alexametrics
25 C
Kudus
Wednesday, June 29, 2022

Pendidikan New Normal

PENDIDIKAN saat ini ada telah memasuki era new normal. Di mana memiliki kebiasaan baru dalam melaksanakan pembelajaran, seperti belajar secara daring (online), sehingga mau tidak mau melaksanakan pendidikan secara jarak jauh. Padahal sebelumnya, sekolah menghindari menerapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Sebab, merasa tidak memiliki dukungan yang cukup dalam hal biaya, fasilitas, dan kompetensi guru. Banyak orang tua siswa yang sebelumnya menitipkan sebagian besar tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru dan sekolah, kini menerimanya kembali.

Memasuki new normal, beberapa daerah menyambut rencana ini dengan beragam. Daerah-daerah yang kondisinya dinilai sudah hijau menyatakan siap membuka kembali pembelajaran di sekolah. Sementara daerah yang masih terkategori kuning atau merah, tegas menyatakan penundaan dan memilih opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

Sekolah daring menjadi tambahan beban tersendiri bagi para orang tua. Baik secara ekonomi maupun mental. Mereka yang terlanjur berpikir mendidik adalah kewajiban sekolah, tiba-tiba harus bertanggung jawab penuh terhadap sekolah anaknya. Adapun para siswa, bersekolah di tengah pandemi menjadi penderitaan tersendiri bagi mereka. Karena selain dipaksa melahap begitu banyak target pembelajaran di rumah, juga harus berhadapan dengan ”guru” baru yang tak paham bagaimana mendidik dan mengajar.


Dunia pendidikan Indonesia memiliki sejumlah tantangan akibat adanya pandemi. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dituntut bersikap adaptif terhadap transformasi yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Baca Juga :  Menuju Pemulihan Pembelajaran, Ayo Praktik Salat

Pandemi ini membawa angin perubahan yang menuntut revolusi mental dari umat manusia pada segala lini usia di dunia khususnya Indonesia. Lebih khusus lagi pemangku kepentingan pendidikan.

Menjadi kurang normal jika new normal dikelola secara old normal. Perubahan cara belajar masa pandemi atau dikenal dengan istilah pembelajaran daring nyatanya bukan sebuah formula dalam mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Perubahan tersebut justru mengakibatkan kegagapan dalam menjawab tantangan di setiap perubahan yang terjadi.

Melalui kebijakan pembelajaran daring tersebut, banyak pihak terkait yang terlihat belum siap. Ini dapat kita lihat dari sisi penguasaan IT pendidik, ekonomi siswa, jangkauan teknologi menurut letak geografis, dan lain-lain.

Guru juga bisa menyelipkan cerita tentang keteladanan dalam materi ajar, sehingga murid terpancing untuk ingin tahu lebih jauh. Atau bisa juga dengan memberikan tugas bagi siswa yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan karakter seperti kejujuran, belas kasih, keberanian, kerja sama, dan kerja keras. Sedangkan guru yang fasih teknologi belum tentu mampu berinovasi memberikan materi pembelajaran daring, apalagi guru yang gagap teknologi.

Sebab, itu sudah menjadi sebuah keharusan bagi guru untuk memahami teknologi. Setidaknya yang bisa dimanfaatkan untuk mengajar secara daring meskipun ada solusi lain yang bisa dilakukan. Yaitu dengan meminta bantuan dari guru-guru teknologi, agar mau belajar menguasai teknologi, sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara daring atau jarak jauh, agar tidak gagap teknologi. (*)

PENDIDIKAN saat ini ada telah memasuki era new normal. Di mana memiliki kebiasaan baru dalam melaksanakan pembelajaran, seperti belajar secara daring (online), sehingga mau tidak mau melaksanakan pendidikan secara jarak jauh. Padahal sebelumnya, sekolah menghindari menerapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Sebab, merasa tidak memiliki dukungan yang cukup dalam hal biaya, fasilitas, dan kompetensi guru. Banyak orang tua siswa yang sebelumnya menitipkan sebagian besar tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru dan sekolah, kini menerimanya kembali.

Memasuki new normal, beberapa daerah menyambut rencana ini dengan beragam. Daerah-daerah yang kondisinya dinilai sudah hijau menyatakan siap membuka kembali pembelajaran di sekolah. Sementara daerah yang masih terkategori kuning atau merah, tegas menyatakan penundaan dan memilih opsi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring.

Sekolah daring menjadi tambahan beban tersendiri bagi para orang tua. Baik secara ekonomi maupun mental. Mereka yang terlanjur berpikir mendidik adalah kewajiban sekolah, tiba-tiba harus bertanggung jawab penuh terhadap sekolah anaknya. Adapun para siswa, bersekolah di tengah pandemi menjadi penderitaan tersendiri bagi mereka. Karena selain dipaksa melahap begitu banyak target pembelajaran di rumah, juga harus berhadapan dengan ”guru” baru yang tak paham bagaimana mendidik dan mengajar.

Dunia pendidikan Indonesia memiliki sejumlah tantangan akibat adanya pandemi. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dituntut bersikap adaptif terhadap transformasi yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Baca Juga :  Manfaat Guru Dituntut Menguasai Teknologi

Pandemi ini membawa angin perubahan yang menuntut revolusi mental dari umat manusia pada segala lini usia di dunia khususnya Indonesia. Lebih khusus lagi pemangku kepentingan pendidikan.

Menjadi kurang normal jika new normal dikelola secara old normal. Perubahan cara belajar masa pandemi atau dikenal dengan istilah pembelajaran daring nyatanya bukan sebuah formula dalam mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Perubahan tersebut justru mengakibatkan kegagapan dalam menjawab tantangan di setiap perubahan yang terjadi.

Melalui kebijakan pembelajaran daring tersebut, banyak pihak terkait yang terlihat belum siap. Ini dapat kita lihat dari sisi penguasaan IT pendidik, ekonomi siswa, jangkauan teknologi menurut letak geografis, dan lain-lain.

Guru juga bisa menyelipkan cerita tentang keteladanan dalam materi ajar, sehingga murid terpancing untuk ingin tahu lebih jauh. Atau bisa juga dengan memberikan tugas bagi siswa yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan karakter seperti kejujuran, belas kasih, keberanian, kerja sama, dan kerja keras. Sedangkan guru yang fasih teknologi belum tentu mampu berinovasi memberikan materi pembelajaran daring, apalagi guru yang gagap teknologi.

Sebab, itu sudah menjadi sebuah keharusan bagi guru untuk memahami teknologi. Setidaknya yang bisa dimanfaatkan untuk mengajar secara daring meskipun ada solusi lain yang bisa dilakukan. Yaitu dengan meminta bantuan dari guru-guru teknologi, agar mau belajar menguasai teknologi, sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara daring atau jarak jauh, agar tidak gagap teknologi. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/