alexametrics
26.9 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Problematika Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19

PEMERINTAH telah mengimbau rakyatnya untuk melakukan social distancing dengan menerapkan system school from home (sekolah dari rumah). Hal ini diharapkan akan memutus rantai penyebaran Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia.

Tentunya hal ini, akan membatasi ruang gerak manusia untuk bersosial dan beraktivitas di luar rumah. Pemerintah juga menghimbau para siswa untuk belajar di rumah dan sebagai gantinya orang tuapun yang mendidik dan mengajari materi yang disampaikan guru melalui HP (internet). Dengan begitu, pengertian belajar dari rumah adalah belajar apa saja yang berada di rumah untuk pembelajarnya bersama orang tua sebagai guru kelas (Luthfi & Ahsani, 2020 P.39).

Belajar di rumah bisa dilakukan dengan panduan orang tua, walaupun di rumah anak didik harus diberikan edukasi yang positif dan produktif. Dengan adanya kemajuan digital yang sangat canggih, belajar di rumah bisa dilakukan dengan cara online tanpa bertatap muka dengan guru dan teman.


Dengan adanya kondisi wabah Covid-19 kemajuan teknologi dapat memudahkan kehidupan secara efektif dan fleksibel. Untuk itu, dalam mengoptimalkan sistem belajar di rumah bisa berjalan baik, dibutuhkan sarana dan prasarana yang baik pula seperti fasilitas internet dalam bentuk kuota belajar. Juga fasilitas belajar seperti komputer atau HP android. Hal tersebut dapat diperuntukkan agar kegiatan belajar at the home dapat berjalan lebih efektif dan lebih efisien dalam pencegahan Covid-19 yang sangat berbahaya itu.

Tidak demikian halnya dengan di daerah-daerah yang tertinggal atau daerah pedalaman yang belum terjangkau listrik dan belum meratanya penggunaan media elektronik. Ketiadaan gadget dan ketiadaan aliran listrik, semua siswa tidak memiliki HP android apalagi laptop. Jadi, untuk penerapan materi secara online agak sulit dan dirasa semua sekolah pasti seperti itu juga.

Baca Juga :  Ini Soal Taste, Tak Sekadar Teori

Salah satu cara untuk menyikapi masalah atau mengatasi kesulitan listrik dan ketiadaan gadget, guru tersebut menerapkan pembelajaran secara manual ke tiap-tiap rumah siswa. Sesuai arahan pemerintah, agar semua siswanya tidak ketinggalan materi pembelajaran.

Kalau berkunjung ke rumah siswa juga semua guru harus menerapkan standart prokes Covid-19. Seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sesuai dengan arahan dinas. Untuk belajar online tak mungkin. Jangankan laptop, ponsel saja ada yang tidak punya.

Untuk itu, agar tidak menambah beban para orang tua siswa, guru di daerah terpencil memilih menyambangi satu persatu rumah siswanya. Padahal jarak tempuhnya tidak dekat. Salah satu orang tua siswa mengaku dalam kondisi seperti ini, ia berupaya mengontrol dan membimbing anaknya untuk tetap belajar di rumah.

Sebagai rekomendasi ke depan yang dibutuhkan adalah kemitraan publik dan banyak pihak yang berkelanjutan. Dibutuhkan adanya komunikasi kolaborasi, kerja sama, dan koordinasi yang baik. Kompetensi guru menjadi penentu utama keberhasilan proses pembelajaran daring, sehingga mereka harus terus memperkaya kompetensi dan keterampilan yang didukung kebijakan sekolah yang yang mendorong terus belajar mengevaluasi pembelajaran daring tersebut, agar tujuannya bisa tercapai secara optimal.

Beban belajar peserta didik harus logis dan terukur. Beban belajar peserta didik tentunya harus dipertimbangkan terukur baik secara materi maupun waktu. Guru tidak boleh semata-mata memberikan tugas tetapi harus mempertimbangkan secara matang. Guru tidak boleh lupa untuk mengapresiasi capaian peserta didik, agar tujuan pembelajaran tercapai.

