alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Membekali Siswa Pendidikan Kewirausahaan

SEBAGAI pendidik dalam memberikan pengajaran memang harus sesuai kurikulum. Kurikulum bisa dikembangkan sesuai kebutuhan siswa. Saat ini, pendidikan di sekolah lebih menitikberatkan pada kemampuan kognitif, walaupun afektif maupun pksikomotorik juga sebagai acuan pengajaran sebagaimana yang telah diungkapkan Agus Wibowo dari Jakarta State University. Ia berpendapat, pendidikan sekarang di berbagai jenjang amat menitikberatkan pada aspek kognitif, bukan afektif maupun psikomotorik.

Demi mendorong ke-mandeg-an pendidikan formal itulah, Agus menyarankan agar pendidikan kewirausahaan bisa melandasi arahan pendidikan nasional. Dengan mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai kewirausahaan, pendidikan nasional bakal melahirkan lulusan yang mandiri, kreatif, dan inovatif. Sebagai proyek pembangunan sumber daya manusia, pendidikan kewirausahaan akan mengangkat derajat para siswa maupun mahasiswa. Lulusan sekolah dan perguruan tinggi kelak terhindar dari bahaya pengangguran. Sebab, mereka berani dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Munculnya pemikiran bahwa siswa perlu dibekali pendidikan kewirausahaan karena melihat kehidupan di masyarakat, baik yang punya pendidikan tinggi maupun rendah masih ada yang berkehidupan di bawah standar. Bagi yang tidak punya modal hanya mengandalkan tenaga mereka untuk mencari nafkah. Bagi yang berpendidikan tinggi, keinginan mereka hanya ingin jadi PNS atau bekerja di kantor.


Bagi sebagian orang yang punya keahlian dalam bidang yang lain, tidak bisa menggunakan secara optimal keahliannya itu untuk mencari nafkah. Bahkan, hanya digunakan sebagai hiburan, yang hanya memuaskan hati. Tapi tidak berpikir sebagai ajang mencari nafkah untuk keluarga.

Pendidikan kewirausahaan pada siswa dapat mengembangkan ekonomi dan perkembangan sosial, sesuai kemampuan yang mereka miliki, sehingga diharapkan siswa pada akhirnya bisa mandiri, disiplin, jujur, dan tekun dalam menghadapi masa depan. Siswa harus diberi pemahaman, pekerjaan yang baik tidak harus jadi PNS. Tanamkan pada mereka, segala sesuatu yang diperoleh dengan jalan halal itulah rezeki dari Allah yang terbaik.

Baca Juga :  Peningkatan Karakter Siswa melalui Salat Jamaah Duhur

Mengenai wirausaha atau perdagangan atau bisnis, Allah berfirman dalam Alquran Surat Al-Baqoroh ayat 275 yang artinya: ”Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Juga di QS. Annisa’ ayat 29: ”Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu”.

Pada penjelasan QS. Annisa’ayat 29 maupun dalam QS. Al Baqoroh 275, Allah mengisyaratkan, jual beli atau perdagangan adalah salah satu cara untuk mendapatkan rezeki. Itu halal asal dilakukan atas dasar suka sama suka. Tidak ada yang merasa dirugikan dari transaksi tersebut. Untuk itu, kita bekali siswa dengan ilmu dan ahlak.

Ilmu akan menuntun siswa bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara baik. Sesuai ahlak yang dituntunkan Rasulullah dalam berdagang. Kemudian, dengan ilmu fiqih yang menjelaskan tentang syarat dan rukun jual beli dalam Islam. Selain itu, ilmu ekonomi akan menjelaskan cara-cara berdagang atau teori berdagang supaya modal bisa bertambah dan tidak cepat habis.

