alexametrics
31.5 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Kok, Siswa SD Wajib Vaksin Covid-19?

KEBIJAKAN Pengaturan Kriteria Sekolah dalam Surat Keputusan Bersama empat Menteri mulai Januari 2022, semua satuan pendidikan di wilayah level I, II, dan III wajib PTM (pembelajaran tatap muka) terbatas. Pemerintah daerah memperbolehkan PTM terbatas bagi yang memenuhi kriteria dan tidak boleh menambahkan kriteria yang lebih berat.

Strategi percepatan vaksinasi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik pun dilaksanakan. Kebijakan tentang vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), peserta didik SLTA dan SLTP sudah terlakasana.

Berdasarkan Instruksi menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2021 tentang pelaksanaan vaksinasi anak usia 6-11 tahun, di awal tahun ini peserta didik SD mendapat vaksinasi Covid-19. Semua itu sebagai upaya mewujudkan PTM aman dari Covid-19. Setelah sekian lama terbelenggu dengan dengan PJJ (pembelajaran jarak jauh) dan PTM (pembelajaran tatap muka) terbatas.


Pemberian vaksin anak usia 6-11 tahun dimulai dari wilayah yang sudah melaksanakan vaksinasi dosis pertama di atas 70 persen dan vaksinasi lansia di atas 60 persen. Pemerintah sudah mentargetkan hingga 6,6 juta anak Indonesia sudah divaksinasi dosis pertama di awal 2022.

Ada sejumlah alasan anak usia 6-11 tahun harus divaksinasi Covid-19. Indonesia sehat salah satunya berawal dari anak-anak yang sehat. Pertimbangan pertama anak-anak usia 6-11 tahun ketika terserang Covid-19 cenderung ringan atau tanpa gejala. Tetapi infeksi Covid-19 sangat mungkin menyebabkan gejala berat pada anak. Terutama anak dengan komorbid, seperti memiliki penyakit jantung bawaan, asma, dan diabetes.

Pertimbangan kedua, anak yang terpapar Covid-19 dapat menularkan kepada anggota keluarga lain. Terutama bila dalam satu rumah ada lansia. Lansia dengan komorbid yang belum mendapatkan vaksin dapat berisiko tinggi bila terinfeksi virus korona. Vaksinasi pada anak bukan hanya menguntungkan anak tetapi juga orang lain yang berada di lingkungan.

Baca Juga :  Skill Baca Alquran Meningkat dengan Metode Tahsin WA

Ketiga, pembelajaran tatap muka terbatas sudah dimulai. Anak-anak harus memiliki kekebalan tubuh yang bagus untuk mencegah adanya klaster di sekolah. Vaksinasi pada anak juga sangat penting guna mencapai kekebalan kelompok. Syarat terciptanya kekebalan kelompok  adalah sudah tervaksinnya 70 persen sasaran termasuk anak-anak.

Karena pentingnya vaksin bagi siswa SD, sebelum pelaksanaan vaksin satuan pendidikan diwajibkan memberikan sosialisasi kepada wali murid. Mengimbau agar sarapan sebelum divaksin, siswa diwajibkan membawa KK untuk input data vaksinasi. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang pentingnya vaksinasi Covid-19. Memotivasi siswa agar tidak takut dan membuat kondisi siswa nyaman dengan para petugas dan tenaga kesehatan.

Rasa takut pada anak-anak itu pasti ada. Apalagi anak usia SD. Orang tua saja pada saat awal-awal diwajibkan vaksin Covid-19 ada yang tidak siap. Dengan berbagai alasan, ada yang takut pemberitaan di media massa bahwa setelah divaksin Covid-19 sakitnya tambah parah, bahkan meninggal dunia. Ketakutan itu sangat berpengaruh, sehingga ketika akan divaksin tekanan darah dan gula darahnya naik, akhirnya harus bolak-balik ke tempat vaksin.

Untuk menghilangkan rasa takut pada anak SD, ketika pelaksnaan vaksin Covid-19 orang tua boleh mendampingi. Hal ini juga untuk memudahkan petugas kesehatan pada saat melakukan screening kesehatan anak sebelum vaksin. Karena orang tua yang lebih memahami riwayat kesehatan anak. Kalau kita bertanya kepada anak mungkin jawaban yang kita peroleh belum maksimal. Apalagi yang masih kelas rendah.

