alexametrics
22.4 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Tumbuhkan Budaya Sopan Santun di Kalangan Siswa

PENDIDIKAN menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Orang tua tidak dapat sepenuhnya membebankan proses pendidikan anaknya kepada sekolah. Justru siswa lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga dan atau bahkan dengan masyarakat.

Kondisi ideal yang diharapkan dalam pendidikan adalah menghasilkan siswa yang cerdas dan terampil secara intelektual serta berakhlak mulia. Dengan bekal akhlak mulia ini, siswa akan berkembang menjadi insan cerdas dan berkarakter kuat, sehingga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Sopan santun sebagai bagian dari akhlak mulia seseorang. Sopan santun dapat diartikan sebagai perilaku seseorang yang menjunjung tinggi nilai-nilai menghormati, menghargai, tidak sombong, dan berakhlak mulia. Pengejawantahan sikap sopan santun ini, perilaku menghormati orang lain melalui komunikasi yang tidak merendahkan orang lain.


Sikap sopan santun merupakan budaya leluhur yang dewasa ini telah mulai dilupakan sebagian orang. Sikap sopan santun terhadap sesama, yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menghargai yang muda tidak lagi kelihatan dalam kehidupan yang serba modern ini.

Semakin banyak siswa mulai berani kepada orang tua dan gurunya. Apabila diberi nasihat berani membantah. Bahkan menantangnya. Kondisi ini menunjukkan sekolah hanya menghasilkan siswa yang memiliki intelektual tinggi, tetapi tidak memiliki karakter mulia. Lunturnya sikap sopan santun pada sebagian siswa menjadi salah satu penyebab kurang terbentuknya karakter. Tidak terpeliharanya sikap sopan santun ini, akan berdampak negatif terhadap budaya bangsa.

Faktor-faktor penyebab lunturnya nilai-nilai sopan antara lain, faktor keluarga, yakni kurangnya pembiasaan sopan santun yang diajarkan oleh orang tua atau keluarga. Faktor teman atau pergaulan juga dapat memberi pengaruh terhadap nilai kesopanan. Media massa juga dapat menjadi salah satu faktor memudarnya nilai kesopanan pada siswa.

Baca Juga :  Efektifitas Pembelajaran Bahasa Jawa melalui Aplikasi Google Classroom

Strategi untuk menumbuhkan budaya sopan santun di sekolah dapat dilakukan melalui pembiasaan. Menumbuhkembangkan sopan santun merupakan upaya pembiasaan sikap sopan santun, agar menjadi bagian dari pola hidup seseorang dalam keseharian. Sopan santun sebagai perilaku dapat dicapai siswa melalui berbagai cara.

Menumbuhkan karakter sopan santun dapat diterapkan di sekolah dengan cara sekolah membuat skenario pembiasaan sopan santun. Guru berperan sebagai model, memberikan contoh sikap sopan santun sebagai pembiasaan dalam keseharian di sekolah.

Guru mengintegrasikan perilaku sopan santun dalam setiap mata pelajaran. Guru mata pelajaran Pendidikan Agama melakukan pembiasaan dikaitkan dalam penilaian afektif. Kompetensi kognitif hanya sebagai pendukung menguasaan secara afektif. Pembelajaran PPKn dan bahasa Jawa dapat membantu pembiasaan sopan santun melalui pembelajaran kewarganegaraan dan budaya Jawa.

Seorang guru sebelum menjadi model keteladanan bagi siswa, harus mendisiplinkan diri terlebih dahulu. Artinya, jika menginginkan siswa patuh terhadap aturan yang berlaku, guru terlebih dahulu harus mematuhi. Apabila guru menunjukkan perilaku sopan, siswa pun akan meniru apa yang dilakukan guru.

Untuk menumbuhkan budaya sopan santun di kalangan siswa, perlu kerja sama yang baik antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sebaik apapun teladan yang diberikan guru di sekolah, jika tak diimbangi dengan teladan dari keluarga dan masyarakat, tentu tidak akan menghasilkan keluaran yang berakhlak mulia. Untuk itu, semua pihak harus menyadari peran masing-masing, agar dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia.

