alexametrics
23.6 C
Kudus
Saturday, January 22, 2022

Balada PJJ dan PTM Terbatas

MENGACU pada kebijakan PPKM dan SKB 4 menteri, pelaksanaan pembelajaran tahun 2021/2022 untuk daerah level 1 dan 2 dapat memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan mengutamakan kehati-hatian, keselamatan, dan kesehatan warga sekolah. Sementara untuk daerah yang berada di level 3 dan 4, masih harus menggelar pembelajaran secara jarak jauh (PJJ).

Genap satu setengah tahun kita melaksanakan PJJ dan satu semester ini kita melaksanakan PTM terbatas. Pembelajaran daring menjadi pilihan dari tingkat TK sampai perguruan tinggi.

Kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh menjadi tantangan. Mau tidak mau guru diharuskan mampu memanfaatkan IT. Kelihatannya mudah, kita tinggal setting kelas melalui aplikasi sesuai rencana yang kita buat. Namun dalam pelaksanaan banyak kendalanya. Misalnya akses internet yang tidak stabil atau terbatas di wilayah tertentu. Kemendikbud memang pernah memberikan kuota belajar yang cukup bagi siswa dan guru. Namun belum menyelesaikan masalah. Sebab ada masalah baru: bosan.

Ada lagi fenomena yang terjadi pada siswa SD, banyak siswa yang belum memiliki gawai sendiri terutama yang kelas rendah. Guru sudah membuat grup kelas dengan aplikasi WA dengan harapan informasi tentang pembelajaran dapat diakses. TetapiĀ  HP dibawa orang tua bekerja pulang sore hari. Anak di rumah bebas bermain sesukanya karena tidak mengetahui ada pembelajaran.

Untuk menjembatani hal seperti itu, guru melakukan pendampingan secara luring dari rumah ke rumah. Untuk efisiensi dibuat kelompok kecil dua sampai empat orang. Ada lagi masukan dari wali murid untuk mengirim video pembelajaran saja agar dapat diputar setiap saat. Gurupun harus siap, membuat video pembelajaran atau memanfaatkan video pembelajaran yang tersedia di kanal youTube. Cara ini membutuhkan arahan yang tepat dan pendampingan agar anak-anak tidak meng-eksplore konten-konten yang bersifat negatif.

Baca Juga :  Angkringan, Kuliner Idola Kekinian

Pembelajaran tatap muka terbabatas memberikan angin segar atas segala kepenatan guru dan orang tua semasa PJJ. Belajar kembali di sekolah disambut dengan suka cita, meskipun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan jumlah kelas terbatas. Sekolah mempersiapkan sarana kebersihan, cuci tangan, cek suhu tubuh semua warga sekolah, kantin sekolah tidak dibuka, tidak ada jam istirahat dan olahraga. Walaupun waktunya terbatas, namun ada interaksi edukatif yang efektif untuk mengembalikan semangat belajar dan memupuk nilai-nilai karakter siswa yang selama PJJ kurang mendapat perhatian.

Pembelajaran tatap muka terbatas juga sangat membantu bagi siswa kelas satu baru untuk mengenalkan konsep huruf dan bilangan. Ketika PJJ guru sangat kesulitan mengajar membaca permulaan. Siswa yang belum mampu merangkai huruf menjadi kata membutuhkan pendampingan ekstra. Mungkin di rumah sudah didampingi orang tua, namun kadang kurang maksimal. Sifat kekanak-kanakan yang ingin selalu bermain menjadikan sulit konsentrasi. Kurang sabarnya orang tua menghadapi hal-hal seperti itu juga menjadi hambatan.

Pembelajaran tatap muka terbatas mengembalikan situasi kelas yang sesungguhnya, terjadi interaksi sosial antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Dari interaksi inilah yang mampu mengembangkan kebiasaan baik yang akan membentuk karakter siswa. Misalnya, menghormati, menghargai, peduli, kerja sama, dan lain-lain.

Peran orang tua dan keluarga juga ikut menentukan keberhasilan pelaksanaan PJJ dan PTM terbatas. Ketika anak belajar dari rumah, kehadiran fisik sosok guru tetap dibutuhkan sebagai tempat bertanya. Orang tua dan anggota keluarga lainnya bisa mendampingi anak untuk tetap belajar. Bagi orang tua yang bekerja di luar rumah dan tidak dapat mendampingi setiap waktu, dapat digantikan anggota keluarga yang lain. (*)

MENGACU pada kebijakan PPKM dan SKB 4 menteri, pelaksanaan pembelajaran tahun 2021/2022 untuk daerah level 1 dan 2 dapat memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan mengutamakan kehati-hatian, keselamatan, dan kesehatan warga sekolah. Sementara untuk daerah yang berada di level 3 dan 4, masih harus menggelar pembelajaran secara jarak jauh (PJJ).

