alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Wanita Karir dan Diskriminasi

JUMLAH wanita yang bekerja secara formal semakin hari mengalami peningkatan. Ini dibuktikan dari data yang menunjukkan bahwa tingkat wanita bekerja secara formal sampai tahun 2021 adalah sebesar 36,20 persen. Mempunyai selisih lebih besar sebanyak 1,55 persen dari pada pekerja laki-laki. Namun, hal ini tidak diikuti dengan ratio partisipasi para wanita dalam hal pengambilan keputusan, perencanaan pembangunan serta perumus kebijakan. Dalam data BPS terakhir tahun 2022 menunjukkan jumlah wanita dalam parlemen dari tahun 2020 sampai 2021 hanya meningkat 0,53 persen. Serta tingkat proporsi wanita dalam manajerial menurut tingkat Pendidikan menunjukkan bahwa jumlah lulusan SD lebih besar yaitu 42,01 persen dibanding dengan lulusan Universitas yang hanya 29,59 persen.

Kesetaraan gender bukan lagi hal yang baru untuk bangsa Indonesia. Kata gender digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara peran perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan. Perbedaan tersebut antara perempuan dan laki-laki misalnya, sebagian masyarakat beranggapan bahwa dalam penyerahkan tanggung jawab rumah tangga dan merawat anak pada perempuan, sedangkan untuk mencari nafkah diserahkan kepada laki-laki.

Dalam dunia kerja, diskriminasi gender merupakan hal yang lumrah terjadi, terutama terhadap perempuan. Sering kali, perempuan hanya dipandang sebelah mata karena anggapan bahwa kapabilitas perempuan tidak akan sebaik kapabilitas yang dimiliki laki-laki.


Di sebagian kelompok masyarakat, budaya patriarki dan stereotip menjadi faktor penghambat dalam jenjang karir para perempuan di Indonesia. Budaya tersebut mengasumsikan bahwa kodrat perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Sehingga keikutsertaan wanita dalam hal pengambilan keputusan, manajerial dan kebijakan sangat rendah.

Bekerja adalah kewajiban bagi laki-laki atau perempuan untuk mencari rizki dan kehidupan yang layak. Allah SWT berfirman “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (Q.S. An-Nisa’/4:124). Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada sekat pembeda antara laki-laki dan wanita dalam melakukan amal kebajikan.

Baca Juga :  Menuju Pemulihan Pembelajaran, Ayo Praktik Salat

Meskipun secara kuantitas jumlah wanita yang bekerja semakin hari semakin meningkat, namun bila ditinjau dari bidang kerja yang ditekuni, dalam pekerjaaan yang professional masih rendah. Ini bisa terjadi karena anggapan bahwa wanita itu lebih lemah daripada laki-laki, apalagi untuk wanita yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Mereka dianggap tidak mampu untuk mengemban jabatan yang lebih tinggi karena ditakutkan oleh para pimpinan terhadap pekerjaan mereka yang tidak bisa tuntas.

Selain itu, faktor sosial budaya juga kurang mendukung terhadap wanita yang memilih untuk berkarir. Dalam hal ini, muncul anggapan dengan bekerjanya seorang wanita maka akan menurunkan wibawa seorang laki-laki yang bertugas untuk menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah.

Diskriminasi lain yang di peroleh dari wanita yang bekerja yaitu jenjang karir yang terhambat terutama wanita yang sudah berkeluarga, serta peraturan cuti melahirkan, honor, dan pelecehan seksual menjadi beberapa diskriminasi yang dialami para wanita pekerja. Pendidikan bagi kaum wanita untuk sebagian masyarakat dianggap kurang penting. Mereka yang memiliki pola pikir tradisional beranggapan kaum wanita kodratnya di dapur dan adanya anggapan bahwa wanita yang memiliki karir cemerlang serta berpendidikan tinggi pasti susah dalam mencari pasangan hidup karena para laki-laki merasa minder.

