alexametrics
31.5 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Menulis Cerpen Perlu Digali, meski Pandemi Masih Menghantui

MENULIS merupakan kemampuan yang membutuhkan perhatian khusus. Sepertinya terlihat mudah. Tetapi, menulis sesungguhnya sangat membutuhkan perhatian dan latihan. Jadi, tidak berlebihan jika menulis dikatakan sebagai kemampuan yang kompleks dan menuntut penguasaan bahasa Indonesia secara cermat.

Selain merupakan salah satu kemampuan berbahasa, menulis juga merupakan proses bernalar (Akhdiah, Arsyad,Ridwan, 1988:41). Bernalar merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan beberapa pengetahuan. Dalam menulis, kemampuan berpikir seseorang haruslah tinggi, karena dengan berpikir ide (gagasan) akan muncul. Menulis dalam bentuk apa pun merupakan salah satu aspek khusus dan aktivitas berbahasa.

Berkaitan dengan menulis, sering dijumpai di lapangan, penulis pemula atau peserta didik merasa kesulitan. Khususnya menulis sastra seperti cerpen. Menulis bagi mereka adalah sesuatu yang dianggap berat dan sulit dalam menentukan gagasan atau ide. Terkadang sudah ada ide, tetapi sulit mengembangkan, atau dapat mengembangkan ide-ide yang sudah ada, tetapi tidak yakin dengan apa yang mereka tulis.


Masa pandemi bukanlah menjadi penghalang untuk terus produktif melakukan hal-hal yang positif. Termasuk menulis cerpen. Memang menulis cerpen tidaklah mudah, tetapi dapat dilakukan dengan cara berlatih, berlatih, dan berlatih! Untuk memulai menulis cerpen perlu adanya pengetahuan tentang struktur dan ciri-ciri cerpen itu sendiri. Selain ada motivasi menulis untuk lebih meningkatkan keterampilan yang dimiliki, bisa juga ingin berbagi pengalaman hidup yang inspiratif.

Langkah berikutnya, menentukan tema. Tema bisa diambil dari pengalaman pribadi, lingkungan sekitar, bahkan pengalaman orang lain. Misalnya, masa pandemi seperti sekarang ini, semua kena dampaknya. Tidak hanya pandemi bahkan bencana alam pun menambah derita yang berkepanjangan.

Baca Juga :  Alasan Penting Kenapa MA NU Banat Kudus Jaring Bakat Siswi sejak Masuk

Kisah Rumini yang rela mati berpelukan dengan ibunya lantaran keganasan Semeru, itu pun bisa dikemas dalam cerpen yang menarik. Sedang dalam menentukan nama, sifat atau karakter tokoh itu, pilihan yang dapat disesuaikan dengan keinginan penulis. Penggunaan tokoh pada cerpen amat sangat krusial dibutuhkan. Bahkan, tanpa adanya tokoh sulit bagi pengarang untuk menyampaikan maksud dari tulisan kepada pembaca.

Selain tokoh, latar (setting) juga diperlukan untuk menunjukkan waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam cerpen. Misalnya, jika menulis cerita dengan latar tempat pondok pesantren, maka karakter tokoh yang dimunculkan adalah mempunyai sisi religius yang tinggi. Jadi, latar yang digunakan pada cerita dapat membentuk sifat atau karakter yang dimiliki oleh tokoh. Sudut pandang juga digunakan sebagai cara untuk menampilkan penokohan dengan gaya yang diinginkan pengarang.

Menulis cerpen pun perlu didukung gaya bahasa. Menulis dengan gaya bahasa sendiri adalah menulis dengan kemampuan yang dimiliki, tanpa perlu berusaha untuk menjadi orang lain dalam menghasilkan tulisan. Intinya, menulis dengan gaya sendiri akan mempermudah untuk mengetahui ciri khas dan kemampuan yang ada pada diri sendiri. Karena gaya bahasa merupakan ekspresi personal manusia untuk menyampaikan maksudnya.

