alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, May 23, 2022

Pendidikan Karakter Anak melalui Kebiasaan

SETIAP manusia yang dilahirkan membawa potensi, salah satunya berupa potensi beragama. Potensi beragama ini dapat terbentuk pada diri anak melalui 2 faktor, yaitu faktor pendidikan Islam yang utama dan faktor pendidikan lingkungan yang baik. Faktor pendidikan Islam yang bertanggung jawab penuh adalah bapak ibunya. Ia merupakan pembentuk karakter anak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. telah bersabda Rasulullah SAW tidak ada anak yang dilahirkan, kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR.Muslim).

Setelah anak diberikan masalah pengajaran agama sebagai sarana teoritis dari orang tuanya, maka faktor lingkungan harus menunjang terhadap pengajaran tersebut, yakni salah satunya adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah harus memberikan aplikasi pembiasaan-pembiasaan  perilaku terpuji, niscaya lambat laun anak akan terpengaruh informasi yang ia lihat dan ia dengar dari semua perilaku orang-orang disekitarnya. Dan pembiasaan perilaku terpuji di lingkungan bisa melalui adat istiadat atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat, salah satunya adalah bahasa Jawa krama. Karena bahasa Jawa krama merupakan warisan budaya orang Jawa, maka sebagai penduduk Jawa harus ikut melestarikan budaya yang ada. Tidak dipungkiri bahwa bahasa Jawa tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi bagi masyarakat Jawa tetapi juga digunakan sebagai media pembentukan moral. Misalnya, ketika berbicara orang akan  memerlukan dan memperhatikan kaidah-kaidah dalam berbahasa, hal ini dikarenakan dalam berbicara harus memperhatikan orang yang diajak berbicara untuk menentukan tata bahasa yang akan digunakan. Cara berbicara dengan orang tua berbeda dengan berbicara kepada teman sebaya, tata bahasa yang digunakan juga berbeda. Dalam istilah Jawa, bahasa yang ditujukan kepada orang lain disebut dengan unggah-ungguh basa. Kata unggah-ungguh merujuk kepada nilai-nilai kesopanan.

Baca Juga :  Peran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di Masa Kini

Selain itu bahasa Jawa juga mengandung nilai-nilai luhur, dan bahasa Jawa Krama mengandung nilai-nilai kesopanan. Bahasa Jawa krama dapat digunakan sebagai wahana pembentukan budi pekerti dan sopan santun. Bahasa Jawa dapat digunakan sebagai wahana pembentukan budi pekerti dan sopan santun karena kaya dan lengkap dengan perbendaharaan kata sebagai bahasa yang meliputi: fungsi, aturan atau norma kebahasaan, variasi atau tingkatan bahasa, etika dan nilai-nilai budaya yang tinggi dengan segala peran fungsinya

Berdasarkan uraian diatas, pembentukan karakter anak dapat terbentuk dengan menerapkan  metode-metode tersebut. Perilaku sopan santun dapat diterapkan dengan metode keteladanan, dimana yang berperan sebagai teladan disini ialah pendidik. Pendidik harus mampu memberikan contoh berperilaku sopan dan santun dalam berbahasa dan berperilaku. Lalu perilaku sopan santun dapat dibimbing dengan nasehat dan pembiasaan. Dimana anak diberikan nasehat tentang pentingnya berperilaku sopan dan santun dalam kehidupan sehari-hari. Selain diberikan nasehat, anak juga dibiasakan untuk berbahasa yang sopan dan berperilaku yang santun. Misalnya dengan membiasakan berbahasa Jawa krama dengan baik dan benar sesuai dengan unggah-ungguhnya. Jika seorang anak dibiasakan untuk berperilaku baik maka dia akan menjadi orang yang baik, dan begitu pula sebaliknya. Suatu kebiasaan akan muncul jika diberikan suatu stimulus secara berulang-ulang dan akan menjadi sebuah kebiasaan yang menetap pada dirinya. (*)

SETIAP manusia yang dilahirkan membawa potensi, salah satunya berupa potensi beragama. Potensi beragama ini dapat terbentuk pada diri anak melalui 2 faktor, yaitu faktor pendidikan Islam yang utama dan faktor pendidikan lingkungan yang baik. Faktor pendidikan Islam yang bertanggung jawab penuh adalah bapak ibunya. Ia merupakan pembentuk karakter anak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. telah bersabda Rasulullah SAW tidak ada anak yang dilahirkan, kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR.Muslim).

