alexametrics
30.8 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Peningkatan Karakter Siswa melalui Salat Jamaah Duhur

SEMANGAT luar biasa suasana salat jamaah Dhuhur di musala SMP Negeri 2 Wirosari membuat suasana panas menjadi sejuk. Karena wudu, juga keakraban, kekompakan kepala sekolah, guru, memberikan semangat motivasi belajar siswa tanpa terasa sudah menanamkan nilai nilai karakter.

Apalagi di dalam kegiatan jamaah antara guru dan siswa salat dalam satu komando imam. Mencerminkan pendidikan yang luar biasa sebagai manah sabda Rosulullah SAW : Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: ”Salat berjamaah  lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan dua 27 derajat” (H.R. Bukhari dan Muslim). Melihat keistimewaan lain bagi orang yang rajin salat berjamaah adalah akan dibebaskan Allah SWT dari api neraka. Perhatikan keterangan dari hadis berikut ini.

”Dari Anas bin Malik RA, dari Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya beliau bersabda: Barang siapa salat di masjid berjamaah selama 40 malam dan tidak pernah tertinggal pada rakaat pertama dari salat Isya, maka Allah akan membebaskan baginya dari api neraka (H.R. Ibnu Majah).


Mengikuti jejak para sahabat, berjamaah beserta Rasulullah seperti Abu Bakar Sidiq, Umar bin Khottob, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib semuanya ahli salat berjamaah beserta Rasulullah.

SMPN 2 Wirosari dengan semangat melaksanakan salat jamaah Dhuhur walaupun harus mengikuti aturan kesehatan karena ada covid. Pada jam istirahat kedua pukul 11.45 atau menyesuaikan waktu dhuhur. Kali pertama direncanakan atas ide Bapak Suwarno, S.Pd, MM. Didukung semua guru, khususnya kepala SMPN 2 Wirosari Bapak Siswanto, S.Pd., MM, dan dilaksanakan sampai sekarang walaupun harus rajin pakai masker.

Dalam melakukan proses pengembangan budaya mutu sekolah tersebut, dilakukan melalui tiga tatanan. Pertama, pengembangan pada spirit dan nilai-nilai. Kedua, pengembangan pada teknis. Ketiga, pengembangan pada social (Depdiknas:2004.32).

Baca Juga :  Asyik Belajar PAI dengan Index Card Match

Pada tatanan pertama, dengan mengidentifikasi berbagai spirit dan nilai nilai kualitas kehidupan sekolah yang dianut sekolah. Pada tatanan kedua, dengan mengembangkan berbagai prosedur kerja manajemen (management work proscedures), sarana manajemen (management tool), dan kebiasaan kerja (management work habits) berbasis sekolah yang betul-betul merefleksikan spirit dan nilai-nilai yang dibudayakan di sekolah.

Sedangkan pada tatanan ketiga, pengembangan tatanan sosial dalam konteks  pengembangan budaya sekolah adalah proses implementasi dan intitusionalisasi, sehingga menjadi sebagai suatu kebiasaan (work habits) di sekolah dan di luar sekolah.

Keluar sekolah tampak perpengaruh terhadap perubahan sikap maupun prilaku dari setiap warga sekolah. Kultur sekolah yang positif menciptakan suasanan kondusif bagi tercapainya visi dan misi sekolah.

Demikian sebaliknya kultur negatif membuat pencapaian visi dan misi sekolah mengalami banyak masalah. Kultur positif misalnya, kemauan menghargai hasil karya orang lain, kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, motivasi terus untuk berprestasi komitmen, serta dedikasi kepada tanggung jawab.

Sedangkan kultur negatif misalnya, tidak menghargai hasil karya orang lain, tidak menghargai perbedaan, kurangnya komitmen, dan tidak ada motivasi berprestasi pada warga sekolah.

Dengan budanya salat jamaah Dhuhur di sekolah, akan memberi nilai tambah terhadap setiap warga sekolah mengenai hakikat hidup, sehingga keberadaan individu di lingkungan sekolah telah berupaya menciptakan suasana sekolah kondusif pada proses pembelajaran. Selanjutnya, melaui budaya salat berjamaah Dhuhur di sekolah ini, ikhtiar menumbuh kembangkan dan pembinaan terhadap nilai nilai karakter dan ibadah ilahiyah yang akan mencapai tujuan. Antara lain keimanan, ketakwaan, kejujuran, kedisiplinan, keteladanan, suasana demokratis, kepedulian, keterbukaan, kebersamaan, keamanan, ketertiban, kebersihan, kesehatan, keindahan, dan kebahagiaan sejati. (*)

SEMANGAT luar biasa suasana salat jamaah Dhuhur di musala SMP Negeri 2 Wirosari membuat suasana panas menjadi sejuk. Karena wudu, juga keakraban, kekompakan kepala sekolah, guru, memberikan semangat motivasi belajar siswa tanpa terasa sudah menanamkan nilai nilai karakter.

