alexametrics
24.7 C
Kudus
Thursday, May 19, 2022

Menata Kata agar Tiada Derita

KATA-KATA, begitu mudah dikeluarkan, baik melalui lisan atau tulisan. Betapa manusia dengan ringan menyampaikan apa yang ia kehendaki. Terlebih di era teknologi informasi, rentetan kata dengan mudah dikeluarkan melalui “tarian” jari-jemari. Update status atau memberikan komentar melalui medial sosial ditujukan bisa kepada siapapun, bahkan orang tak dikenal.

Jari-jemari seolah mewakili lisan, berkata tentang apa yang ada di dalam pikiran, tanpa peduli layak tidaknya ia dipublikasikan. Terkadang sesorang tidak berpikir tentang akibat dari kata-kata yang ia buat. Mengalir begitu saja, seolah sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Hebatnya lagi, seseorang yang pendiam di dunia nyata, ia bisa begitu “cerewet” di dunia maya, atau orang yang jahat bisa bersikap seolah orang yang terhormat.

Sayangnya, kata-kata yang sering ditata menjadi ucapan atau tulisan tidak selalu baik dan menghadirkan manfaat. Bisa jadi ia dibumbui dengan diksi yang menyakitkan, atau dihiasi dengan kebohongan, atau bermuatan kemaksiatan. Mereka yang mudah mengeluarkan kata-kata –tak peduli baik atau buruk-seolah tidak tahu, atau tidak mau tahu, tentang sebuah nasihat yang sering diperdengarkan.


Sederhana, namun kata-kata yang terucap bisa begitu bahaya bagi pelakunya, atau juga bagi orang lain. Seorang manusia ketika hendak menyusun sekian kata menjadi kalimat, adalah dengan melihat apakah kata-kata itu termasuk dalam kategori tercela. Ya, karena setiap kata yang keluar –baik atau buruk- akan selalu ada yang memperhatikan.

Rangkaian kata yang berisi ucapan kotor, hinaan, menyakiti orang lain, fitnah, adu domba, atau dipenuhi kebohongan bisa menyebabkan pelakunya merasakan akibatnya. Tak salah sebuah pepatah menuturkan, “kata-kata lebih berbahaya daripada senjata.” Karena untaian kata yang baik, ia akan memberikan dampak yang baik, sedangkan rangkaian kata yang “busuk” akan menyebabkan akibat yang buruk. Bagi pelakunya, ia dinilai telah melakukan perbuatan tercela dan akan mendapatkan balasan buruk. Apalagi jika kata-kata itu mengajak kepada keburukan, lalu diikuti oleh orang lain, dosanya semakin menggurita, besar dan terus bertambah.

Baca Juga :  Tata Krama Siswa di Masa Pandemi

Adab terbaik bagi seorang insan yang baik adalah mempertimbangkan kembali kata-kata yang hendak ia ucapkan. Tanyakan kembali kepada hati kita, apakah kata-kata yang hendak dikeluarkan akan melahirkan kebaikan atau justru menhadirkan keburukan. Jangan terbuai dengan kesederhanaan kata-kata, karena setiap kata yang teruntai ada akibat yang menanti. Apabila engkau hendak berkata maka pikirkan dahulu. Jika yang Nampak adalah kebaikan, maka ucapkanlah perkataan tersebut. Akan tetapi, apabila yang nampak adalah keburukan, atau engkau ragu-ragu, maka tahanlah dirimu dari mengucapkannya.

Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap insan memperhatikan apa yang hendak ia ucapkan melalui lisannya, atau kata-kata yang akan dirangkai melalui tulisannya. Dipikirkan kembali sebelum berkata, jika baik dan berguna, ia boleh menyampaikannya, dan jika buruk atau dapat mendatangkan keburukan, sebaiknya ia diam. Jangan sampai menganggap hal ini sebagai perkara yang sepele, karena ringan bagi kita ternyata hal itu adalah perkara yang dapat menyebabkan kerusakan yang besar. (*)

KATA-KATA, begitu mudah dikeluarkan, baik melalui lisan atau tulisan. Betapa manusia dengan ringan menyampaikan apa yang ia kehendaki. Terlebih di era teknologi informasi, rentetan kata dengan mudah dikeluarkan melalui “tarian” jari-jemari. Update status atau memberikan komentar melalui medial sosial ditujukan bisa kepada siapapun, bahkan orang tak dikenal.