Setelah anak diberikan masalah pengajaran agama sebagai sarana teoritis dari orang tuanya, maka faktor lingkungan harus menunjang terhadap pengajaran tersebut, yakni salah satunya adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah harus memberikan aplikasi pembiasaan-pembiasaan  perilaku terpuji, niscaya lambat laun anak akan terpengaruh informasi yang ia lihat dan ia dengar dari semua perilaku orang-orang disekitarnya. Dan pembiasaan perilaku terpuji di lingkungan bisa melalui adat istiadat atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat, salah satunya adalah bahasa Jawa krama. Karena bahasa Jawa krama merupakan warisan budaya orang Jawa, maka sebagai penduduk Jawa harus ikut melestarikan budaya yang ada. Tidak dipungkiri bahwa bahasa Jawa tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi bagi masyarakat Jawa tetapi juga digunakan sebagai media pembentukan moral. Misalnya, ketika berbicara orang akan  memerlukan dan memperhatikan kaidah-kaidah dalam berbahasa, hal ini dikarenakan dalam berbicara harus memperhatikan orang yang diajak berbicara untuk menentukan tata bahasa yang akan digunakan. Cara berbicara dengan orang tua berbeda dengan berbicara kepada teman sebaya, tata bahasa yang digunakan juga berbeda. Dalam istilah Jawa, bahasa yang ditujukan kepada orang lain disebut dengan unggah-ungguh basa. Kata unggah-ungguh merujuk kepada nilai-nilai kesopanan.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Karakter bagi Siswa Zaman Milenial

Selain itu bahasa Jawa juga mengandung nilai-nilai luhur, dan bahasa Jawa Krama mengandung nilai-nilai kesopanan. Bahasa Jawa krama dapat digunakan sebagai wahana pembentukan budi pekerti dan sopan santun. Bahasa Jawa dapat digunakan sebagai wahana pembentukan budi pekerti dan sopan santun karena kaya dan lengkap dengan perbendaharaan kata sebagai bahasa yang meliputi: fungsi, aturan atau norma kebahasaan, variasi atau tingkatan bahasa, etika dan nilai-nilai budaya yang tinggi dengan segala peran fungsinya

Berdasarkan uraian diatas, pembentukan karakter anak dapat terbentuk dengan menerapkan  metode-metode tersebut. Perilaku sopan santun dapat diterapkan dengan metode keteladanan, dimana yang berperan sebagai teladan disini ialah pendidik. Pendidik harus mampu memberikan contoh berperilaku sopan dan santun dalam berbahasa dan berperilaku. Lalu perilaku sopan santun dapat dibimbing dengan nasehat dan pembiasaan. Dimana anak diberikan nasehat tentang pentingnya berperilaku sopan dan santun dalam kehidupan sehari-hari. Selain diberikan nasehat, anak juga dibiasakan untuk berbahasa yang sopan dan berperilaku yang santun. Misalnya dengan membiasakan berbahasa Jawa krama dengan baik dan benar sesuai dengan unggah-ungguhnya. Jika seorang anak dibiasakan untuk berperilaku baik maka dia akan menjadi orang yang baik, dan begitu pula sebaliknya. Suatu kebiasaan akan muncul jika diberikan suatu stimulus secara berulang-ulang dan akan menjadi sebuah kebiasaan yang menetap pada dirinya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/