Mencari rezeki merupakan sarana beramal saleh, bila diterapkan dengan jalan yang benar. Amal saleh yang disertai iman kepada Allah akan mengantarkan kita untuk mendapatkan pahala yang tiada terputus. Sesuai QS. At-Tin ayat 6. (*)

SEBAGAI pendidik dalam memberikan pengajaran memang harus sesuai kurikulum. Kurikulum bisa dikembangkan sesuai kebutuhan siswa. Saat ini, pendidikan di sekolah lebih menitikberatkan pada kemampuan kognitif, walaupun afektif maupun pksikomotorik juga sebagai acuan pengajaran sebagaimana yang telah diungkapkan Agus Wibowo dari Jakarta State University. Ia berpendapat, pendidikan sekarang di berbagai jenjang amat menitikberatkan pada aspek kognitif, bukan afektif maupun psikomotorik.

Demi mendorong ke-mandeg-an pendidikan formal itulah, Agus menyarankan agar pendidikan kewirausahaan bisa melandasi arahan pendidikan nasional. Dengan mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai kewirausahaan, pendidikan nasional bakal melahirkan lulusan yang mandiri, kreatif, dan inovatif. Sebagai proyek pembangunan sumber daya manusia, pendidikan kewirausahaan akan mengangkat derajat para siswa maupun mahasiswa. Lulusan sekolah dan perguruan tinggi kelak terhindar dari bahaya pengangguran. Sebab, mereka berani dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Munculnya pemikiran bahwa siswa perlu dibekali pendidikan kewirausahaan karena melihat kehidupan di masyarakat, baik yang punya pendidikan tinggi maupun rendah masih ada yang berkehidupan di bawah standar. Bagi yang tidak punya modal hanya mengandalkan tenaga mereka untuk mencari nafkah. Bagi yang berpendidikan tinggi, keinginan mereka hanya ingin jadi PNS atau bekerja di kantor.

Bagi sebagian orang yang punya keahlian dalam bidang yang lain, tidak bisa menggunakan secara optimal keahliannya itu untuk mencari nafkah. Bahkan, hanya digunakan sebagai hiburan, yang hanya memuaskan hati. Tapi tidak berpikir sebagai ajang mencari nafkah untuk keluarga.

Pendidikan kewirausahaan pada siswa dapat mengembangkan ekonomi dan perkembangan sosial, sesuai kemampuan yang mereka miliki, sehingga diharapkan siswa pada akhirnya bisa mandiri, disiplin, jujur, dan tekun dalam menghadapi masa depan. Siswa harus diberi pemahaman, pekerjaan yang baik tidak harus jadi PNS. Tanamkan pada mereka, segala sesuatu yang diperoleh dengan jalan halal itulah rezeki dari Allah yang terbaik.

Baca Juga :  Pendekatan Kooperatif Example non Example Tingkatkan Hasil Belajar

Mengenai wirausaha atau perdagangan atau bisnis, Allah berfirman dalam Alquran Surat Al-Baqoroh ayat 275 yang artinya: ”Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Juga di QS. Annisa’ ayat 29: ”Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu”.

Pada penjelasan QS. Annisa’ayat 29 maupun dalam QS. Al Baqoroh 275, Allah mengisyaratkan, jual beli atau perdagangan adalah salah satu cara untuk mendapatkan rezeki. Itu halal asal dilakukan atas dasar suka sama suka. Tidak ada yang merasa dirugikan dari transaksi tersebut. Untuk itu, kita bekali siswa dengan ilmu dan ahlak.

Ilmu akan menuntun siswa bagaimana berinteraksi dengan orang lain secara baik. Sesuai ahlak yang dituntunkan Rasulullah dalam berdagang. Kemudian, dengan ilmu fiqih yang menjelaskan tentang syarat dan rukun jual beli dalam Islam. Selain itu, ilmu ekonomi akan menjelaskan cara-cara berdagang atau teori berdagang supaya modal bisa bertambah dan tidak cepat habis.

Mencari rezeki merupakan sarana beramal saleh, bila diterapkan dengan jalan yang benar. Amal saleh yang disertai iman kepada Allah akan mengantarkan kita untuk mendapatkan pahala yang tiada terputus. Sesuai QS. At-Tin ayat 6. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/