Padahal dalam Hukum Islam telah di sebutkan bahwa kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam mencari nafkah dan tidak ada larang bagi perempuan yang ingin memilih untuk berkarir selama tidak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu. Serta dalam Pendidikan juga telah di atur dalam Undang Undang yang memberikan kebebasan bagi kaum perempuan dan laki-laki untuk berpendidikan tinggi. Statement masyarakat yang masih tradisional harus sedikit demi sedikit dihilangkan, salah satunya dengan memberikan sosialisasi tentang pentingnya Pendidikan bagi semua gender, dan pemahaman tentang hak yang sama dalam bekerja untuk kaum wanita dan laki-laki. (*/war) 

JUMLAH wanita yang bekerja secara formal semakin hari mengalami peningkatan. Ini dibuktikan dari data yang menunjukkan bahwa tingkat wanita bekerja secara formal sampai tahun 2021 adalah sebesar 36,20 persen. Mempunyai selisih lebih besar sebanyak 1,55 persen dari pada pekerja laki-laki. Namun, hal ini tidak diikuti dengan ratio partisipasi para wanita dalam hal pengambilan keputusan, perencanaan pembangunan serta perumus kebijakan. Dalam data BPS terakhir tahun 2022 menunjukkan jumlah wanita dalam parlemen dari tahun 2020 sampai 2021 hanya meningkat 0,53 persen. Serta tingkat proporsi wanita dalam manajerial menurut tingkat Pendidikan menunjukkan bahwa jumlah lulusan SD lebih besar yaitu 42,01 persen dibanding dengan lulusan Universitas yang hanya 29,59 persen.

Kesetaraan gender bukan lagi hal yang baru untuk bangsa Indonesia. Kata gender digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara peran perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan. Perbedaan tersebut antara perempuan dan laki-laki misalnya, sebagian masyarakat beranggapan bahwa dalam penyerahkan tanggung jawab rumah tangga dan merawat anak pada perempuan, sedangkan untuk mencari nafkah diserahkan kepada laki-laki.

Dalam dunia kerja, diskriminasi gender merupakan hal yang lumrah terjadi, terutama terhadap perempuan. Sering kali, perempuan hanya dipandang sebelah mata karena anggapan bahwa kapabilitas perempuan tidak akan sebaik kapabilitas yang dimiliki laki-laki.

Di sebagian kelompok masyarakat, budaya patriarki dan stereotip menjadi faktor penghambat dalam jenjang karir para perempuan di Indonesia. Budaya tersebut mengasumsikan bahwa kodrat perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Sehingga keikutsertaan wanita dalam hal pengambilan keputusan, manajerial dan kebijakan sangat rendah.

Bekerja adalah kewajiban bagi laki-laki atau perempuan untuk mencari rizki dan kehidupan yang layak. Allah SWT berfirman “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (Q.S. An-Nisa’/4:124). Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada sekat pembeda antara laki-laki dan wanita dalam melakukan amal kebajikan.

Baca Juga :  Salah Ramal Berujung Putus Rumah Tangga

Meskipun secara kuantitas jumlah wanita yang bekerja semakin hari semakin meningkat, namun bila ditinjau dari bidang kerja yang ditekuni, dalam pekerjaaan yang professional masih rendah. Ini bisa terjadi karena anggapan bahwa wanita itu lebih lemah daripada laki-laki, apalagi untuk wanita yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Mereka dianggap tidak mampu untuk mengemban jabatan yang lebih tinggi karena ditakutkan oleh para pimpinan terhadap pekerjaan mereka yang tidak bisa tuntas.

Selain itu, faktor sosial budaya juga kurang mendukung terhadap wanita yang memilih untuk berkarir. Dalam hal ini, muncul anggapan dengan bekerjanya seorang wanita maka akan menurunkan wibawa seorang laki-laki yang bertugas untuk menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah.

Diskriminasi lain yang di peroleh dari wanita yang bekerja yaitu jenjang karir yang terhambat terutama wanita yang sudah berkeluarga, serta peraturan cuti melahirkan, honor, dan pelecehan seksual menjadi beberapa diskriminasi yang dialami para wanita pekerja. Pendidikan bagi kaum wanita untuk sebagian masyarakat dianggap kurang penting. Mereka yang memiliki pola pikir tradisional beranggapan kaum wanita kodratnya di dapur dan adanya anggapan bahwa wanita yang memiliki karir cemerlang serta berpendidikan tinggi pasti susah dalam mencari pasangan hidup karena para laki-laki merasa minder.

Padahal dalam Hukum Islam telah di sebutkan bahwa kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam mencari nafkah dan tidak ada larang bagi perempuan yang ingin memilih untuk berkarir selama tidak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu. Serta dalam Pendidikan juga telah di atur dalam Undang Undang yang memberikan kebebasan bagi kaum perempuan dan laki-laki untuk berpendidikan tinggi. Statement masyarakat yang masih tradisional harus sedikit demi sedikit dihilangkan, salah satunya dengan memberikan sosialisasi tentang pentingnya Pendidikan bagi semua gender, dan pemahaman tentang hak yang sama dalam bekerja untuk kaum wanita dan laki-laki. (*/war) 

Most Read

Artikel Terbaru

/