26.4 C
Kudus
Tuesday, February 7, 2023

Hari Pertama Masuk Sekolah Pasca Banjir, Guru dan Siswa di Kudus Sibuk Jemur Buku Pelajaran

KUDUS – Beberapa sekolah terdampak banjir di Kudus sudah mulai masuk kemarin. Para siswa dan guru masih menjemur buku yang tak terselamatkan. Juga membersihkan ruangan terkena air serta lumpur sisa banjir.

Beberapa infrastruktur tetap tak bisa digunakan karena masih ada lumpur dan genangan air.

Seperti di SD 3 Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Awal banjir akhir tahun kemarin, air masuk ke halaman sekolah dan kelas kurang setinggi 80 sentimeter. Sehingga, proses belajar tatap muka terhenti. Kondiisi itu terjadi sejak akhir tahun kemarin hingga awal pekan bulan ini.


Senin (10/1) air mulai surut. Pihak sekolah membersihkan sekolah itu hingga Sabtu (14/1). Baru kemarin, siswa di sekolah itu bisa sekolah kembali dengan tatap muka.

Kepala SD 3 Jati Wetan Ahmad Aliek Muchtar mengatakan kemarin (16/1) sudah bisa digunakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara offline atau tatap muka. Namun, bagian kamar mandi belum bisa digunakan karena masih ada lumpur dan genangan air sekitar 10 sentimeter.

Kelas, ruang guru, halaman dan perpustakaan sudah bersih. Ada beberapa buku yang masih terkena banjir karena tertinggal atau belum diamankan saat banjir.

”Sehingga dijemur anak-anak ini hari ini (kemarin, Red),” ujarnya.

Aliek menambahkan, kepulangan jam sekolah juga normal pukul 12.00. Pada saat sekolah kebanjiran memang benar-benar off belajar. Kalaupun daring terkendala buku-buku siswa tertingal di rumah pada saat mengungsi.

Kali pertama masuk pascabanjir pembelajaran langsung dikebut. Mengejar materi selama dua minggu off. Aliek juga mengaku mendapatkan bantuan dari persatuan guru republik Indonesia (PGRI) Kudus dan rekan-rekan kepala sekolah lainnya. Maka anak-anak mendapatkan buku tulis baru dan perlengkapan sekolah lainnya.

Sementara itu, Aliek ke depan berencana mengusulkan peninggian ruang kelas sisi utara, yakni kelas IV, V, VI sekaligus ruang guru. Kemudian yang sudah ditinggikan, ruang kelas sisi selatan waktu 2016, yakni kelas I, II dan III.

”Halaman sekolah sekarang sudah pavingan. Jadi lumpur-lumpur sisa banjir mudah dibersihan,” jelasnya.

Waktu banjir 2021 belum ada paving ketinggiannya semakin dalam. Tanahnya licin karena berlumpur tapi beruntungnya saat itu masih daring Covid-19.

Aliek menambahkan, tahun ini berupaya mengusulkan bantuan peninggian ruang kelas IV, V, VI dan ruang guru. Dan, perbaikan sarpras seperti belum ada plafon untuk kelas V.

Salah satu siswa kelas VI Maulana mengatakan, rumahnya terendam banjir sehingga mengungsi di rumah bibinya yang tidak terkena banjir. Selama mengungsi, ia tidak membawa perlengkapan sekolah karena darurat dan sekolah juga tidak bisa memberinya tugas.

Baca Juga :  Hari Pertama Gladi Bersih ANBK SD di Jepara Terkendala Server Error

”Ya waktu sekolah banjir sama sekali tidak ada aktivitas belajar. Karena, buku tertinggal di rumah. Saya merasa senang bisa sekolah lagi, agar tugas-tugasnya tidak terlalu banyak. Sudah kelas VI persiapan masuk ke SMP,” ujarnya.

Sementara itu Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus kemarin (16/1) keliling memastikan kondisi sekolah yang terdampak banjir. Berdasarkan data yang didapat masih ada beberapa sekolah menerapkan daring sejak dua pekan lalu.

Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada mengaku telah meninjau langsung sekolah yang terkena banjir. Hal itu untuk mengetahui kondisi sekolah pascabanjir. Termasuk kerusakan apa saja. Dan, bagaimana kegiatan belajar mengajar (KBM).

”Apakah masih ada online atau sudah offlinei,” jelasnya.

Hasil dari penelusurannya kemarin masih ada yang melakukan KBM online, seperti SD 4 Payaman, Kecamatan Mejobo, SMP 2 Undaan, dan SD 4 Karangrowo.

”Dikarenakan masih ada genangan air meski sudah mulai surut,” imbuhnya.

Sementara data KBM sekolah yang terdampak banjir kemarin (16/1) menggelar KBM tatap muka Kecamatan Jati lima SD dan satu SMP. Kecamatan Kaliwungu tiga SD, dan Kecamatan Mejobo ada tiga SD.

”Kami juga masih menunggu laporan dari sekolah-sekolah yang terdampak banjir lainnya. Apa sudah bisa KBM tatap muka atau daring,” kata Harjuna.

Ditambahkan Kabid Dikdas Anggun Nugraha mengatakan, sekolah yang terdampak dan terjadi kerusakan di antaranya plafon ambrol ruang kelas SD 2 Ploso. Kemudian plafon teras dan ruang kelas ambrol SD 3 Megawon. Dan ambrol plafon ruang kelas SD 3 Glagahwaru yang disebabkan angin kencang.

”Tidak menutup kemungkinan bagi SD yang terdampak banjir dan butuh perbaikan sarpras bisa diusulkan. Seperti peninggian ruang kelas atau paving halaman. Kami akan data dan masuk inventarisasi data sekolah rawan bencana. Sehingga, bisa masuk skala prioritas,” jelasnya.

Anggun mengatakan, bagi sekolah yang belum ada plafon bisa diusulkan kembali. Tapi, memang harus bersabar, karena keterbatasan anggaran maka sekolah yang kerusakan parah menjadi skala prioritas.

Menurutnya perbaikan bisa diusulkan pada anggaran APBD perubahan 2023 dan murni 2024. APBD 2023 sudah didok.

”Yang bisa diprioritaskan dari anggaran APBD kabupaten,” paparnya. (san/zen)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Beberapa sekolah terdampak banjir di Kudus sudah mulai masuk kemarin. Para siswa dan guru masih menjemur buku yang tak terselamatkan. Juga membersihkan ruangan terkena air serta lumpur sisa banjir.

Beberapa infrastruktur tetap tak bisa digunakan karena masih ada lumpur dan genangan air.

Seperti di SD 3 Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Awal banjir akhir tahun kemarin, air masuk ke halaman sekolah dan kelas kurang setinggi 80 sentimeter. Sehingga, proses belajar tatap muka terhenti. Kondiisi itu terjadi sejak akhir tahun kemarin hingga awal pekan bulan ini.

Senin (10/1) air mulai surut. Pihak sekolah membersihkan sekolah itu hingga Sabtu (14/1). Baru kemarin, siswa di sekolah itu bisa sekolah kembali dengan tatap muka.

Kepala SD 3 Jati Wetan Ahmad Aliek Muchtar mengatakan kemarin (16/1) sudah bisa digunakan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara offline atau tatap muka. Namun, bagian kamar mandi belum bisa digunakan karena masih ada lumpur dan genangan air sekitar 10 sentimeter.

Kelas, ruang guru, halaman dan perpustakaan sudah bersih. Ada beberapa buku yang masih terkena banjir karena tertinggal atau belum diamankan saat banjir.

”Sehingga dijemur anak-anak ini hari ini (kemarin, Red),” ujarnya.

Aliek menambahkan, kepulangan jam sekolah juga normal pukul 12.00. Pada saat sekolah kebanjiran memang benar-benar off belajar. Kalaupun daring terkendala buku-buku siswa tertingal di rumah pada saat mengungsi.

Kali pertama masuk pascabanjir pembelajaran langsung dikebut. Mengejar materi selama dua minggu off. Aliek juga mengaku mendapatkan bantuan dari persatuan guru republik Indonesia (PGRI) Kudus dan rekan-rekan kepala sekolah lainnya. Maka anak-anak mendapatkan buku tulis baru dan perlengkapan sekolah lainnya.

