alexametrics
25.4 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Membangun Budaya Literasi Siswa di Masa Pandemi

KONDISI pandemi yang saat ini sedang melanda hampir diseluruh negara. Telah memberikan perubahan yang sangat signifikan dalam dunia pendidikan. Perubahan ini menimbulkan keresahan dalam pelaksanaan pendidikan secara nasional, khususnya dan international pada umumnya.

Salah satu keresahan yang dihadapi, yaitu motivasi siswa dalam belajar dan mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di mana dapat kita lihat kenyataan di lapangan, minat siswa untuk membaca dan menulis terkalahkan dengan adanya gadget yang sudah ada dalam genggaman tangan.

Mereka lebih asyik untuk memainkan gadget dibandingkan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Salah satu upaya yang mungkin bisa kita lakukan untuk menangkal agar mereka tidak larut dalam sajian gadget, memberikan rangsangan dan motivasi dalam belajar melalui kegiatan pembiasaan literasi.


Kegiatan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya gemar membaca dan menulis meskipun pembelajarannya via online. Ini suatu tantangan bagi pendidik yang harus dilakukan bagaimana memotivasi siswa untuk membiasakan diri membaca buku di rumah. Kegiatan ini tidaklah terwujud tanpa adanya kolaborasi peran pendidik dengan orang tua siswa.

Mengapa budaya literasi itu penting? Budaya literasi penting, karena literasi merupakan indikator dalam meningkatkan prestasi generasi muda untuk mencapai kesuksesan. Maka, dengan kondisi pandemi yang kita alami ini, jangan sampai membuat generasi muda kita terpuruk, tertinggal, dan tidak berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri maupun bangsanya.

Beberapa hal yang perlu pendidik dan orang tua lakukan untuk membangun budaya literasi siswa pada masa pandemi. Pertama, guru hendaknya menyisipkan materi bacaan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan menekankan kepada siswa untuk read and read (baca dan baca). Pada kegiatan ini, guru harus kreatif dan inovatif dalam mengemas materi bacaannya, sehingga siswa tidak jenuh untuk mengakses.

Baca Juga :  Jadikan Dirimu Menarik, agar Anak Tertarik

Untuk mengetahui siswa yang benar-benar melakukukan kegiatan literasi, guru memberikan lembar kerja (LK) kepada siswa dan meminta siswa untuk mengirimkan. Kemudian, bagi siswa yang sudah melakukan kegiatan literasi, guru juga memberikan reward yang menyenangkan siswa.

Kedua, guru memberikan tugas menulis kepada siswa. Kegiatan menulis ini bisa berupa membuat karangan, membuat cerpen, membuat puisi, dan lain-lain. Sebagai contoh, guru memberi tugas kepada siswa untuk menuliskan aktivitas yang siswa lakukan setiap hari selama masa pandemi. Kegiatan menulis ini, akan menantang siswa untuk lebih banyak membaca. Dengan membaca, siswa akan mampu mengembangkan gagasan dan memiliki informasi yang banyak, sehingga memicu siswa untuk berpikir.

Ketiga, orang tua siswa hendaknya melakukan pendampingan selama PJJ. Mengapa perlu pendampingan? Hal ini dilakukan karena generasi milenial yang saat ini sangat akrab dengan gadget,  perlu diarahkan dan dibangun budaya literasinya, sehingga mereka mampu memfilter semua informasi yang diterima dan bijak dalam menggunakan gadget.

Keempat, orang tua siswa hendaknya menyediakan buku-buku bacaan yang disukai anak. Untuk mengusir kejenuhan anak selama PJJ, orang tua harus mencermati dan menambahkan bahan-bahan bacaan yang saat ini disukai anak. Contohnya buku novel, cerpen, dongeng, komik, dan buku-buku menarik lain. Dengan kesadaran orang tua tersebut, anak termotivasi untuk melakukan kegiatan litersi di rumah.