Jari-jemari seolah mewakili lisan, berkata tentang apa yang ada di dalam pikiran, tanpa peduli layak tidaknya ia dipublikasikan. Terkadang sesorang tidak berpikir tentang akibat dari kata-kata yang ia buat. Mengalir begitu saja, seolah sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Hebatnya lagi, seseorang yang pendiam di dunia nyata, ia bisa begitu “cerewet” di dunia maya, atau orang yang jahat bisa bersikap seolah orang yang terhormat.

Sayangnya, kata-kata yang sering ditata menjadi ucapan atau tulisan tidak selalu baik dan menghadirkan manfaat. Bisa jadi ia dibumbui dengan diksi yang menyakitkan, atau dihiasi dengan kebohongan, atau bermuatan kemaksiatan. Mereka yang mudah mengeluarkan kata-kata –tak peduli baik atau buruk-seolah tidak tahu, atau tidak mau tahu, tentang sebuah nasihat yang sering diperdengarkan.

Sederhana, namun kata-kata yang terucap bisa begitu bahaya bagi pelakunya, atau juga bagi orang lain. Seorang manusia ketika hendak menyusun sekian kata menjadi kalimat, adalah dengan melihat apakah kata-kata itu termasuk dalam kategori tercela. Ya, karena setiap kata yang keluar –baik atau buruk- akan selalu ada yang memperhatikan.

Rangkaian kata yang berisi ucapan kotor, hinaan, menyakiti orang lain, fitnah, adu domba, atau dipenuhi kebohongan bisa menyebabkan pelakunya merasakan akibatnya. Tak salah sebuah pepatah menuturkan, “kata-kata lebih berbahaya daripada senjata.” Karena untaian kata yang baik, ia akan memberikan dampak yang baik, sedangkan rangkaian kata yang “busuk” akan menyebabkan akibat yang buruk. Bagi pelakunya, ia dinilai telah melakukan perbuatan tercela dan akan mendapatkan balasan buruk. Apalagi jika kata-kata itu mengajak kepada keburukan, lalu diikuti oleh orang lain, dosanya semakin menggurita, besar dan terus bertambah.

Baca Juga :  Belajar Asik Siswa Aktif

Adab terbaik bagi seorang insan yang baik adalah mempertimbangkan kembali kata-kata yang hendak ia ucapkan. Tanyakan kembali kepada hati kita, apakah kata-kata yang hendak dikeluarkan akan melahirkan kebaikan atau justru menhadirkan keburukan. Jangan terbuai dengan kesederhanaan kata-kata, karena setiap kata yang teruntai ada akibat yang menanti. Apabila engkau hendak berkata maka pikirkan dahulu. Jika yang Nampak adalah kebaikan, maka ucapkanlah perkataan tersebut. Akan tetapi, apabila yang nampak adalah keburukan, atau engkau ragu-ragu, maka tahanlah dirimu dari mengucapkannya.

Oleh karenanya, menjadi kewajiban setiap insan memperhatikan apa yang hendak ia ucapkan melalui lisannya, atau kata-kata yang akan dirangkai melalui tulisannya. Dipikirkan kembali sebelum berkata, jika baik dan berguna, ia boleh menyampaikannya, dan jika buruk atau dapat mendatangkan keburukan, sebaiknya ia diam. Jangan sampai menganggap hal ini sebagai perkara yang sepele, karena ringan bagi kita ternyata hal itu adalah perkara yang dapat menyebabkan kerusakan yang besar. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/