alexametrics
24.4 C
Kudus
Thursday, May 19, 2022

Implementasi Gerakan Literasi dan Pembiasaan Sekolah Dasar

IMPLEMENTASI gerakan literasi sekolah dalam menumbuhkan minat baca siswa dengan bentuk-bentuk implementasi gerakan literasi sekolah meliputi menambah buku yang menarik, kegiatan membaca lima belas menit sebelum belajar, membuat jurnal membaca, membuat pojok baca dan membuat lingkungan yang kaya akan teks, melaksanakan berbagai perlombaan yang mendukung kegiatan literasi dan membuat perpustakaan yang menarik perhatian siswa. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pesat. Pola kehidupan pada masyarakat selalu berubah termasuk dalam hal berliterasi dan pembisaan sekolah. Saat ini kehidupan masyarakat berada pada era digital, dimana pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dapat membantu masyarakat dalam melakukan literasi secara cepat dan praktis.

Sedangkan Literasi sendiri adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca. Gerakan literasi sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (siswa, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua atau wali murid siswa) akademisi, penerbit, media masa , masyarakat dan pemangku kepentingan dibawah koordinasi Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud, 20016 : 2).

Kegiatan literasi ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat dan budaya membaca siswa. Ditjen Dikdasmen (2016 :4) menyatakan bahwa kegiatan literasi dilaksanakan untuk meningkatkan ketrampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik.Materi baca berisi nilai nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kapubaten, hingga satuan pendidikan. Keterlibatan orang tua siswa atau wali murid serta masyarakat juga menjadi komponen penting dalam gerakan literasi sekolah.


Upaya yang ditempuh untuk mewujudkan literasi sekolah dasar yaitu pembiasaan membaca siswa dengan kegiatan lima belas menit membaca sesuai dengan apa yang kita sukai atau bisa bergantian yang menentukan gurunya (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah), menyisihkan waktu yang tepat dan nyaman, menumbuhkan rasa ingin tahu, minta seseorang merekomendasikan buku dan membaca seperlunya saja. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ketahap pengembangan dan pembelajaran. Tahap-tahap gerakan literasi sekolah dasar antara lain, pertama, pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan dibacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi siswa. Kedua, pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi. Kegiatan litersi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan. Ketiga, pembelajaran berbasis literasi, kegiatan ini pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannnyadengan pengalaman pribadi, berfikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran. Dalam  tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran sekolah).

Baca Juga :  Menulis Cerpen Perlu Digali, meski Pandemi Masih Menghantui

Membaca pada tahap ini untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 2013 yang mensyaratkan siswa membaca buku nonteks  pelajaran yang dapat berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu.Kegiatan utama literasi disamping menulis, membaca juga mengalami perubahan paradigma.Literasi dan pembiasaan butuh aksi nyata, bukan hanya sekedar teori. Literasi membutuhkan kesadaran dan juga kola borasi antara semua pihak sehingga menjadi kreasi, dan meningkatnya minat baca anak didik. (*)

IMPLEMENTASI gerakan literasi sekolah dalam menumbuhkan minat baca siswa dengan bentuk-bentuk implementasi gerakan literasi sekolah meliputi menambah buku yang menarik, kegiatan membaca lima belas menit sebelum belajar, membuat jurnal membaca, membuat pojok baca dan membuat lingkungan yang kaya akan teks, melaksanakan berbagai perlombaan yang mendukung kegiatan literasi dan membuat perpustakaan yang menarik perhatian siswa. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pesat. Pola kehidupan pada masyarakat selalu berubah termasuk dalam hal berliterasi dan pembisaan sekolah. Saat ini kehidupan masyarakat berada pada era digital, dimana pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dapat membantu masyarakat dalam melakukan literasi secara cepat dan praktis.

Sedangkan Literasi sendiri adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca. Gerakan literasi sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (siswa, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua atau wali murid siswa) akademisi, penerbit, media masa , masyarakat dan pemangku kepentingan dibawah koordinasi Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud, 20016 : 2).

Kegiatan literasi ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat dan budaya membaca siswa. Ditjen Dikdasmen (2016 :4) menyatakan bahwa kegiatan literasi dilaksanakan untuk meningkatkan ketrampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik.Materi baca berisi nilai nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kapubaten, hingga satuan pendidikan. Keterlibatan orang tua siswa atau wali murid serta masyarakat juga menjadi komponen penting dalam gerakan literasi sekolah.

Upaya yang ditempuh untuk mewujudkan literasi sekolah dasar yaitu pembiasaan membaca siswa dengan kegiatan lima belas menit membaca sesuai dengan apa yang kita sukai atau bisa bergantian yang menentukan gurunya (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah), menyisihkan waktu yang tepat dan nyaman, menumbuhkan rasa ingin tahu, minta seseorang merekomendasikan buku dan membaca seperlunya saja. Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ketahap pengembangan dan pembelajaran. Tahap-tahap gerakan literasi sekolah dasar antara lain, pertama, pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan dibacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi siswa. Kedua, pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi. Kegiatan litersi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan. Ketiga, pembelajaran berbasis literasi, kegiatan ini pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannnyadengan pengalaman pribadi, berfikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran. Dalam  tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran sekolah).

Baca Juga :  PTM Full Meningkatkan Semangat Belajar Siswa

Membaca pada tahap ini untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 2013 yang mensyaratkan siswa membaca buku nonteks  pelajaran yang dapat berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu.Kegiatan utama literasi disamping menulis, membaca juga mengalami perubahan paradigma.Literasi dan pembiasaan butuh aksi nyata, bukan hanya sekedar teori. Literasi membutuhkan kesadaran dan juga kola borasi antara semua pihak sehingga menjadi kreasi, dan meningkatnya minat baca anak didik. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/