alexametrics
32.5 C
Kudus
Friday, August 12, 2022

Asyik Belajar Matematika melalui Model NHT

GURU mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. Selain sebagai pengajar, guru juga berperan sebagai pembimbing dan pendidik. Namun kenyataannya peran itu sering dilupakan. Pendidikan dan pengajaran dilakukan hanya sekadar pemberian informasi kepada siswa. Hal itulah yang membuat siswa merasa bosan, sehingga pembelajaran tidak menarik minat siswa. Akibatnya, prestasi belajar siswa menjadi rendah terutama pada mata pelajaran Matematika.

Matematika menurut Ismail, dkk (Hamzah, 2014: 48) adalah ilmu yang membahas angka-angka dan perhitungannya, membahas masalah-masalah numerik, mengenai kuantitas dan besaran, mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berpikir, kumpulan sistem, struktur dan alat. Mata pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang seringkali menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Mereka beranggapan bahwa Matematika terlalu sulit untuk dikerjakan. Salah satu penyebab rendahnya kemampuan berhitung pada siswa adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang sesuai. Guru lebih banyak menggunakan model ceramah saat pembelajaran. Dengan adanya model ceramah yang dominan, siswa menjadi bosan dan terlihat kurang aktif dalam pembelajaran. Padahal diperlukan variasi model pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan. Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk melakukan evaluasi diri terutama pada model pembelajaran yang akan digunakan. Model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengatasi rendahnya minat danprestasi belajar siswa.

Baca Juga :  Apakah Anda Guru Yang Baik?

Model pembelajaran NHT (Numbered Head Together)  pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan dengan mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Model NHT terbagi menjadi beberapa langkah. Pertama, penomoran (Numbering). Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap siswa dalam tim tersebut  memiliki nomor yang berbeda. Kedua, pengajuan pertanyaan (Questioning). Guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum. Ketiga, berpikir bersama (Head Together). Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut. Keempat, pemberian jawaban (Answering). Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.


Model NHT membuat suasana belajar menjadi lebih menarik. Siswa pun menjadi lebih aktif dan tidak cepat merasa bosan. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Model NHT sangat efektif untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa pada mata pelajaran Matematika. Dengan adanya peningkatan minat dan semangat belajar siswa ini, diharapkan terjadi peningkatan pula pada hasil belajar siswa. (*)

GURU mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. Selain sebagai pengajar, guru juga berperan sebagai pembimbing dan pendidik. Namun kenyataannya peran itu sering dilupakan. Pendidikan dan pengajaran dilakukan hanya sekadar pemberian informasi kepada siswa. Hal itulah yang membuat siswa merasa bosan, sehingga pembelajaran tidak menarik minat siswa. Akibatnya, prestasi belajar siswa menjadi rendah terutama pada mata pelajaran Matematika.

Matematika menurut Ismail, dkk (Hamzah, 2014: 48) adalah ilmu yang membahas angka-angka dan perhitungannya, membahas masalah-masalah numerik, mengenai kuantitas dan besaran, mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berpikir, kumpulan sistem, struktur dan alat. Mata pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang seringkali menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Mereka beranggapan bahwa Matematika terlalu sulit untuk dikerjakan. Salah satu penyebab rendahnya kemampuan berhitung pada siswa adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang sesuai. Guru lebih banyak menggunakan model ceramah saat pembelajaran. Dengan adanya model ceramah yang dominan, siswa menjadi bosan dan terlihat kurang aktif dalam pembelajaran. Padahal diperlukan variasi model pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan. Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk melakukan evaluasi diri terutama pada model pembelajaran yang akan digunakan. Model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) diharapkan mampu menjadi solusi untuk mengatasi rendahnya minat danprestasi belajar siswa.

Baca Juga :  Sopan Santun dan Hormat pada Guru

Model pembelajaran NHT (Numbered Head Together)  pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan dengan mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Model NHT terbagi menjadi beberapa langkah. Pertama, penomoran (Numbering). Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap siswa dalam tim tersebut  memiliki nomor yang berbeda. Kedua, pengajuan pertanyaan (Questioning). Guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum. Ketiga, berpikir bersama (Head Together). Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut. Keempat, pemberian jawaban (Answering). Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

Model NHT membuat suasana belajar menjadi lebih menarik. Siswa pun menjadi lebih aktif dan tidak cepat merasa bosan. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap pembelajaran. Model NHT sangat efektif untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa pada mata pelajaran Matematika. Dengan adanya peningkatan minat dan semangat belajar siswa ini, diharapkan terjadi peningkatan pula pada hasil belajar siswa. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/