alexametrics
30.5 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Mewaspadai Anak Kecanduan Game Online

SEJAK merebaknya wabah atau pandemi Covid-19 di dunia dan khususnya di Indonesia, maka pembelajaran tatap muka di sekolah tidak dapat dilaksanakan demi mencegah penyebaran atau penularan virus tersebut terhadap praktisi pendidikan serta para siswa. Namun demikian pendidikan terhadap anak bangsa tidak boleh berhenti, sehingga pembelajaran secara daring (dalam jaringan) adalah solusinya. Pembelajaran daring ini membutuhkan sebuah perangkat yang bisa terhubung ke internet, misal smartphone, laptop, atau gadget lainnya. Hal ini tentu mendorong setiap siswa untuk memiliki gadget atau smartphone yang bisa mengakses pembelajaran yang diberikan oleh guru atau info dari sekolah.

Selama pembelajaran secara daring dilaksanakan banyak siswa merasa jenuh atau stres akibat banyaknya tugas yang harus diselesaikan, oleh karena itu biasanya anak-anak itu mengatasinya dengan bermain game online, seperti mobile legend, free fire, dan lainnya. Game online tersebut sangat menarik perhatian anak-anak karena tampilan yang menarik dan menantang, sehingga dapat membuat betah untuk memainkannya meskipun berjam-jam lamanya. Jika anak-anak ini dibiarkan bermain game online tersebut secara berlama-lama di khawatirkan para pemainnya bisa kecanduan atau ketagihan, kecanduan itu tampak saat anak menaruh besar perhatian dan konsentrasinya dalam memainkan game online tersebut dalam waktu yang lama, yaitu lebih dari dua jam. Hal ini sehingga bisa mengganggu jalannya pembelajaran secara daring ataupun pembelajaran tatap muka nantinya di sekolah, selain itu juga bisa berakibat terganggunya kesehatan fisik maupun psikis anak. Terganggunya kesehatan fisik dikarenakan anak menjadi tidak teratur hidupnya, seperti lupa makan, mandi, ataupun kurang gerak tubuhnya dikarenakan fokus dengan permainannya, bahkan hal ini bisa membuat mata rusak. Terganggunya kesehatan psikis anak akibat kecanduan game online bisa berupa rasa cemas, agresif, bahkan depresi.

Agar anak-anak tidak sampai mengalami kecanduan dalam bermain game online, diperlukan upaya untuk mengatasinya. Pertama dengan membatasi waktu bermain game, cobalah untuk membuat jadwal bermain game dan memberi batas waktu bermain, misalnya hanya 1 jam per hari. Adanya jadwal yang teratur dapat membantu anak membagi waktu antara bermain game dan menyelesaikan kewajiban lain. Jika perlu, anak juga bisa membuat catatan pengingat atau alarm di gadgetnya agar tidak terlalu lama bermain game.

Baca Juga :  Siswa SMKN 2 Blora Dimotivasi untuk Bisa Mengikuti Jejak DI

Kedua dengan mencari hobi baru, untuk mengurangi obsesi terhadap game yang sering dimainkan, mereka juga bisa mencoba beberapa hobi baru selain bermain game, misalnya bermain alat musik, melukis, berolahraga, atau membaca buku. Aktivitas tersebut bisa digunakan untuk mengalihkan perhatian anak dari gadgetnya. Tak hanya baik untuk mengurangi kecanduan game online, aktivitas fisik atau olahraga rutin juga dapat menjaga tubuh tetap sehat dan fit, serta mencegah dan meringankan masalah kesehatan karena terlalu sering bermain game, misalnya nyeri punggung. Ketiga meletakkan gadget di luar kamar tidur, kamar tidur seringkali menjadi tempat yang nyaman untuk bermain game online. Jika sudah kecanduan, anak mungkin bisa menghabiskan waktu berjam-jam hingga larut malam untuk bermain game di kamar.

Sebenarnya bermain game online tidak akan menjadi masalah apabila kita bisa mengendalikan pola dalam penggunaannya. Para ahli menyarankan agar kita bermain gadget atau game online tidak lebih dari 2 jam sehari. Sedangkan bagi anak kecil, sebaiknya pada usia 8-10 tahun baru diperkenalkan. Atau untuk lebih bisa berkontribusi yang baik, bagi anak yang memiliki bakat dan minat terhadap permainan game online tersebut bisa menyalurkannya ke ajang e-sport contohnya.

Maka dari itu, tidak ada masalah dalam bermain game online andaikan anak mampu mengaturnya dengan baik, sehingga tidak sampai kecanduan yang berlebihan. Kecanduan game online bisa dialami siapa saja, baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Padahal, bermain game bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk mengatasi stres. Namun, bila digunakan secara berlebihan, kebiasaan ini bisa berakibat buruk bagi penggunanya.

Kebanyakan anak menjadikan game online sebagai hobi untuk mengisi waktu luang. Apabila masih dilakukan secara lumrah dan tidak mengganggu aktivitas belajar anak ataupun mengganggu kondisi kesehatan, kebiasaan ini sebenarnya tidak menjadi masalah.

