alexametrics
24.4 C
Kudus
Saturday, May 28, 2022

Efek Covid-19 dalam Dunia Pendidikan

SEJAK adanya virus corona pada 2020 lalu sampai sekarang ini, banyak regulasi yang dibuat pemerintah. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan. Dalam dunia pendidikan contohnya. Sekolah-sekolah ditututup, pembelajaran tatap muka diubah menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan). Bahkan, sempat muncul istilah wisuda online yang dikhususkan bagi para pelajar saat mereka dinyatakan lulus sekolah.

Selain adanya pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ), sekolah juga menerapkan protokol kesehatan (prokes) bagi semua civitas akademika yang berkecimpung di dunia pendidikan. Guru, murid, hingga karyawan sekolah diwajibkan untuk menerapkan prokes, yang meliputi penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, menjaga jarak, tidak bersalaman, menggunakan face shield hingga jadwal masuk sekolah yang dibuat secara bergilir.

Terlebih bagi para siswa, mereka memang diwajibkan untuk menggunakan masker ketika berada di lingkungan sekolah. Hal tersebut, tentu saja melindungi diri mereka agar tidak terpapar virus korona.


Kemudian, pihak sekolah juga melakukan langkah dengan menempatkan sejumlah tempat cuci tangan di depan pintu kelas. Di tempat cuci tangan tersebut, juga dilengkapi dengan sabun dan tentunya air bersih.

Kemudian, untuk ruang kelas juga dibuat berjarak tidak berhimpitan seperti sebelumnya. Hal itu tentu saja dimaksudkan agar tempat duduk siswa antara satu dengan yang lain tetap ada jarak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Selanjutnya, siswa tidak semuanya diperbolehkan masuk kelas. Biasanya dalam satu kelas dibagi menjadi dua sesi. Contohnya, mereka yang mempunyai absen ganjil masuk Senin, Rabu, dan Jumat. Sedangkan yang mempunyai absen genap masuk Selasa, Kamis dan Sabtu.

Efek Covid-19 dalam dunia pendidikan juga begantung pada boleh tidaknya izin dari orang tua murid, agar anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) yang dilakukan di sekolah. Sebab, pada saat ganas-ganasnya virus tersebut, tidak sedikit dari siswa yang sempat terpapar virus korona. Sehingga sejumlah sekolah terpaksa menutup aktivitas kegiatan belajar mengajar.

Baca Juga :  Stok Vaksin di Kabupaten Pati Kosong Sebabkan Percepatan Tersendat

Setelah sejumlah aturan ataupun prokes ditaati dan virus korona mulai melandai, pemerintah kemudian menerapkan aturan baru. Semua civitas akademika diwajibkan untuk melakukan vaksinasi.

Awalnya, vaksinasi diperuntukkan bagi para guru yang memang kerentanannya terpapar Covid-19 lebih besar daripada para siswa. Selain melakukan vaksinasi, para guru juga melakukan swab antigen.

Setelah itu, para siswa juga diwajibkan untuk melakukan vaksinasi. Bahkan, sejumlah sekolah juga menerapkan vaksinasi masal yang diselenggarakan di sekolah bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait.

Efek Covid-19 dalam dunia pendidikan memang sangat berpengaruh pada kegiatan belajar mengajar. Para guru diwajibkan melek teknologi, karena harus menyesuaikan diri dengan pembelajaran secara daring. Kalau biasanya guru dan siswa bertatap muka di ruang kelas, dengan dampak Covid-19, kami hanya dapat bertatap muka menggunakan smartphone.

Langkah pemerintah dalam mempercepat vaksinasi bagi dunia pendidikan juga sangat tepat. Saya menilai, apabila program vaksinasi terus dipercepat, maka imunitas tubuh bagi para guru ataupun siswa semakin baik. Hal itu tentu saja berdampak baik bagi kembalinya aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah.