Genap satu setengah tahun kita melaksanakan PJJ dan satu semester ini kita melaksanakan PTM terbatas. Pembelajaran daring menjadi pilihan dari tingkat TK sampai perguruan tinggi.

Kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran jarak jauh menjadi tantangan. Mau tidak mau guru diharuskan mampu memanfaatkan IT. Kelihatannya mudah, kita tinggal setting kelas melalui aplikasi sesuai rencana yang kita buat. Namun dalam pelaksanaan banyak kendalanya. Misalnya akses internet yang tidak stabil atau terbatas di wilayah tertentu. Kemendikbud memang pernah memberikan kuota belajar yang cukup bagi siswa dan guru. Namun belum menyelesaikan masalah. Sebab ada masalah baru: bosan.

Ada lagi fenomena yang terjadi pada siswa SD, banyak siswa yang belum memiliki gawai sendiri terutama yang kelas rendah. Guru sudah membuat grup kelas dengan aplikasi WA dengan harapan informasi tentang pembelajaran dapat diakses. TetapiĀ  HP dibawa orang tua bekerja pulang sore hari. Anak di rumah bebas bermain sesukanya karena tidak mengetahui ada pembelajaran.

Untuk menjembatani hal seperti itu, guru melakukan pendampingan secara luring dari rumah ke rumah. Untuk efisiensi dibuat kelompok kecil dua sampai empat orang. Ada lagi masukan dari wali murid untuk mengirim video pembelajaran saja agar dapat diputar setiap saat. Gurupun harus siap, membuat video pembelajaran atau memanfaatkan video pembelajaran yang tersedia di kanal youTube. Cara ini membutuhkan arahan yang tepat dan pendampingan agar anak-anak tidak meng-eksplore konten-konten yang bersifat negatif.

Baca Juga :  Angkringan, Kuliner Idola Kekinian

Pembelajaran tatap muka terbabatas memberikan angin segar atas segala kepenatan guru dan orang tua semasa PJJ. Belajar kembali di sekolah disambut dengan suka cita, meskipun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan jumlah kelas terbatas. Sekolah mempersiapkan sarana kebersihan, cuci tangan, cek suhu tubuh semua warga sekolah, kantin sekolah tidak dibuka, tidak ada jam istirahat dan olahraga. Walaupun waktunya terbatas, namun ada interaksi edukatif yang efektif untuk mengembalikan semangat belajar dan memupuk nilai-nilai karakter siswa yang selama PJJ kurang mendapat perhatian.

Pembelajaran tatap muka terbatas juga sangat membantu bagi siswa kelas satu baru untuk mengenalkan konsep huruf dan bilangan. Ketika PJJ guru sangat kesulitan mengajar membaca permulaan. Siswa yang belum mampu merangkai huruf menjadi kata membutuhkan pendampingan ekstra. Mungkin di rumah sudah didampingi orang tua, namun kadang kurang maksimal. Sifat kekanak-kanakan yang ingin selalu bermain menjadikan sulit konsentrasi. Kurang sabarnya orang tua menghadapi hal-hal seperti itu juga menjadi hambatan.

Pembelajaran tatap muka terbatas mengembalikan situasi kelas yang sesungguhnya, terjadi interaksi sosial antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Dari interaksi inilah yang mampu mengembangkan kebiasaan baik yang akan membentuk karakter siswa. Misalnya, menghormati, menghargai, peduli, kerja sama, dan lain-lain.

Peran orang tua dan keluarga juga ikut menentukan keberhasilan pelaksanaan PJJ dan PTM terbatas. Ketika anak belajar dari rumah, kehadiran fisik sosok guru tetap dibutuhkan sebagai tempat bertanya. Orang tua dan anggota keluarga lainnya bisa mendampingi anak untuk tetap belajar. Bagi orang tua yang bekerja di luar rumah dan tidak dapat mendampingi setiap waktu, dapat digantikan anggota keluarga yang lain. (*)

Most Read

Artikel Terbaru