alexametrics
31.5 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Ciptakan PTM Terbatas lebih Bermakna

DIRJEN PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, pada konferensi pers secara daring mengatakan bahwa konsep yang benar mengenai PTM terbatas adalah adanya pengendalian jumlah peserta didik setiap rombongan belajar yang tidak sama dengan jumlah normalnya. PTM terbatas, jumlah siswa di dalam kelas hanya ada 18 meja dan 18 kursi dan jaraknya diatur. Pada PTM terbatas, siswa juga tidak harus ikut pembelajaran secara penuh. Namun, pembelajarannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah masing-masing. PTM terbatas juga tidak harus dilaksanakan setiap hari.

Beberapa sekolah di Kabupaten Grobogan telah mendapatkan rekomendasi untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. SD Negeri 1 Suru tidak termasuk didalamnya. Akan tetapi, sekolah telah mempersiapkan diri sewaktu-waktu diizinkan untuk PTM.

Meskipun dalam kondisi terbatas, tetapi pembelajaran harus tetap bermakna bagi siswa. Agar tercipta belajar bermakna maka guru harus mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan penjelasan dari guru.


Pembelajaran bermakna (meaningfull learning) adalah pembelajaran menyenangkan yang memiliki keunggulan dalam memperoleh segenap informasi secara utuh sehingga konsekuensi akhir meningkatkan kemampuan siswa. Sesuai teori konstruktivisme yang mengemukakan Piaget bahwa setiap siswa membawa pengertian dan pengetahuan awal yang sudah dimilikinya ke dalam proses belajar yang harus ditambahkan, dimodifikasi, diperbaharui, direvisi, dan diubah oleh informasi dalam proses belajar.

Agar belajar menjadi bermakna bagi siswa, ada 5 hal yang harus diperhatikan oleh guru. Pertama, sikap mengajar demokratis dan simpati. Sikap demokratis dan simpati terwujud dalam keterbukaan guru mengelola pembelajaran. Guru bersikap terbuka untuk menanggapi segala masalah dalam pembelajaran dan berusaha memecahkan persoalan tersebut dengan bijaksana. Sikap simpati dan bijaksana akan terlihat dari sikap dan gaya bicara seorang guru dalam mengajar.

Baca Juga :  Permainan Tradisional Engklek Menyenangkan Dan Mendidik

Kedua, penguasaan materi pelajaran. Untuk dapat membimbing siswa belajar kreatif, guru hendaknya menguasai materi pelajaran dengan baik. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran tidak berjalan tersendat-sendat dan menimbulkan keraguan pada diri siswa akan kebenaran materi pelajaran.

Ketiga, penggunaan metode mengajar. Metode mengajar yang baik adalah metode yang relevan dengan materi pelajaran yang dibahas dan cenderung mengaktifkan siswa dalam belajar. Relevansi metode mengajar dengan materi pelajaran akan menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Misalnya pembelajaran di kelas VI pada materi listrik dilaksanakan dengan Project Based Learning untuk menyelesaikan tugas membuat rangkaian listrik sederhana.

Keempat, penggunaan media dan sumber belajar. Media belajar adalah alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran. Dengan menggunakan media yang tepat dan sesuai akan memudahkan siswa dalam menerima pelajaran yang sulit. Sumber belajar terdiri dari buku, majalah, lingkungan, dan sebagainya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator, memberi kemudahan kepada siswa dalam menemukan sumber informasi belajar yang tepat. Misalnya menyediakan senter atau melibatkan beberapa siswa agar membawa senter dari rumah untuk pembelajaran listrik.