Mari ciptakan kerja sama yang baik untuk menumbuhkan budaya sopan santun di kalangan siswa. Mari kita awali dari diri sendiri, sehingga yang lain dapat meneladani. (*)

PENDIDIKAN menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Orang tua tidak dapat sepenuhnya membebankan proses pendidikan anaknya kepada sekolah. Justru siswa lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga dan atau bahkan dengan masyarakat.

Kondisi ideal yang diharapkan dalam pendidikan adalah menghasilkan siswa yang cerdas dan terampil secara intelektual serta berakhlak mulia. Dengan bekal akhlak mulia ini, siswa akan berkembang menjadi insan cerdas dan berkarakter kuat, sehingga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Sopan santun sebagai bagian dari akhlak mulia seseorang. Sopan santun dapat diartikan sebagai perilaku seseorang yang menjunjung tinggi nilai-nilai menghormati, menghargai, tidak sombong, dan berakhlak mulia. Pengejawantahan sikap sopan santun ini, perilaku menghormati orang lain melalui komunikasi yang tidak merendahkan orang lain.

Sikap sopan santun merupakan budaya leluhur yang dewasa ini telah mulai dilupakan sebagian orang. Sikap sopan santun terhadap sesama, yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menghargai yang muda tidak lagi kelihatan dalam kehidupan yang serba modern ini.

Semakin banyak siswa mulai berani kepada orang tua dan gurunya. Apabila diberi nasihat berani membantah. Bahkan menantangnya. Kondisi ini menunjukkan sekolah hanya menghasilkan siswa yang memiliki intelektual tinggi, tetapi tidak memiliki karakter mulia. Lunturnya sikap sopan santun pada sebagian siswa menjadi salah satu penyebab kurang terbentuknya karakter. Tidak terpeliharanya sikap sopan santun ini, akan berdampak negatif terhadap budaya bangsa.

Faktor-faktor penyebab lunturnya nilai-nilai sopan antara lain, faktor keluarga, yakni kurangnya pembiasaan sopan santun yang diajarkan oleh orang tua atau keluarga. Faktor teman atau pergaulan juga dapat memberi pengaruh terhadap nilai kesopanan. Media massa juga dapat menjadi salah satu faktor memudarnya nilai kesopanan pada siswa.

Baca Juga :  Vaksinasi Covid-19 pada Ibu Hamil

Strategi untuk menumbuhkan budaya sopan santun di sekolah dapat dilakukan melalui pembiasaan. Menumbuhkembangkan sopan santun merupakan upaya pembiasaan sikap sopan santun, agar menjadi bagian dari pola hidup seseorang dalam keseharian. Sopan santun sebagai perilaku dapat dicapai siswa melalui berbagai cara.

Menumbuhkan karakter sopan santun dapat diterapkan di sekolah dengan cara sekolah membuat skenario pembiasaan sopan santun. Guru berperan sebagai model, memberikan contoh sikap sopan santun sebagai pembiasaan dalam keseharian di sekolah.

Guru mengintegrasikan perilaku sopan santun dalam setiap mata pelajaran. Guru mata pelajaran Pendidikan Agama melakukan pembiasaan dikaitkan dalam penilaian afektif. Kompetensi kognitif hanya sebagai pendukung menguasaan secara afektif. Pembelajaran PPKn dan bahasa Jawa dapat membantu pembiasaan sopan santun melalui pembelajaran kewarganegaraan dan budaya Jawa.

Seorang guru sebelum menjadi model keteladanan bagi siswa, harus mendisiplinkan diri terlebih dahulu. Artinya, jika menginginkan siswa patuh terhadap aturan yang berlaku, guru terlebih dahulu harus mematuhi. Apabila guru menunjukkan perilaku sopan, siswa pun akan meniru apa yang dilakukan guru.

Untuk menumbuhkan budaya sopan santun di kalangan siswa, perlu kerja sama yang baik antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sebaik apapun teladan yang diberikan guru di sekolah, jika tak diimbangi dengan teladan dari keluarga dan masyarakat, tentu tidak akan menghasilkan keluaran yang berakhlak mulia. Untuk itu, semua pihak harus menyadari peran masing-masing, agar dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia.

Mari ciptakan kerja sama yang baik untuk menumbuhkan budaya sopan santun di kalangan siswa. Mari kita awali dari diri sendiri, sehingga yang lain dapat meneladani. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/