alexametrics
26.8 C
Kudus
Wednesday, July 6, 2022

Ekonomi Kreatif Sarana Latih Wirausaha bagi Siswa

MENCIPTAKAN suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna adalah suatu tantangan bagi guru, karena dengan pembelajaran yang menyenangkan siswa akan termotivasi untuk belajar tanpa adanya rasa terpaksa. Ilmu Pengetahuan Sosial yang materinya terdiri dari beberapa subdisiplin ilmu mengharuskan guru memilih metode yang tepat dalam membahas setiap permasalahan. Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam mencukupi kebutuhannya. Permasalahan ekonomi adalah permasalahan yang komplek, sehingga anak-anak juga perlu diberi pemahaman dan pengertian, untuk bekal mereka dikelak kemudian hari.

Permasalahan ekonomi akan berdampak pada aspek sosial dimasyarakat, yang menjadi permasalahan disini, dengan cara apa siswa diberi pemahaman tentang kehidupan manusia yang semakin lama akan mengalami kendala dalam mencukupi kebutuhannya, karena sumber daya alam yang ada lama kelamaan akan habis dan mengalami kelangkaan. Salah satu materi yang cocok adalah ekonomi kreatif,  dalam pembelajaran ekonomi kreatif siswa diberi kesempatan untuk memilih kreatifitasnya. Siswa adalah bagian dari generasi muda yang memiliki potensi idealisme yang menjadi harapan untuk memegang estafet perekonomian bangsa. Terdapat empat prinsip yang diperlukan dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia, yaitu yang pertama, penguasaan IPTEK, kedua, peningkatan literasi mengenai pola pikir desain / desaign thinking, ketiga, pelestarian seni dan budaya sebagai inspirasi dan keempat, pengembangan dan pemanfaatan media sebagai saluran distribusi dan presentasi karya dan konten kreatif. (Rochmat Aldy Purnomo, 2016: 32).

Media sosial yang saat ini mudah diakses, menjadikan medsos memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sebagai sarana pemasaran produk dari hasil kreatifitas siswa, contohnya adalah hasil-hasil kerajinan siswa yang dibuat dari bantuan tutorial, atau melalui pelajaran Prakarya.  Hasil karya siswa dikelompokkan berdasarkan  asal bahannya yaitu  dari limbah  plastik, limbah organik atau dari bahan dasar yang lain. Siswa dapat diberi motivasi dari pengalaman pelajar yang lain, contohnya adalah kreatifitas Aufa Hanum seorang siswi SMA asal Bogor yang berhasil mendaur ulang limbah tandan kosong kelapa sawit yang dimanfaatkan sebagai media tanam, bahkan berkat kerja kerasnya, sekarang memiliki pekerja 15 tenaga. Dan tentunya masih banyak pengalaman yang lain yang dilakukan siswa untuk menghasilkan suatu barang yang bernilai ekonomi.

Baca Juga :  Tantangan Pembelajaran Paud Di Masa Pandemi Covid-19

Menurut Navi Agustina, bahwa jiwa wirausaha harus dipupuk sejak dini, dan tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, melalui langkah-langkah  diantaranya adalah pertama, menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak sejak dini, kedua yaitu mengenalkan dan menciptakan peluang bisnis, ketiga menanamkan semangat mencipta bukan membeli, keempat ubah hobby dan minat menjadi bisnis dan beri motivasi dengan cerita tokoh tokoh pengusaha, kelima konsep cinta lingkungan, keenam yaitu menanamkan pada mental anak agar tidak takut akan kegagalan, (Majalah Suara Aisyiah: 2015).

Melatih wirausaha pada siswa dimulai dari ha-hal yang kecil dulu, contohnya siswa diminta membuat jajanan, atau hasil karya sendiri kemudian siswa diminta menjual dengan cara menawarkan pada teman-temannya, dengan cara ini otomatis siswa akan belajar menyusun strategi bisnis dari mulai memikirkan hasil karya yang sedang banyak dibutuhkan atau yang mudah menarik selera konsumen, merencanakan membeli bahan baku, membuat kemasan dan menentukan harga. Siswa juga harus diberi pengertian agar tidak gengsi atau merasa rendah diri ketika  menawarkan hasil karyanya. Sekarang ini berjualan atau menawarkan barang tidak harus bertemu langsung antara penjual dan pembeli, yaitu dengan cara on line, sehingga siswa tidak usah merasa malu, siswa juga harus kreatif menawarkan hasil karyanya, dengan membuat status atau bisa melalui group- group WA.

Ada beberapa potensi yang dimiliki siswa untuk berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif, khususnya sekolah-sekolah kejuruan dengan membuat desain, membuat produk kerajinan dan seni, atau membuat karya yang lain dari yang lain. Sekecil apapun usaha mereka harus diapresiasi, melalui pameran-pameran hasil karya siswa. Ada beberapa kendala yang dihadapi ketika melatih siswa untuk berwirausaha, kendala yang utama adalah permasalahan sumber daya alam di lingkungan sekitar, waktu pembelajaran yang cenderung terbatas, dan kreatifitas antara siswa yang satu dengan yang lainnya berbeda, teknologi yang dibutuhkan, serta modal  untuk memulai berkarya. Peranan siswa dalam pengembangan ekonomi kreatif harus dijelaskan secara khusus, agar siswa memiliki mental produktif,   berfikir untuk terus memberi, bukan meminta, sehingga dengan bekal mental yang kuat menjadi modal yang besar untuk memulai berwirausaha. (*)

MENCIPTAKAN suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna adalah suatu tantangan bagi guru, karena dengan pembelajaran yang menyenangkan siswa akan termotivasi untuk belajar tanpa adanya rasa terpaksa. Ilmu Pengetahuan Sosial yang materinya terdiri dari beberapa subdisiplin ilmu mengharuskan guru memilih metode yang tepat dalam membahas setiap permasalahan. Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam mencukupi kebutuhannya. Permasalahan ekonomi adalah permasalahan yang komplek, sehingga anak-anak juga perlu diberi pemahaman dan pengertian, untuk bekal mereka dikelak kemudian hari.

