alexametrics
31.6 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila

VISI dan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung visi-misi Presiden. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024. Visi tersebut menggambarkan komitmen Kemendikbud mendukung terwujudnya visi dan misi Presiden melalui pelaksanaan tugas dan kewenangan Kementerian secara konsisten, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Pelaksanaannya mengedepankan profesionalitas dan integritas untuk mewujudkan Indonesia Maju.

Visi dan misi Presiden mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Pelajar Indonesia diharapkan dapat bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Perumusan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan di bidang pendidikan dan kebudayaan mengedepankan inovasi guna mencapai kemajuan dan kemandirian.

Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat, sebuah konsep yang menyatakan proses pendidikan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh usia. Pelajar Indonesia harus siap menjalankan tugas tersebut. Pelajar Pancasila harus memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.


Saat ini di lingkungan masyarakat mulai ada pergeseran perilaku kurang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini tidak mungkin dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah segera menyikapi perubahan perilaku dengan program penguatan karakter melalui program pembentukan Pelajar Pancasila.

Untuk mewujudkan visi dan misi Presiden dalam membentuk Pelajar Pancasila perlu menetapkan ciri-ciri profil Pelajar Pancasila. Ada enam ciri utama profil Pelajar Pancasila. Ciri yang pertama adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia. Pelajar Indonesia harus memiliki ciri berakhlak mulia dalam hubungannya dengan Tuhan YME. Pelajar Pancasila harus memahami ajaran agama atau kepercayaannya. Selanjutnya mampu menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ada lima elemen kunci dalam menjalankan ajaran agama atau kepercayaan di antaranya akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada sesama manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Selama di sekolah, lima elemen tersebut sudah biasa dilakukan para pelajar. Mulai datang di sekolah sudah disambut bapak ibu guru dengan salam. Mengawali dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan doa. Menjaga lingkungan tetap bersih dan indah dengan berbagai tanaman yang terawat subur.

Ciri kedua adalah berkebinekaan global. Pelajar Indonesia harus mampu mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya. Pelajar Pancasila tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dan saling menghargai budaya lain. Dimungkinkan terbentuk budaya positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen kunci kebinekaan global adalah mengenal dan menghargai budaya. Selanjutnya kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama. Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

Baca Juga :  Ajarkan Doa sejak Dini

Berbeda etnis, agama, atau suku hal yang biasa di sekolah. Antar pelajar saling menghormati dan bekerja sama dalam kegiatan tertentu tanpa membedakan latar belakang. Kebiasaan dan budaya yang berbeda justru dapat mendorong para pelajar untuk menciptakan budaya baru tanpa meninggalkan budaya asli.

Ciri ketiga, bergotong royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan bersama-sama dengan suka rela tanpa pamrih. Tujuannya agar kegiatan dapat berjalan lancar, mudah, cepat selesai dan ringan. Elemen kunci bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Di kelas, pelajar dibiasakan menyelesaikan permasalahan dengan diskusi. Dalam proses diskusi tentu perlu kolaborasi pendapat antar pelajar dan saling berbagi pengalaman. Kepedulian dan menghargai pendapat orang lain diutamakan.

Ciri keempat adalah mandiri. Pelajar mandiri adalah pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Pembelajaran Abad 21 sangat memerlukan sikap mandiri. Elemen kunci dari mandiri adalah kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi. Penyelesaian masalah perlu dikerjakan secara mandiri. Pelajar harus tahu dan sadar berbagai tugas mandiri yang harus diselesaikan.

Ciri kelima, bernalar kritis. Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi. Selanjutnya membangun keterkaitan antara berbagai informasi dan menganalisis informasi. Proses terakhir mengevaluasi dan menyimpulkan. Dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari pelajar dituntut mampu bernalar kritis. Kunci dari bernalar kritis memperoleh dan memproses informasi, menganalisis dan mengevaluasi penalaran. Selanjutnya merefleksi pemikiran dan proses berpikir, serta mengambil keputusan.

Ciri keenam, kreatif. Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Era digitalisasi global mendorong pelajar cepat berkreasi di segala bidang. Diawali dengan meniru dan memodifikasi yang sudah ada. Selanjutnya akan muncul kreatifitas dan mencipta sesuatu yang baru. Kunci dari kreatif yaitu menghasilkan gagasan, karya dan tindakan yang orisinal. (*)

VISI dan misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung visi-misi Presiden. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024. Visi tersebut menggambarkan komitmen Kemendikbud mendukung terwujudnya visi dan misi Presiden melalui pelaksanaan tugas dan kewenangan Kementerian secara konsisten, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Pelaksanaannya mengedepankan profesionalitas dan integritas untuk mewujudkan Indonesia Maju.