Menulis cerpen semakin lama akan semakin berkualitas dan akan berkembang dengan sendirinya setelah banyak melakukan latihan. Keterampilan menulis cerpen akan sangat menunjang prestasi, baik untuk pelajar maupun mahasiswa atau bahkan masyarakat umum. Untuk mengasah keterampilan menulis cerpen dapat dilakukan dengan cara mengikuti lomba-lomba menulis cerpen dan kegiatan menulis lain. Semangat menulis! (*)

MENULIS merupakan kemampuan yang membutuhkan perhatian khusus. Sepertinya terlihat mudah. Tetapi, menulis sesungguhnya sangat membutuhkan perhatian dan latihan. Jadi, tidak berlebihan jika menulis dikatakan sebagai kemampuan yang kompleks dan menuntut penguasaan bahasa Indonesia secara cermat.

Selain merupakan salah satu kemampuan berbahasa, menulis juga merupakan proses bernalar (Akhdiah, Arsyad,Ridwan, 1988:41). Bernalar merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan beberapa pengetahuan. Dalam menulis, kemampuan berpikir seseorang haruslah tinggi, karena dengan berpikir ide (gagasan) akan muncul. Menulis dalam bentuk apa pun merupakan salah satu aspek khusus dan aktivitas berbahasa.

Berkaitan dengan menulis, sering dijumpai di lapangan, penulis pemula atau peserta didik merasa kesulitan. Khususnya menulis sastra seperti cerpen. Menulis bagi mereka adalah sesuatu yang dianggap berat dan sulit dalam menentukan gagasan atau ide. Terkadang sudah ada ide, tetapi sulit mengembangkan, atau dapat mengembangkan ide-ide yang sudah ada, tetapi tidak yakin dengan apa yang mereka tulis.

Masa pandemi bukanlah menjadi penghalang untuk terus produktif melakukan hal-hal yang positif. Termasuk menulis cerpen. Memang menulis cerpen tidaklah mudah, tetapi dapat dilakukan dengan cara berlatih, berlatih, dan berlatih! Untuk memulai menulis cerpen perlu adanya pengetahuan tentang struktur dan ciri-ciri cerpen itu sendiri. Selain ada motivasi menulis untuk lebih meningkatkan keterampilan yang dimiliki, bisa juga ingin berbagi pengalaman hidup yang inspiratif.

Langkah berikutnya, menentukan tema. Tema bisa diambil dari pengalaman pribadi, lingkungan sekitar, bahkan pengalaman orang lain. Misalnya, masa pandemi seperti sekarang ini, semua kena dampaknya. Tidak hanya pandemi bahkan bencana alam pun menambah derita yang berkepanjangan.

Baca Juga :  Pameran Virtual sebagai Solusi Jitu saat Pandemi

Kisah Rumini yang rela mati berpelukan dengan ibunya lantaran keganasan Semeru, itu pun bisa dikemas dalam cerpen yang menarik. Sedang dalam menentukan nama, sifat atau karakter tokoh itu, pilihan yang dapat disesuaikan dengan keinginan penulis. Penggunaan tokoh pada cerpen amat sangat krusial dibutuhkan. Bahkan, tanpa adanya tokoh sulit bagi pengarang untuk menyampaikan maksud dari tulisan kepada pembaca.

Selain tokoh, latar (setting) juga diperlukan untuk menunjukkan waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam cerpen. Misalnya, jika menulis cerita dengan latar tempat pondok pesantren, maka karakter tokoh yang dimunculkan adalah mempunyai sisi religius yang tinggi. Jadi, latar yang digunakan pada cerita dapat membentuk sifat atau karakter yang dimiliki oleh tokoh. Sudut pandang juga digunakan sebagai cara untuk menampilkan penokohan dengan gaya yang diinginkan pengarang.

Menulis cerpen pun perlu didukung gaya bahasa. Menulis dengan gaya bahasa sendiri adalah menulis dengan kemampuan yang dimiliki, tanpa perlu berusaha untuk menjadi orang lain dalam menghasilkan tulisan. Intinya, menulis dengan gaya sendiri akan mempermudah untuk mengetahui ciri khas dan kemampuan yang ada pada diri sendiri. Karena gaya bahasa merupakan ekspresi personal manusia untuk menyampaikan maksudnya.

Menulis cerpen semakin lama akan semakin berkualitas dan akan berkembang dengan sendirinya setelah banyak melakukan latihan. Keterampilan menulis cerpen akan sangat menunjang prestasi, baik untuk pelajar maupun mahasiswa atau bahkan masyarakat umum. Untuk mengasah keterampilan menulis cerpen dapat dilakukan dengan cara mengikuti lomba-lomba menulis cerpen dan kegiatan menulis lain. Semangat menulis! (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/