Kelima, pengaitan informasi. Mengaitkan materi pelajaran dengan pengetahuan dan pengalaman siswa sehari-hari akan merangsang kemauan dan keinginan siswa untuk belajar. Misalnya, mengaitkan informasi tentang listrik dengan manfaatnya untuk kehidupan sehari untuk penerangan, memasak, dan sebagainya

Demikian strategi menciptakan pembelajaran bermakna. Meskipun pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara terbatas, haruslah tetap bermakna bagi siswa. (*)

DIRJEN PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, pada konferensi pers secara daring mengatakan bahwa konsep yang benar mengenai PTM terbatas adalah adanya pengendalian jumlah peserta didik setiap rombongan belajar yang tidak sama dengan jumlah normalnya. PTM terbatas, jumlah siswa di dalam kelas hanya ada 18 meja dan 18 kursi dan jaraknya diatur. Pada PTM terbatas, siswa juga tidak harus ikut pembelajaran secara penuh. Namun, pembelajarannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah masing-masing. PTM terbatas juga tidak harus dilaksanakan setiap hari.

Beberapa sekolah di Kabupaten Grobogan telah mendapatkan rekomendasi untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. SD Negeri 1 Suru tidak termasuk didalamnya. Akan tetapi, sekolah telah mempersiapkan diri sewaktu-waktu diizinkan untuk PTM.

Meskipun dalam kondisi terbatas, tetapi pembelajaran harus tetap bermakna bagi siswa. Agar tercipta belajar bermakna maka guru harus mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan penjelasan dari guru.

Pembelajaran bermakna (meaningfull learning) adalah pembelajaran menyenangkan yang memiliki keunggulan dalam memperoleh segenap informasi secara utuh sehingga konsekuensi akhir meningkatkan kemampuan siswa. Sesuai teori konstruktivisme yang mengemukakan Piaget bahwa setiap siswa membawa pengertian dan pengetahuan awal yang sudah dimilikinya ke dalam proses belajar yang harus ditambahkan, dimodifikasi, diperbaharui, direvisi, dan diubah oleh informasi dalam proses belajar.

Agar belajar menjadi bermakna bagi siswa, ada 5 hal yang harus diperhatikan oleh guru. Pertama, sikap mengajar demokratis dan simpati. Sikap demokratis dan simpati terwujud dalam keterbukaan guru mengelola pembelajaran. Guru bersikap terbuka untuk menanggapi segala masalah dalam pembelajaran dan berusaha memecahkan persoalan tersebut dengan bijaksana. Sikap simpati dan bijaksana akan terlihat dari sikap dan gaya bicara seorang guru dalam mengajar.

Baca Juga :  Suka Duka Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19

Kedua, penguasaan materi pelajaran. Untuk dapat membimbing siswa belajar kreatif, guru hendaknya menguasai materi pelajaran dengan baik. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran tidak berjalan tersendat-sendat dan menimbulkan keraguan pada diri siswa akan kebenaran materi pelajaran.

Ketiga, penggunaan metode mengajar. Metode mengajar yang baik adalah metode yang relevan dengan materi pelajaran yang dibahas dan cenderung mengaktifkan siswa dalam belajar. Relevansi metode mengajar dengan materi pelajaran akan menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Misalnya pembelajaran di kelas VI pada materi listrik dilaksanakan dengan Project Based Learning untuk menyelesaikan tugas membuat rangkaian listrik sederhana.

Keempat, penggunaan media dan sumber belajar. Media belajar adalah alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran. Dengan menggunakan media yang tepat dan sesuai akan memudahkan siswa dalam menerima pelajaran yang sulit. Sumber belajar terdiri dari buku, majalah, lingkungan, dan sebagainya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator, memberi kemudahan kepada siswa dalam menemukan sumber informasi belajar yang tepat. Misalnya menyediakan senter atau melibatkan beberapa siswa agar membawa senter dari rumah untuk pembelajaran listrik.

Kelima, pengaitan informasi. Mengaitkan materi pelajaran dengan pengetahuan dan pengalaman siswa sehari-hari akan merangsang kemauan dan keinginan siswa untuk belajar. Misalnya, mengaitkan informasi tentang listrik dengan manfaatnya untuk kehidupan sehari untuk penerangan, memasak, dan sebagainya

Demikian strategi menciptakan pembelajaran bermakna. Meskipun pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara terbatas, haruslah tetap bermakna bagi siswa. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/