alexametrics
28.3 C
Kudus
Wednesday, June 29, 2022

Literasi Digital Tantangan pada Masa Pandemi

HAMPIR dua tahun lamanya kita merasakan masa pandemi coronavirus disease of 19 (Covid-19). Praktis segala aktivitas kita menjadi terbatas. Karena salah satu usaha pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus ini, dengan membatasi mobilitas masyarakat yang lebih dikenal dengan istilah PPKM (perberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat).

PPKM ini diterapkan dengan level yang berbeda-beda. Sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Hampir semua sektor kehidupan terdampak dari pemberlakuan PPKM ini. Salah satunya  sektor pendidikan.

Selama pandemi pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jejaring) atau online. Langkah ini, mau tidak mau, siap tidak siap harus dilakukan sebagai solusi untuk menggantikan pembelajaran tatap muka. Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi pendidik maupun peserta didik.


Guru harus mau belajar teknologi informasi (IT). Karena teknologi informasi menjadi dasar utama dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring. Walaupun kondisi pandemi, guru harus tetap eksis dan pantang menyerah untuk memberikan hak pembelajaran terhadap siswa. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya berbagai terobosan dan inovasi pembelajaran. Khususnya berkaitan dengan pengembangan IT pada bidang pendidikan.

Penggunaan IT di kalangan siswa juga menjadi tantangan baru bagi guru. Terutama untuk mengontrol supaya penggunaan IT oleh siswa dilakukan secara benar dan tepat untuk kepentingan belajar. Hal ini didasarkan pada realitas di lapangan, bahwa beberapa siswa belum mampu mengendalikan diri dalam penggunan gadget (HP), dalam memilih dan memilah konten-konten yang berseliweran.

Salah satu contoh, ketika siswa mendapatkan kuota dari pemerintah tidak dimanfaatkan untuk membuka Google Classroom atau LMS lain yang dipakai guru, tetapi dipakai nge-game, membuka Youtube atau aplikasi lain yang menayangkan konten-konten yang tidak pantas ditonton siswa. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua atau keluarga yang tinggal serumah dengan siswa. Namun kenyataannya, saat siswa belajar dari rumah justru orang tua merasa kerepotan dalam mendidik anaknya sendiri. Di sini baru terasa, peran guru sulit tergantikan. Solusi dari permasalahan tersebut ditempuh dengan mensosialisasikan adanya literasi digital.

Baca Juga :  Dengan Alat Peraga Belajar Matematika akan Mudah dan Cepat Dimengerti

Menurut Devri Suherdi sebagaimana dikutip Astuti dalam artikel Mengenal Literasi Digital, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet, dan lain sebagainya. Kecakapan ini mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat dan memanfaatkan dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya. (https://radarkudus.jawapos.com/read/2021/08/11/281657/mengenal-literasi-digital).

Tantangan paling besar dari literasi digital adalah arus informasi yang banyak. Artinya, masyarakat terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. Dalam hal inilah literasi digital berperan. Yakni untuk mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat. Ide-ide baru saling bermunculan terkait dengan era digitalisasi ini.

Begitu banyak konten-konten bermunculan tanpa sensor. Ada yang positif dan ada juga yang bernilai negatif. Di sinilah peran utama guru dalam menggiatkan literasi digital di lingkungan pendidikan. Peserta didik diajak untuk sadar akan literasi digital ini. Melalui literasi digital ini, diharapkan siswa dapat mengasah sifat ketahanan, ketekunan, dan keyakinan diri yang nantinya akan tumbuh dorongan untuk terus belajar dari dalam diri, sehingga akan menjadi sebuah gaya hidup. (*)

HAMPIR dua tahun lamanya kita merasakan masa pandemi coronavirus disease of 19 (Covid-19). Praktis segala aktivitas kita menjadi terbatas. Karena salah satu usaha pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus ini, dengan membatasi mobilitas masyarakat yang lebih dikenal dengan istilah PPKM (perberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat).

PPKM ini diterapkan dengan level yang berbeda-beda. Sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Hampir semua sektor kehidupan terdampak dari pemberlakuan PPKM ini. Salah satunya  sektor pendidikan.

Selama pandemi pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jejaring) atau online. Langkah ini, mau tidak mau, siap tidak siap harus dilakukan sebagai solusi untuk menggantikan pembelajaran tatap muka. Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi pendidik maupun peserta didik.

Guru harus mau belajar teknologi informasi (IT). Karena teknologi informasi menjadi dasar utama dalam pelaksanaan pembelajaran secara daring. Walaupun kondisi pandemi, guru harus tetap eksis dan pantang menyerah untuk memberikan hak pembelajaran terhadap siswa. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya berbagai terobosan dan inovasi pembelajaran. Khususnya berkaitan dengan pengembangan IT pada bidang pendidikan.

Penggunaan IT di kalangan siswa juga menjadi tantangan baru bagi guru. Terutama untuk mengontrol supaya penggunaan IT oleh siswa dilakukan secara benar dan tepat untuk kepentingan belajar. Hal ini didasarkan pada realitas di lapangan, bahwa beberapa siswa belum mampu mengendalikan diri dalam penggunan gadget (HP), dalam memilih dan memilah konten-konten yang berseliweran.

Salah satu contoh, ketika siswa mendapatkan kuota dari pemerintah tidak dimanfaatkan untuk membuka Google Classroom atau LMS lain yang dipakai guru, tetapi dipakai nge-game, membuka Youtube atau aplikasi lain yang menayangkan konten-konten yang tidak pantas ditonton siswa. Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua atau keluarga yang tinggal serumah dengan siswa. Namun kenyataannya, saat siswa belajar dari rumah justru orang tua merasa kerepotan dalam mendidik anaknya sendiri. Di sini baru terasa, peran guru sulit tergantikan. Solusi dari permasalahan tersebut ditempuh dengan mensosialisasikan adanya literasi digital.

Baca Juga :  Kelebihan dan Kekurangan Sistem PJJ

Menurut Devri Suherdi sebagaimana dikutip Astuti dalam artikel Mengenal Literasi Digital, literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet, dan lain sebagainya. Kecakapan ini mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat dan memanfaatkan dengan bijak, cerdas, cermat serta tepat sesuai kegunaannya. (https://radarkudus.jawapos.com/read/2021/08/11/281657/mengenal-literasi-digital).

Tantangan paling besar dari literasi digital adalah arus informasi yang banyak. Artinya, masyarakat terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. Dalam hal inilah literasi digital berperan. Yakni untuk mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat. Ide-ide baru saling bermunculan terkait dengan era digitalisasi ini.

Begitu banyak konten-konten bermunculan tanpa sensor. Ada yang positif dan ada juga yang bernilai negatif. Di sinilah peran utama guru dalam menggiatkan literasi digital di lingkungan pendidikan. Peserta didik diajak untuk sadar akan literasi digital ini. Melalui literasi digital ini, diharapkan siswa dapat mengasah sifat ketahanan, ketekunan, dan keyakinan diri yang nantinya akan tumbuh dorongan untuk terus belajar dari dalam diri, sehingga akan menjadi sebuah gaya hidup. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/