alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Hiruk Pikuk Geliat Menuju PTM

PADA 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah resmi mengumumkan wabah virus Covid-19 menjadi pandemi global. Menurut WHO yang dilansir dalam situs resminya (https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa/qa-for-public) menjelaskan, corona virus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia.

Beberapa jenis corona virus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia. Mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti middle east respiratory syndrome (MERS) dan severe acute respiratory syndrome (SARS). Corona virus yang notabene merupakan penyakit menular yang baru ditemukan akhir-akhir ini, kemudian disebut Covid-19.

Pandemi ini menyisakan banyak cerita di berbagai aspek kehidupan. Tidak dapat dimungkiri dunia pendidikan menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan masyarakat juga ikut terdampak. Pendidikan yang selama ini dilakukan dengan normal melalui kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, tentunya tidak bisa lepas dari kerumunan. Apalagi jika terdapat banyak peserta didik.


Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dirasa dapat menjadi solusi jitu untuk mengatasi berbagai kendala dalam pembelajaran disaat masa pandemi. Namun seiring berjalannya waktu, PJJ juga memunculkan banyak kendala dan dampak.

Tidak sedikit orang tua menanyakan kapan pembelajaran tatap muka (PTM) diadakan, mengeluhkan tentang biaya kuota, kekhawatiran tentang kesehatan mata anak karena harus melihat layar HP/laptop terus menerus, sampai pada kekhawatiran tentang karakter anak-anak yang semakin menurun akibat kurangnya sentuhan lingkungan sekolah.

Dengan melihat perkembangan situasi dan kondisi di daerah masing-masing atas perintah dan izin dinas terkait, sekolah juga mengadakan tahapan-tahapan sebelum menuju pelaksanakan PTM. Tahapan tersebut, di antaranya uji coba PTM dan PTM terbatas. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pengawasan dan evaluasi yang ketat setelah pelaksanaan selesai dilaksanakan sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan.

Baca Juga :  SMKN 2 Kudus Buka Kelas Industri Fiber Optic

Sebelum pelaksanaan berbagai persiapan pun wajib dipenuhi, di antaranya standar operasional prosedur (SOP) yang menyangkut segala kegiatan di sekolah dalam pelayanan kepada siswa maupun masyarakat, sosialisasi SOP melalui berbagai media, pemberitahuan dan perizinan baik kepada orang tua maupun kepada dinas-dinas terkait, maupun segala sarana dan prasarana pendukung.

Sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan protokol kesehatan di lingkungan sekolah merupakan salah satu unsur yang penting. Kelengkapan yang perlu ada, di antaranya penyedianaan sarana tempat cuci tangan yang cukup, sabun cuci tangan, handsanitizer, tissue, thermogun, masker cadangan, face shield, cairan disinfektan, alat penyemprot disinfektan, alat kebersihan, tempat sampah, pengaturan tempat duduk yang berjarak dengan pembatasan jumlah peserta didalam kelas, pengaturan sirkulasi udara dan cahaya ruangan, label tempat duduk, toilet yang bersih dan cukup, ruang ibadah dengan pengaturan jarak, ruang UKS dengan obat-obatan yang cukup, papan edukasi dan informasi terkait dengan Covid-19, tanda jalur masuk dan jalur keluar sekolah, tempat parkir yang berjarak, serta barcode Peduli Lindungi ketika masuk/keluar lingkungan sekolah.

Seiring dengan percepatan dan pemerataan vaksinasi dari pemerintah, kini akhirnya kegiatan PTM mulai dilaksanakan, meski kapasitas siswa masih dibatasi, sehingga perlu pengaturan sif dalam penjadwalan bagi sekolah-sekolah yang memiliki jumlah siswa yang banyak.

Sekolah sebagai tempat para siswa berkumpul untuk menuntut ilmu sudah seharusnya untuk selalu berbenah diri, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Harapannya, meski pandemi belum usai, tapi sekolah tetap dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan tatap muka sesuai protokol kesehatan yang ketat. (*)

PADA 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah resmi mengumumkan wabah virus Covid-19 menjadi pandemi global. Menurut WHO yang dilansir dalam situs resminya (https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa/qa-for-public) menjelaskan, corona virus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia.