Permasalahan ekonomi akan berdampak pada aspek sosial dimasyarakat, yang menjadi permasalahan disini, dengan cara apa siswa diberi pemahaman tentang kehidupan manusia yang semakin lama akan mengalami kendala dalam mencukupi kebutuhannya, karena sumber daya alam yang ada lama kelamaan akan habis dan mengalami kelangkaan. Salah satu materi yang cocok adalah ekonomi kreatif,  dalam pembelajaran ekonomi kreatif siswa diberi kesempatan untuk memilih kreatifitasnya. Siswa adalah bagian dari generasi muda yang memiliki potensi idealisme yang menjadi harapan untuk memegang estafet perekonomian bangsa. Terdapat empat prinsip yang diperlukan dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia, yaitu yang pertama, penguasaan IPTEK, kedua, peningkatan literasi mengenai pola pikir desain / desaign thinking, ketiga, pelestarian seni dan budaya sebagai inspirasi dan keempat, pengembangan dan pemanfaatan media sebagai saluran distribusi dan presentasi karya dan konten kreatif. (Rochmat Aldy Purnomo, 2016: 32).

Media sosial yang saat ini mudah diakses, menjadikan medsos memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sebagai sarana pemasaran produk dari hasil kreatifitas siswa, contohnya adalah hasil-hasil kerajinan siswa yang dibuat dari bantuan tutorial, atau melalui pelajaran Prakarya.  Hasil karya siswa dikelompokkan berdasarkan  asal bahannya yaitu  dari limbah  plastik, limbah organik atau dari bahan dasar yang lain. Siswa dapat diberi motivasi dari pengalaman pelajar yang lain, contohnya adalah kreatifitas Aufa Hanum seorang siswi SMA asal Bogor yang berhasil mendaur ulang limbah tandan kosong kelapa sawit yang dimanfaatkan sebagai media tanam, bahkan berkat kerja kerasnya, sekarang memiliki pekerja 15 tenaga. Dan tentunya masih banyak pengalaman yang lain yang dilakukan siswa untuk menghasilkan suatu barang yang bernilai ekonomi.

Baca Juga :  Pentingnya Penguasaan Teknologi Terintegrasi

Menurut Navi Agustina, bahwa jiwa wirausaha harus dipupuk sejak dini, dan tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, melalui langkah-langkah  diantaranya adalah pertama, menumbuhkan kecerdasan finansial pada anak sejak dini, kedua yaitu mengenalkan dan menciptakan peluang bisnis, ketiga menanamkan semangat mencipta bukan membeli, keempat ubah hobby dan minat menjadi bisnis dan beri motivasi dengan cerita tokoh tokoh pengusaha, kelima konsep cinta lingkungan, keenam yaitu menanamkan pada mental anak agar tidak takut akan kegagalan, (Majalah Suara Aisyiah: 2015).

Melatih wirausaha pada siswa dimulai dari ha-hal yang kecil dulu, contohnya siswa diminta membuat jajanan, atau hasil karya sendiri kemudian siswa diminta menjual dengan cara menawarkan pada teman-temannya, dengan cara ini otomatis siswa akan belajar menyusun strategi bisnis dari mulai memikirkan hasil karya yang sedang banyak dibutuhkan atau yang mudah menarik selera konsumen, merencanakan membeli bahan baku, membuat kemasan dan menentukan harga. Siswa juga harus diberi pengertian agar tidak gengsi atau merasa rendah diri ketika  menawarkan hasil karyanya. Sekarang ini berjualan atau menawarkan barang tidak harus bertemu langsung antara penjual dan pembeli, yaitu dengan cara on line, sehingga siswa tidak usah merasa malu, siswa juga harus kreatif menawarkan hasil karyanya, dengan membuat status atau bisa melalui group- group WA.

Ada beberapa potensi yang dimiliki siswa untuk berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif, khususnya sekolah-sekolah kejuruan dengan membuat desain, membuat produk kerajinan dan seni, atau membuat karya yang lain dari yang lain. Sekecil apapun usaha mereka harus diapresiasi, melalui pameran-pameran hasil karya siswa. Ada beberapa kendala yang dihadapi ketika melatih siswa untuk berwirausaha, kendala yang utama adalah permasalahan sumber daya alam di lingkungan sekitar, waktu pembelajaran yang cenderung terbatas, dan kreatifitas antara siswa yang satu dengan yang lainnya berbeda, teknologi yang dibutuhkan, serta modal  untuk memulai berkarya. Peranan siswa dalam pengembangan ekonomi kreatif harus dijelaskan secara khusus, agar siswa memiliki mental produktif,   berfikir untuk terus memberi, bukan meminta, sehingga dengan bekal mental yang kuat menjadi modal yang besar untuk memulai berwirausaha. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/