Apalagi di dalam kegiatan jamaah antara guru dan siswa salat dalam satu komando imam. Mencerminkan pendidikan yang luar biasa sebagai manah sabda Rosulullah SAW : Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: ”Salat berjamaah  lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan dua 27 derajat” (H.R. Bukhari dan Muslim). Melihat keistimewaan lain bagi orang yang rajin salat berjamaah adalah akan dibebaskan Allah SWT dari api neraka. Perhatikan keterangan dari hadis berikut ini.

”Dari Anas bin Malik RA, dari Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya beliau bersabda: Barang siapa salat di masjid berjamaah selama 40 malam dan tidak pernah tertinggal pada rakaat pertama dari salat Isya, maka Allah akan membebaskan baginya dari api neraka (H.R. Ibnu Majah).

Mengikuti jejak para sahabat, berjamaah beserta Rasulullah seperti Abu Bakar Sidiq, Umar bin Khottob, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib semuanya ahli salat berjamaah beserta Rasulullah.

SMPN 2 Wirosari dengan semangat melaksanakan salat jamaah Dhuhur walaupun harus mengikuti aturan kesehatan karena ada covid. Pada jam istirahat kedua pukul 11.45 atau menyesuaikan waktu dhuhur. Kali pertama direncanakan atas ide Bapak Suwarno, S.Pd, MM. Didukung semua guru, khususnya kepala SMPN 2 Wirosari Bapak Siswanto, S.Pd., MM, dan dilaksanakan sampai sekarang walaupun harus rajin pakai masker.

Dalam melakukan proses pengembangan budaya mutu sekolah tersebut, dilakukan melalui tiga tatanan. Pertama, pengembangan pada spirit dan nilai-nilai. Kedua, pengembangan pada teknis. Ketiga, pengembangan pada social (Depdiknas:2004.32).

Baca Juga :  Perlukah Gamifikasi dalam Pembelajaran?

Pada tatanan pertama, dengan mengidentifikasi berbagai spirit dan nilai nilai kualitas kehidupan sekolah yang dianut sekolah. Pada tatanan kedua, dengan mengembangkan berbagai prosedur kerja manajemen (management work proscedures), sarana manajemen (management tool), dan kebiasaan kerja (management work habits) berbasis sekolah yang betul-betul merefleksikan spirit dan nilai-nilai yang dibudayakan di sekolah.

Sedangkan pada tatanan ketiga, pengembangan tatanan sosial dalam konteks  pengembangan budaya sekolah adalah proses implementasi dan intitusionalisasi, sehingga menjadi sebagai suatu kebiasaan (work habits) di sekolah dan di luar sekolah.

Keluar sekolah tampak perpengaruh terhadap perubahan sikap maupun prilaku dari setiap warga sekolah. Kultur sekolah yang positif menciptakan suasanan kondusif bagi tercapainya visi dan misi sekolah.

Demikian sebaliknya kultur negatif membuat pencapaian visi dan misi sekolah mengalami banyak masalah. Kultur positif misalnya, kemauan menghargai hasil karya orang lain, kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, motivasi terus untuk berprestasi komitmen, serta dedikasi kepada tanggung jawab.

Sedangkan kultur negatif misalnya, tidak menghargai hasil karya orang lain, tidak menghargai perbedaan, kurangnya komitmen, dan tidak ada motivasi berprestasi pada warga sekolah.

Dengan budanya salat jamaah Dhuhur di sekolah, akan memberi nilai tambah terhadap setiap warga sekolah mengenai hakikat hidup, sehingga keberadaan individu di lingkungan sekolah telah berupaya menciptakan suasana sekolah kondusif pada proses pembelajaran. Selanjutnya, melaui budaya salat berjamaah Dhuhur di sekolah ini, ikhtiar menumbuh kembangkan dan pembinaan terhadap nilai nilai karakter dan ibadah ilahiyah yang akan mencapai tujuan. Antara lain keimanan, ketakwaan, kejujuran, kedisiplinan, keteladanan, suasana demokratis, kepedulian, keterbukaan, kebersamaan, keamanan, ketertiban, kebersihan, kesehatan, keindahan, dan kebahagiaan sejati. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/