Tidak kalah pentingnya, dalam pembelajran daring adalah kurikulum yang fleksibel dan siap menghadapi pandemi. (*)

PEMERINTAH telah mengimbau rakyatnya untuk melakukan social distancing dengan menerapkan system school from home (sekolah dari rumah). Hal ini diharapkan akan memutus rantai penyebaran Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia.

Tentunya hal ini, akan membatasi ruang gerak manusia untuk bersosial dan beraktivitas di luar rumah. Pemerintah juga menghimbau para siswa untuk belajar di rumah dan sebagai gantinya orang tuapun yang mendidik dan mengajari materi yang disampaikan guru melalui HP (internet). Dengan begitu, pengertian belajar dari rumah adalah belajar apa saja yang berada di rumah untuk pembelajarnya bersama orang tua sebagai guru kelas (Luthfi & Ahsani, 2020 P.39).

Belajar di rumah bisa dilakukan dengan panduan orang tua, walaupun di rumah anak didik harus diberikan edukasi yang positif dan produktif. Dengan adanya kemajuan digital yang sangat canggih, belajar di rumah bisa dilakukan dengan cara online tanpa bertatap muka dengan guru dan teman.

Dengan adanya kondisi wabah Covid-19 kemajuan teknologi dapat memudahkan kehidupan secara efektif dan fleksibel. Untuk itu, dalam mengoptimalkan sistem belajar di rumah bisa berjalan baik, dibutuhkan sarana dan prasarana yang baik pula seperti fasilitas internet dalam bentuk kuota belajar. Juga fasilitas belajar seperti komputer atau HP android. Hal tersebut dapat diperuntukkan agar kegiatan belajar at the home dapat berjalan lebih efektif dan lebih efisien dalam pencegahan Covid-19 yang sangat berbahaya itu.

Tidak demikian halnya dengan di daerah-daerah yang tertinggal atau daerah pedalaman yang belum terjangkau listrik dan belum meratanya penggunaan media elektronik. Ketiadaan gadget dan ketiadaan aliran listrik, semua siswa tidak memiliki HP android apalagi laptop. Jadi, untuk penerapan materi secara online agak sulit dan dirasa semua sekolah pasti seperti itu juga.

Baca Juga :  Permainan Puzzle Tingkatkan Daya Ingat Siswa

Salah satu cara untuk menyikapi masalah atau mengatasi kesulitan listrik dan ketiadaan gadget, guru tersebut menerapkan pembelajaran secara manual ke tiap-tiap rumah siswa. Sesuai arahan pemerintah, agar semua siswanya tidak ketinggalan materi pembelajaran.

Kalau berkunjung ke rumah siswa juga semua guru harus menerapkan standart prokes Covid-19. Seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sesuai dengan arahan dinas. Untuk belajar online tak mungkin. Jangankan laptop, ponsel saja ada yang tidak punya.

Untuk itu, agar tidak menambah beban para orang tua siswa, guru di daerah terpencil memilih menyambangi satu persatu rumah siswanya. Padahal jarak tempuhnya tidak dekat. Salah satu orang tua siswa mengaku dalam kondisi seperti ini, ia berupaya mengontrol dan membimbing anaknya untuk tetap belajar di rumah.

Sebagai rekomendasi ke depan yang dibutuhkan adalah kemitraan publik dan banyak pihak yang berkelanjutan. Dibutuhkan adanya komunikasi kolaborasi, kerja sama, dan koordinasi yang baik. Kompetensi guru menjadi penentu utama keberhasilan proses pembelajaran daring, sehingga mereka harus terus memperkaya kompetensi dan keterampilan yang didukung kebijakan sekolah yang yang mendorong terus belajar mengevaluasi pembelajaran daring tersebut, agar tujuannya bisa tercapai secara optimal.

Beban belajar peserta didik harus logis dan terukur. Beban belajar peserta didik tentunya harus dipertimbangkan terukur baik secara materi maupun waktu. Guru tidak boleh semata-mata memberikan tugas tetapi harus mempertimbangkan secara matang. Guru tidak boleh lupa untuk mengapresiasi capaian peserta didik, agar tujuan pembelajaran tercapai.

Tidak kalah pentingnya, dalam pembelajran daring adalah kurikulum yang fleksibel dan siap menghadapi pandemi. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/