Namun, apabila sudah timbul kecanduan anak dalam bermain game online, hal inilah yang perlu kita waspadai. (*)

SEJAK merebaknya wabah atau pandemi Covid-19 di dunia dan khususnya di Indonesia, maka pembelajaran tatap muka di sekolah tidak dapat dilaksanakan demi mencegah penyebaran atau penularan virus tersebut terhadap praktisi pendidikan serta para siswa. Namun demikian pendidikan terhadap anak bangsa tidak boleh berhenti, sehingga pembelajaran secara daring (dalam jaringan) adalah solusinya. Pembelajaran daring ini membutuhkan sebuah perangkat yang bisa terhubung ke internet, misal smartphone, laptop, atau gadget lainnya. Hal ini tentu mendorong setiap siswa untuk memiliki gadget atau smartphone yang bisa mengakses pembelajaran yang diberikan oleh guru atau info dari sekolah.

Selama pembelajaran secara daring dilaksanakan banyak siswa merasa jenuh atau stres akibat banyaknya tugas yang harus diselesaikan, oleh karena itu biasanya anak-anak itu mengatasinya dengan bermain game online, seperti mobile legend, free fire, dan lainnya. Game online tersebut sangat menarik perhatian anak-anak karena tampilan yang menarik dan menantang, sehingga dapat membuat betah untuk memainkannya meskipun berjam-jam lamanya. Jika anak-anak ini dibiarkan bermain game online tersebut secara berlama-lama di khawatirkan para pemainnya bisa kecanduan atau ketagihan, kecanduan itu tampak saat anak menaruh besar perhatian dan konsentrasinya dalam memainkan game online tersebut dalam waktu yang lama, yaitu lebih dari dua jam. Hal ini sehingga bisa mengganggu jalannya pembelajaran secara daring ataupun pembelajaran tatap muka nantinya di sekolah, selain itu juga bisa berakibat terganggunya kesehatan fisik maupun psikis anak. Terganggunya kesehatan fisik dikarenakan anak menjadi tidak teratur hidupnya, seperti lupa makan, mandi, ataupun kurang gerak tubuhnya dikarenakan fokus dengan permainannya, bahkan hal ini bisa membuat mata rusak. Terganggunya kesehatan psikis anak akibat kecanduan game online bisa berupa rasa cemas, agresif, bahkan depresi.

Agar anak-anak tidak sampai mengalami kecanduan dalam bermain game online, diperlukan upaya untuk mengatasinya. Pertama dengan membatasi waktu bermain game, cobalah untuk membuat jadwal bermain game dan memberi batas waktu bermain, misalnya hanya 1 jam per hari. Adanya jadwal yang teratur dapat membantu anak membagi waktu antara bermain game dan menyelesaikan kewajiban lain. Jika perlu, anak juga bisa membuat catatan pengingat atau alarm di gadgetnya agar tidak terlalu lama bermain game.

Baca Juga :  Implementasi Podcast dalam Pembelajaran

Kedua dengan mencari hobi baru, untuk mengurangi obsesi terhadap game yang sering dimainkan, mereka juga bisa mencoba beberapa hobi baru selain bermain game, misalnya bermain alat musik, melukis, berolahraga, atau membaca buku. Aktivitas tersebut bisa digunakan untuk mengalihkan perhatian anak dari gadgetnya. Tak hanya baik untuk mengurangi kecanduan game online, aktivitas fisik atau olahraga rutin juga dapat menjaga tubuh tetap sehat dan fit, serta mencegah dan meringankan masalah kesehatan karena terlalu sering bermain game, misalnya nyeri punggung. Ketiga meletakkan gadget di luar kamar tidur, kamar tidur seringkali menjadi tempat yang nyaman untuk bermain game online. Jika sudah kecanduan, anak mungkin bisa menghabiskan waktu berjam-jam hingga larut malam untuk bermain game di kamar.

Sebenarnya bermain game online tidak akan menjadi masalah apabila kita bisa mengendalikan pola dalam penggunaannya. Para ahli menyarankan agar kita bermain gadget atau game online tidak lebih dari 2 jam sehari. Sedangkan bagi anak kecil, sebaiknya pada usia 8-10 tahun baru diperkenalkan. Atau untuk lebih bisa berkontribusi yang baik, bagi anak yang memiliki bakat dan minat terhadap permainan game online tersebut bisa menyalurkannya ke ajang e-sport contohnya.

Maka dari itu, tidak ada masalah dalam bermain game online andaikan anak mampu mengaturnya dengan baik, sehingga tidak sampai kecanduan yang berlebihan. Kecanduan game online bisa dialami siapa saja, baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Padahal, bermain game bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk mengatasi stres. Namun, bila digunakan secara berlebihan, kebiasaan ini bisa berakibat buruk bagi penggunanya.

Kebanyakan anak menjadikan game online sebagai hobi untuk mengisi waktu luang. Apabila masih dilakukan secara lumrah dan tidak mengganggu aktivitas belajar anak ataupun mengganggu kondisi kesehatan, kebiasaan ini sebenarnya tidak menjadi masalah.

Namun, apabila sudah timbul kecanduan anak dalam bermain game online, hal inilah yang perlu kita waspadai. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/