alexametrics
30.3 C
Kudus
Wednesday, July 6, 2022

Sulitnya Mengubah Karakter Siswa

DALAM proses belajar mengajar antara guru dan peserta didik diperlukan sekali yang namanya pendekatan, baik secara fisik maupun mental. Terlebih lagi guru sebagai
seseorang yang mempunyai ilmu yang akan membagi ilmunya kepada peserta
didik. Harus paham betul perilaku serta karakteristik peserta didik yang akan dididik.

Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berpikir, dan kemampuan awal yang dimiliki. Banyak cara yang dapat dilakukan, agar seorang guru sebagai tenaga pengajar yang berintegritas, bersinergi, serta layaknya panutan dalam melakukan pengajaran terhadap peserta didik, langkah demi langkah, dapat dipelajari agar seorang guru bisa memahami perilaku, dan karakteristik peserta didiknya, agar bisa menjadikan peserta didiknya mampu memahami ilmu–ilmu yang akan diberikan gurunya.

Anak merupakan tunas berpotensi, generasi penerus yang merupakan variabel (unsur yang ikut menentukan perubahan) dari kelangsungan hidup keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama. Untuk itu, anak perlu dibekali dengan penghidupan dan pendidikan yang layak dan berkualitas. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, berkembang secara optimal mental, sosial, dan kepribadiannya.


Untuk itu, pendekatan pembiasaan sesungguhnya sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri anak didik. Baik pada aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik. Selain itu, pendekatan pembiasaan juga dinilai sangat efesien dalam mengubah kebiasaan negatif menjadi positif. Namun demikian, pendekatan ini akan jauh dari keberhasilan jika tidak diiringi dengan contoh tauladan yang baik dari dalam keluarga maupun di sekolah.

Baca Juga :  Mengenal Kurikulum Paradigma Baru

Mengubah kebiasaan artinya mengubah informasi yang tersimpan. Prinsipnya, sangat sulit untuk mengubahnya. Kebiasaan dibentuk dari kegiatan berulang selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengubahnya dengan mengganti suatu kebiasaan dengan kegiatan rutin yang lain.

Pendidikan karakter yaitu kebiasaan, sesuatu yang menjadi dunia kedua bagi manusia. Sebaliknya, kebiasaan yang destruktif akan mengurangi produktivitas dan masa depan yang bermasalah. Dari kebiasaan akan muncul perilaku peserta didik, di rumah, sekolah, dan masyarakat. Orang lain akan menilai perilaku yang positif dan destruktif dengan ukuran masing-masing. Masa depan akan ditentukan aneka kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan buruk di sekolah memengaruhi hasil peserta didik dan memengaruhi karakter. Sebab, sekolah sudah mempunyai aturan tersendiri yang menyangkut proses belajar dan berlatih. Dengan harapan, karakter disiplin dimiliki peserta didik. Namun, dengan perkembangan lingkungan merubah pola pikir peserta didik mengikuti kebebasan sementara belum dipahami arti kebebasan yang sebenarnya.

Protes akan ketidakbenaran, menuntut hak, bersandar pada hukum selalu diutamakan. Sementara kewajiban yang harus dilaksanakan hanya melaksanakan tanpa dijiwai dengan keiklasan untuk melakukan. Kadang orang tua pun ikut campur mengatur aturan di sekolah. Kalau sudah demikian, peserta didik yang menjadi korban. (*)

DALAM proses belajar mengajar antara guru dan peserta didik diperlukan sekali yang namanya pendekatan, baik secara fisik maupun mental. Terlebih lagi guru sebagai
seseorang yang mempunyai ilmu yang akan membagi ilmunya kepada peserta
didik. Harus paham betul perilaku serta karakteristik peserta didik yang akan dididik.

Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berpikir, dan kemampuan awal yang dimiliki. Banyak cara yang dapat dilakukan, agar seorang guru sebagai tenaga pengajar yang berintegritas, bersinergi, serta layaknya panutan dalam melakukan pengajaran terhadap peserta didik, langkah demi langkah, dapat dipelajari agar seorang guru bisa memahami perilaku, dan karakteristik peserta didiknya, agar bisa menjadikan peserta didiknya mampu memahami ilmu–ilmu yang akan diberikan gurunya.

Anak merupakan tunas berpotensi, generasi penerus yang merupakan variabel (unsur yang ikut menentukan perubahan) dari kelangsungan hidup keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama. Untuk itu, anak perlu dibekali dengan penghidupan dan pendidikan yang layak dan berkualitas. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan sehat, berkembang secara optimal mental, sosial, dan kepribadiannya.

Untuk itu, pendekatan pembiasaan sesungguhnya sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri anak didik. Baik pada aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik. Selain itu, pendekatan pembiasaan juga dinilai sangat efesien dalam mengubah kebiasaan negatif menjadi positif. Namun demikian, pendekatan ini akan jauh dari keberhasilan jika tidak diiringi dengan contoh tauladan yang baik dari dalam keluarga maupun di sekolah.

Baca Juga :  Asesmen Nasional sebagai Potret Sekolah

Mengubah kebiasaan artinya mengubah informasi yang tersimpan. Prinsipnya, sangat sulit untuk mengubahnya. Kebiasaan dibentuk dari kegiatan berulang selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengubahnya dengan mengganti suatu kebiasaan dengan kegiatan rutin yang lain.

Pendidikan karakter yaitu kebiasaan, sesuatu yang menjadi dunia kedua bagi manusia. Sebaliknya, kebiasaan yang destruktif akan mengurangi produktivitas dan masa depan yang bermasalah. Dari kebiasaan akan muncul perilaku peserta didik, di rumah, sekolah, dan masyarakat. Orang lain akan menilai perilaku yang positif dan destruktif dengan ukuran masing-masing. Masa depan akan ditentukan aneka kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan buruk di sekolah memengaruhi hasil peserta didik dan memengaruhi karakter. Sebab, sekolah sudah mempunyai aturan tersendiri yang menyangkut proses belajar dan berlatih. Dengan harapan, karakter disiplin dimiliki peserta didik. Namun, dengan perkembangan lingkungan merubah pola pikir peserta didik mengikuti kebebasan sementara belum dipahami arti kebebasan yang sebenarnya.

Protes akan ketidakbenaran, menuntut hak, bersandar pada hukum selalu diutamakan. Sementara kewajiban yang harus dilaksanakan hanya melaksanakan tanpa dijiwai dengan keiklasan untuk melakukan. Kadang orang tua pun ikut campur mengatur aturan di sekolah. Kalau sudah demikian, peserta didik yang menjadi korban. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/