Demikianlah hal-hal yang dapat penulis sampaikan. Mari kita bersama-sama sebagai pendidik untuk tetap semangat mendidik, membimbing, memberikan support kepada anak didik kita untuk tetap semangat belajar dan membangun budaya literasinya, meski pandemi Covid-19 masih melanda negeri kita tercinta ini. (*)

KONDISI pandemi yang saat ini sedang melanda hampir diseluruh negara. Telah memberikan perubahan yang sangat signifikan dalam dunia pendidikan. Perubahan ini menimbulkan keresahan dalam pelaksanaan pendidikan secara nasional, khususnya dan international pada umumnya.

Salah satu keresahan yang dihadapi, yaitu motivasi siswa dalam belajar dan mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di mana dapat kita lihat kenyataan di lapangan, minat siswa untuk membaca dan menulis terkalahkan dengan adanya gadget yang sudah ada dalam genggaman tangan.

Mereka lebih asyik untuk memainkan gadget dibandingkan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Salah satu upaya yang mungkin bisa kita lakukan untuk menangkal agar mereka tidak larut dalam sajian gadget, memberikan rangsangan dan motivasi dalam belajar melalui kegiatan pembiasaan literasi.

Kegiatan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya gemar membaca dan menulis meskipun pembelajarannya via online. Ini suatu tantangan bagi pendidik yang harus dilakukan bagaimana memotivasi siswa untuk membiasakan diri membaca buku di rumah. Kegiatan ini tidaklah terwujud tanpa adanya kolaborasi peran pendidik dengan orang tua siswa.

Mengapa budaya literasi itu penting? Budaya literasi penting, karena literasi merupakan indikator dalam meningkatkan prestasi generasi muda untuk mencapai kesuksesan. Maka, dengan kondisi pandemi yang kita alami ini, jangan sampai membuat generasi muda kita terpuruk, tertinggal, dan tidak berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri maupun bangsanya.

Beberapa hal yang perlu pendidik dan orang tua lakukan untuk membangun budaya literasi siswa pada masa pandemi. Pertama, guru hendaknya menyisipkan materi bacaan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan menekankan kepada siswa untuk read and read (baca dan baca). Pada kegiatan ini, guru harus kreatif dan inovatif dalam mengemas materi bacaannya, sehingga siswa tidak jenuh untuk mengakses.

Baca Juga :  Siswa Libur, Guru Tetap Masuk

Untuk mengetahui siswa yang benar-benar melakukukan kegiatan literasi, guru memberikan lembar kerja (LK) kepada siswa dan meminta siswa untuk mengirimkan. Kemudian, bagi siswa yang sudah melakukan kegiatan literasi, guru juga memberikan reward yang menyenangkan siswa.

Kedua, guru memberikan tugas menulis kepada siswa. Kegiatan menulis ini bisa berupa membuat karangan, membuat cerpen, membuat puisi, dan lain-lain. Sebagai contoh, guru memberi tugas kepada siswa untuk menuliskan aktivitas yang siswa lakukan setiap hari selama masa pandemi. Kegiatan menulis ini, akan menantang siswa untuk lebih banyak membaca. Dengan membaca, siswa akan mampu mengembangkan gagasan dan memiliki informasi yang banyak, sehingga memicu siswa untuk berpikir.

Ketiga, orang tua siswa hendaknya melakukan pendampingan selama PJJ. Mengapa perlu pendampingan? Hal ini dilakukan karena generasi milenial yang saat ini sangat akrab dengan gadget,  perlu diarahkan dan dibangun budaya literasinya, sehingga mereka mampu memfilter semua informasi yang diterima dan bijak dalam menggunakan gadget.

Keempat, orang tua siswa hendaknya menyediakan buku-buku bacaan yang disukai anak. Untuk mengusir kejenuhan anak selama PJJ, orang tua harus mencermati dan menambahkan bahan-bahan bacaan yang saat ini disukai anak. Contohnya buku novel, cerpen, dongeng, komik, dan buku-buku menarik lain. Dengan kesadaran orang tua tersebut, anak termotivasi untuk melakukan kegiatan litersi di rumah.

Demikianlah hal-hal yang dapat penulis sampaikan. Mari kita bersama-sama sebagai pendidik untuk tetap semangat mendidik, membimbing, memberikan support kepada anak didik kita untuk tetap semangat belajar dan membangun budaya literasinya, meski pandemi Covid-19 masih melanda negeri kita tercinta ini. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/