Visi dan misi Presiden mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Pelajar Indonesia diharapkan dapat bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Perumusan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan di bidang pendidikan dan kebudayaan mengedepankan inovasi guna mencapai kemajuan dan kemandirian.

Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat, sebuah konsep yang menyatakan proses pendidikan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi oleh usia. Pelajar Indonesia harus siap menjalankan tugas tersebut. Pelajar Pancasila harus memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Saat ini di lingkungan masyarakat mulai ada pergeseran perilaku kurang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini tidak mungkin dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah segera menyikapi perubahan perilaku dengan program penguatan karakter melalui program pembentukan Pelajar Pancasila.

Untuk mewujudkan visi dan misi Presiden dalam membentuk Pelajar Pancasila perlu menetapkan ciri-ciri profil Pelajar Pancasila. Ada enam ciri utama profil Pelajar Pancasila. Ciri yang pertama adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia. Pelajar Indonesia harus memiliki ciri berakhlak mulia dalam hubungannya dengan Tuhan YME. Pelajar Pancasila harus memahami ajaran agama atau kepercayaannya. Selanjutnya mampu menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ada lima elemen kunci dalam menjalankan ajaran agama atau kepercayaan di antaranya akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada sesama manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Selama di sekolah, lima elemen tersebut sudah biasa dilakukan para pelajar. Mulai datang di sekolah sudah disambut bapak ibu guru dengan salam. Mengawali dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan doa. Menjaga lingkungan tetap bersih dan indah dengan berbagai tanaman yang terawat subur.

Ciri kedua adalah berkebinekaan global. Pelajar Indonesia harus mampu mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya. Pelajar Pancasila tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dan saling menghargai budaya lain. Dimungkinkan terbentuk budaya positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen kunci kebinekaan global adalah mengenal dan menghargai budaya. Selanjutnya kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama. Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

Baca Juga :  Metode Pembelajaran “Blended Learning” di Masa Pandemi

Berbeda etnis, agama, atau suku hal yang biasa di sekolah. Antar pelajar saling menghormati dan bekerja sama dalam kegiatan tertentu tanpa membedakan latar belakang. Kebiasaan dan budaya yang berbeda justru dapat mendorong para pelajar untuk menciptakan budaya baru tanpa meninggalkan budaya asli.

Ciri ketiga, bergotong royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan bersama-sama dengan suka rela tanpa pamrih. Tujuannya agar kegiatan dapat berjalan lancar, mudah, cepat selesai dan ringan. Elemen kunci bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Di kelas, pelajar dibiasakan menyelesaikan permasalahan dengan diskusi. Dalam proses diskusi tentu perlu kolaborasi pendapat antar pelajar dan saling berbagi pengalaman. Kepedulian dan menghargai pendapat orang lain diutamakan.

Ciri keempat adalah mandiri. Pelajar mandiri adalah pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Pembelajaran Abad 21 sangat memerlukan sikap mandiri. Elemen kunci dari mandiri adalah kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi. Penyelesaian masalah perlu dikerjakan secara mandiri. Pelajar harus tahu dan sadar berbagai tugas mandiri yang harus diselesaikan.

Ciri kelima, bernalar kritis. Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi. Selanjutnya membangun keterkaitan antara berbagai informasi dan menganalisis informasi. Proses terakhir mengevaluasi dan menyimpulkan. Dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari pelajar dituntut mampu bernalar kritis. Kunci dari bernalar kritis memperoleh dan memproses informasi, menganalisis dan mengevaluasi penalaran. Selanjutnya merefleksi pemikiran dan proses berpikir, serta mengambil keputusan.

Ciri keenam, kreatif. Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Era digitalisasi global mendorong pelajar cepat berkreasi di segala bidang. Diawali dengan meniru dan memodifikasi yang sudah ada. Selanjutnya akan muncul kreatifitas dan mencipta sesuatu yang baru. Kunci dari kreatif yaitu menghasilkan gagasan, karya dan tindakan yang orisinal. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/