Mudah-mudahan dengan percepatan pelaksanaan vaksin Covid-19 pada anak-anak dan seluruh lapisan masyarakat akan memutus mata rantai penularan virus Covid-19. Tentunya kita tetap wajib menerapkan protokol kesehatan dan 5-M; memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. (*)

KEBIJAKAN Pengaturan Kriteria Sekolah dalam Surat Keputusan Bersama empat Menteri mulai Januari 2022, semua satuan pendidikan di wilayah level I, II, dan III wajib PTM (pembelajaran tatap muka) terbatas. Pemerintah daerah memperbolehkan PTM terbatas bagi yang memenuhi kriteria dan tidak boleh menambahkan kriteria yang lebih berat.

Strategi percepatan vaksinasi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik pun dilaksanakan. Kebijakan tentang vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), peserta didik SLTA dan SLTP sudah terlakasana.

Berdasarkan Instruksi menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2021 tentang pelaksanaan vaksinasi anak usia 6-11 tahun, di awal tahun ini peserta didik SD mendapat vaksinasi Covid-19. Semua itu sebagai upaya mewujudkan PTM aman dari Covid-19. Setelah sekian lama terbelenggu dengan dengan PJJ (pembelajaran jarak jauh) dan PTM (pembelajaran tatap muka) terbatas.

Pemberian vaksin anak usia 6-11 tahun dimulai dari wilayah yang sudah melaksanakan vaksinasi dosis pertama di atas 70 persen dan vaksinasi lansia di atas 60 persen. Pemerintah sudah mentargetkan hingga 6,6 juta anak Indonesia sudah divaksinasi dosis pertama di awal 2022.

Ada sejumlah alasan anak usia 6-11 tahun harus divaksinasi Covid-19. Indonesia sehat salah satunya berawal dari anak-anak yang sehat. Pertimbangan pertama anak-anak usia 6-11 tahun ketika terserang Covid-19 cenderung ringan atau tanpa gejala. Tetapi infeksi Covid-19 sangat mungkin menyebabkan gejala berat pada anak. Terutama anak dengan komorbid, seperti memiliki penyakit jantung bawaan, asma, dan diabetes.

Pertimbangan kedua, anak yang terpapar Covid-19 dapat menularkan kepada anggota keluarga lain. Terutama bila dalam satu rumah ada lansia. Lansia dengan komorbid yang belum mendapatkan vaksin dapat berisiko tinggi bila terinfeksi virus korona. Vaksinasi pada anak bukan hanya menguntungkan anak tetapi juga orang lain yang berada di lingkungan.

Baca Juga :  Pemkab Rembang Pastikan Klaster Covid-19 di Industri Tak Benar

Ketiga, pembelajaran tatap muka terbatas sudah dimulai. Anak-anak harus memiliki kekebalan tubuh yang bagus untuk mencegah adanya klaster di sekolah. Vaksinasi pada anak juga sangat penting guna mencapai kekebalan kelompok. Syarat terciptanya kekebalan kelompok  adalah sudah tervaksinnya 70 persen sasaran termasuk anak-anak.

Karena pentingnya vaksin bagi siswa SD, sebelum pelaksanaan vaksin satuan pendidikan diwajibkan memberikan sosialisasi kepada wali murid. Mengimbau agar sarapan sebelum divaksin, siswa diwajibkan membawa KK untuk input data vaksinasi. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang pentingnya vaksinasi Covid-19. Memotivasi siswa agar tidak takut dan membuat kondisi siswa nyaman dengan para petugas dan tenaga kesehatan.

Rasa takut pada anak-anak itu pasti ada. Apalagi anak usia SD. Orang tua saja pada saat awal-awal diwajibkan vaksin Covid-19 ada yang tidak siap. Dengan berbagai alasan, ada yang takut pemberitaan di media massa bahwa setelah divaksin Covid-19 sakitnya tambah parah, bahkan meninggal dunia. Ketakutan itu sangat berpengaruh, sehingga ketika akan divaksin tekanan darah dan gula darahnya naik, akhirnya harus bolak-balik ke tempat vaksin.

Untuk menghilangkan rasa takut pada anak SD, ketika pelaksnaan vaksin Covid-19 orang tua boleh mendampingi. Hal ini juga untuk memudahkan petugas kesehatan pada saat melakukan screening kesehatan anak sebelum vaksin. Karena orang tua yang lebih memahami riwayat kesehatan anak. Kalau kita bertanya kepada anak mungkin jawaban yang kita peroleh belum maksimal. Apalagi yang masih kelas rendah.

Mudah-mudahan dengan percepatan pelaksanaan vaksin Covid-19 pada anak-anak dan seluruh lapisan masyarakat akan memutus mata rantai penularan virus Covid-19. Tentunya kita tetap wajib menerapkan protokol kesehatan dan 5-M; memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/