Sementara itu, Aliek ke depan berencana mengusulkan peninggian ruang kelas sisi utara, yakni kelas IV, V, VI sekaligus ruang guru. Kemudian yang sudah ditinggikan, ruang kelas sisi selatan waktu 2016, yakni kelas I, II dan III.

”Halaman sekolah sekarang sudah pavingan. Jadi lumpur-lumpur sisa banjir mudah dibersihan,” jelasnya.

Waktu banjir 2021 belum ada paving ketinggiannya semakin dalam. Tanahnya licin karena berlumpur tapi beruntungnya saat itu masih daring Covid-19.

Aliek menambahkan, tahun ini berupaya mengusulkan bantuan peninggian ruang kelas IV, V, VI dan ruang guru. Dan, perbaikan sarpras seperti belum ada plafon untuk kelas V.

Salah satu siswa kelas VI Maulana mengatakan, rumahnya terendam banjir sehingga mengungsi di rumah bibinya yang tidak terkena banjir. Selama mengungsi, ia tidak membawa perlengkapan sekolah karena darurat dan sekolah juga tidak bisa memberinya tugas.

Baca Juga :  Nu Care-Lazisnu Kudus Bakal Bagikan 300 Sepeda ke Anak Yatim

”Ya waktu sekolah banjir sama sekali tidak ada aktivitas belajar. Karena, buku tertinggal di rumah. Saya merasa senang bisa sekolah lagi, agar tugas-tugasnya tidak terlalu banyak. Sudah kelas VI persiapan masuk ke SMP,” ujarnya.

Sementara itu Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus kemarin (16/1) keliling memastikan kondisi sekolah yang terdampak banjir. Berdasarkan data yang didapat masih ada beberapa sekolah menerapkan daring sejak dua pekan lalu.

Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada mengaku telah meninjau langsung sekolah yang terkena banjir. Hal itu untuk mengetahui kondisi sekolah pascabanjir. Termasuk kerusakan apa saja. Dan, bagaimana kegiatan belajar mengajar (KBM).

”Apakah masih ada online atau sudah offlinei,” jelasnya.

Hasil dari penelusurannya kemarin masih ada yang melakukan KBM online, seperti SD 4 Payaman, Kecamatan Mejobo, SMP 2 Undaan, dan SD 4 Karangrowo.

”Dikarenakan masih ada genangan air meski sudah mulai surut,” imbuhnya.

Sementara data KBM sekolah yang terdampak banjir kemarin (16/1) menggelar KBM tatap muka Kecamatan Jati lima SD dan satu SMP. Kecamatan Kaliwungu tiga SD, dan Kecamatan Mejobo ada tiga SD.

”Kami juga masih menunggu laporan dari sekolah-sekolah yang terdampak banjir lainnya. Apa sudah bisa KBM tatap muka atau daring,” kata Harjuna.

Ditambahkan Kabid Dikdas Anggun Nugraha mengatakan, sekolah yang terdampak dan terjadi kerusakan di antaranya plafon ambrol ruang kelas SD 2 Ploso. Kemudian plafon teras dan ruang kelas ambrol SD 3 Megawon. Dan ambrol plafon ruang kelas SD 3 Glagahwaru yang disebabkan angin kencang.

”Tidak menutup kemungkinan bagi SD yang terdampak banjir dan butuh perbaikan sarpras bisa diusulkan. Seperti peninggian ruang kelas atau paving halaman. Kami akan data dan masuk inventarisasi data sekolah rawan bencana. Sehingga, bisa masuk skala prioritas,” jelasnya.

Anggun mengatakan, bagi sekolah yang belum ada plafon bisa diusulkan kembali. Tapi, memang harus bersabar, karena keterbatasan anggaran maka sekolah yang kerusakan parah menjadi skala prioritas.

Menurutnya perbaikan bisa diusulkan pada anggaran APBD perubahan 2023 dan murni 2024. APBD 2023 sudah didok.

”Yang bisa diprioritaskan dari anggaran APBD kabupaten,” paparnya. (san/zen)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru