemanusiaan, nilai hormat, tahu berterima kasih, dan lainnya. Melalui pembelajaran bahasa Jawa itu pula diharapkan akan dapat melestarikan bahasa Jawa serta mengangkat nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki bangsa ini, khususnya bahasa di Jawa Tengah yang terkait dengan bahasa Jawa.

Anton Moeliono (2008: 36) menyatakan pembelajaran Bahasa Jawa diarahkan pada tiga fungsi pokok, yaitu alat komunikasi, edukatif, dan kultural. Alat komunikasi diarahkan agar siswa dapat menggunakan Bahasa Jawa secara baik dan benar untuk keperluan alat berinteraksi dalam keluarga dan masyarakat. Fungsi edukatif diarahkan agar siswa dapat memperoleh nilai-nilai budaya daerah untuk keperluan pembentukan kepribadian dan identitas bangsa. Fungsi kultural agar dapat menggali dan menanamkan kembali nilai-nilai budaya daerah sebagai upaya untuk membangun identitas dan menananmkan filter dalam menyeleksi pengaruh budaya luar.

Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Lingkup program pembelajaran bahasa Jawa meliputi penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami mengapresiasi sastra dan kemampuan menggunakan bahasa Jawa dengan tiga ragam bahasa yaitu ngoko, madya, dan krama.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan belajar anak usia SD, khususnya bagi kelas rendah maka pembelajaran kooperatif menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Melalui pembelajaran koorperatif, sajian materi akan dapat dipahami secara mudah dengan cara mengkonstruksi pemahaman konsep melalui kerja berkelompok. Dalam hal ini, siswa akan memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi diri untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri atau pun kelompok.

Karakteristik anak usia SD merupakan salah satu pertimbangan bagi para guru untuk memilih metode pembelajaran. Metode yang dipilih hendaknya metode yang mampu memenuhi kebutuhan anak, yakni memungkinkan anak untuk bergerak atau berpindah tempat; sarat dengan permainan-permainan; memberikan anak kesempatan untuk belajar atau bekerja secara kelompok; memberikan anak kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses belajar.

Baca Juga :  Skill Baca Alquran Meningkat dengan Metode Tahsin WA

Metode-metode pembelajaran kooperatif yang dapat dikembangkan antara lain Student Team Achievement Division (STAD), Jigsaw, Team-Games-Tournaments (TGT), Group Investigation (GI), Make a Mattch (Mencari Pasangan), Think Pair Share (TPS), dan sebagainya. Metode-metode tersebut tepat diterapkan bagi siswa SD khususnya kelas rendah. Hal ini sejalan dengan perkembangan psikologi anak usia SD yang baru senang bergerak, senang bermain, senang melakukan sesuatu secara langsung, dan senang bekerja dalam kelompok.

Jika model pembelajaran kooperatif ini diterapkan secara maksimal, materi-materi tembang macapat, aksara Jawa, cerita wayang, bahasa ragam ngoko-krama yang pada umumnya masuk dalam kategori materi sulit dalam pelajaran bahasa Jawa akan mampu dikuasai oleh siswa secara optimal. Selain itu, minat untuk mempelajari setiap materi yang dihadapi cenderung lebih tinggi karena setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk menguasai kompetensi tersebut. Pengalaman ketika melaksanakan berbagai kegiatan itulah yang akan selalu terekam dalam memori siswa. Setiap proses pembelajarn yang terarah, terbimbing dan banyak melibatkan aktivitas siswa secara langsung akan bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, tidak akan lagi muncul asumsi bahwa belajar bahasa Jawa itu sulit dan membosankan. Muatan nilai-nilai luhur yang mejadi warisan budaya dapat dicerna dan dipahami oleh siswa dalam rangka pembentukan karakter untuk mencintai budaya daerah.

Tidak ada yang sulit jika kita mau berusaha. Semoga bermanfaat. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/