Maka dari itu, saya berpandangan, apabila PJJ tetap dilakukan hasilnya tidak akan optimal bagi para siswa, sehingga pembelajaran tatap muka akan menjadi lebih efektif daripada PJJ. Saya menyimpulkan, efek Covid-19 sangat berpengaruh besar dalam dunia pendidikan. Aturan diberlakukannya prokes, PJJ, hingga vaksinasi bagi para civitas akademika membuktikan betapa besar pengaruhnya dampak Covid-19 dalam dunia pendidikan. (*/lin)

SEJAK adanya virus corona pada 2020 lalu sampai sekarang ini, banyak regulasi yang dibuat pemerintah. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan. Dalam dunia pendidikan contohnya. Sekolah-sekolah ditututup, pembelajaran tatap muka diubah menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan). Bahkan, sempat muncul istilah wisuda online yang dikhususkan bagi para pelajar saat mereka dinyatakan lulus sekolah.

Selain adanya pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ), sekolah juga menerapkan protokol kesehatan (prokes) bagi semua civitas akademika yang berkecimpung di dunia pendidikan. Guru, murid, hingga karyawan sekolah diwajibkan untuk menerapkan prokes, yang meliputi penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, menjaga jarak, tidak bersalaman, menggunakan face shield hingga jadwal masuk sekolah yang dibuat secara bergilir.

Terlebih bagi para siswa, mereka memang diwajibkan untuk menggunakan masker ketika berada di lingkungan sekolah. Hal tersebut, tentu saja melindungi diri mereka agar tidak terpapar virus korona.

Kemudian, pihak sekolah juga melakukan langkah dengan menempatkan sejumlah tempat cuci tangan di depan pintu kelas. Di tempat cuci tangan tersebut, juga dilengkapi dengan sabun dan tentunya air bersih.

Kemudian, untuk ruang kelas juga dibuat berjarak tidak berhimpitan seperti sebelumnya. Hal itu tentu saja dimaksudkan agar tempat duduk siswa antara satu dengan yang lain tetap ada jarak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Selanjutnya, siswa tidak semuanya diperbolehkan masuk kelas. Biasanya dalam satu kelas dibagi menjadi dua sesi. Contohnya, mereka yang mempunyai absen ganjil masuk Senin, Rabu, dan Jumat. Sedangkan yang mempunyai absen genap masuk Selasa, Kamis dan Sabtu.

Efek Covid-19 dalam dunia pendidikan juga begantung pada boleh tidaknya izin dari orang tua murid, agar anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) yang dilakukan di sekolah. Sebab, pada saat ganas-ganasnya virus tersebut, tidak sedikit dari siswa yang sempat terpapar virus korona. Sehingga sejumlah sekolah terpaksa menutup aktivitas kegiatan belajar mengajar.

Baca Juga :  Stop Perundungan, Ciptakan Kenyamanan

Setelah sejumlah aturan ataupun prokes ditaati dan virus korona mulai melandai, pemerintah kemudian menerapkan aturan baru. Semua civitas akademika diwajibkan untuk melakukan vaksinasi.

Awalnya, vaksinasi diperuntukkan bagi para guru yang memang kerentanannya terpapar Covid-19 lebih besar daripada para siswa. Selain melakukan vaksinasi, para guru juga melakukan swab antigen.

Setelah itu, para siswa juga diwajibkan untuk melakukan vaksinasi. Bahkan, sejumlah sekolah juga menerapkan vaksinasi masal yang diselenggarakan di sekolah bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait.

Efek Covid-19 dalam dunia pendidikan memang sangat berpengaruh pada kegiatan belajar mengajar. Para guru diwajibkan melek teknologi, karena harus menyesuaikan diri dengan pembelajaran secara daring. Kalau biasanya guru dan siswa bertatap muka di ruang kelas, dengan dampak Covid-19, kami hanya dapat bertatap muka menggunakan smartphone.

Langkah pemerintah dalam mempercepat vaksinasi bagi dunia pendidikan juga sangat tepat. Saya menilai, apabila program vaksinasi terus dipercepat, maka imunitas tubuh bagi para guru ataupun siswa semakin baik. Hal itu tentu saja berdampak baik bagi kembalinya aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah.

Maka dari itu, saya berpandangan, apabila PJJ tetap dilakukan hasilnya tidak akan optimal bagi para siswa, sehingga pembelajaran tatap muka akan menjadi lebih efektif daripada PJJ. Saya menyimpulkan, efek Covid-19 sangat berpengaruh besar dalam dunia pendidikan. Aturan diberlakukannya prokes, PJJ, hingga vaksinasi bagi para civitas akademika membuktikan betapa besar pengaruhnya dampak Covid-19 dalam dunia pendidikan. (*/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/