Beberapa jenis corona virus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia. Mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti middle east respiratory syndrome (MERS) dan severe acute respiratory syndrome (SARS). Corona virus yang notabene merupakan penyakit menular yang baru ditemukan akhir-akhir ini, kemudian disebut Covid-19.

Pandemi ini menyisakan banyak cerita di berbagai aspek kehidupan. Tidak dapat dimungkiri dunia pendidikan menjadi salah satu unsur penting dalam kehidupan masyarakat juga ikut terdampak. Pendidikan yang selama ini dilakukan dengan normal melalui kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, tentunya tidak bisa lepas dari kerumunan. Apalagi jika terdapat banyak peserta didik.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dirasa dapat menjadi solusi jitu untuk mengatasi berbagai kendala dalam pembelajaran disaat masa pandemi. Namun seiring berjalannya waktu, PJJ juga memunculkan banyak kendala dan dampak.

Tidak sedikit orang tua menanyakan kapan pembelajaran tatap muka (PTM) diadakan, mengeluhkan tentang biaya kuota, kekhawatiran tentang kesehatan mata anak karena harus melihat layar HP/laptop terus menerus, sampai pada kekhawatiran tentang karakter anak-anak yang semakin menurun akibat kurangnya sentuhan lingkungan sekolah.

Dengan melihat perkembangan situasi dan kondisi di daerah masing-masing atas perintah dan izin dinas terkait, sekolah juga mengadakan tahapan-tahapan sebelum menuju pelaksanakan PTM. Tahapan tersebut, di antaranya uji coba PTM dan PTM terbatas. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pengawasan dan evaluasi yang ketat setelah pelaksanaan selesai dilaksanakan sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan.

Baca Juga :  Dindikpora Klaim Pembelajaran Tatap Muka di Rembang Berjalan Mulus

Sebelum pelaksanaan berbagai persiapan pun wajib dipenuhi, di antaranya standar operasional prosedur (SOP) yang menyangkut segala kegiatan di sekolah dalam pelayanan kepada siswa maupun masyarakat, sosialisasi SOP melalui berbagai media, pemberitahuan dan perizinan baik kepada orang tua maupun kepada dinas-dinas terkait, maupun segala sarana dan prasarana pendukung.

Sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan protokol kesehatan di lingkungan sekolah merupakan salah satu unsur yang penting. Kelengkapan yang perlu ada, di antaranya penyedianaan sarana tempat cuci tangan yang cukup, sabun cuci tangan, handsanitizer, tissue, thermogun, masker cadangan, face shield, cairan disinfektan, alat penyemprot disinfektan, alat kebersihan, tempat sampah, pengaturan tempat duduk yang berjarak dengan pembatasan jumlah peserta didalam kelas, pengaturan sirkulasi udara dan cahaya ruangan, label tempat duduk, toilet yang bersih dan cukup, ruang ibadah dengan pengaturan jarak, ruang UKS dengan obat-obatan yang cukup, papan edukasi dan informasi terkait dengan Covid-19, tanda jalur masuk dan jalur keluar sekolah, tempat parkir yang berjarak, serta barcode Peduli Lindungi ketika masuk/keluar lingkungan sekolah.

Seiring dengan percepatan dan pemerataan vaksinasi dari pemerintah, kini akhirnya kegiatan PTM mulai dilaksanakan, meski kapasitas siswa masih dibatasi, sehingga perlu pengaturan sif dalam penjadwalan bagi sekolah-sekolah yang memiliki jumlah siswa yang banyak.

Sekolah sebagai tempat para siswa berkumpul untuk menuntut ilmu sudah seharusnya untuk selalu berbenah diri, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Harapannya, meski pandemi belum usai, tapi sekolah tetap dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan tatap muka sesuai protokol kesehatan yang ketat. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/