alexametrics
26.3 C
Kudus
Saturday, May 14, 2022

Keunikan Kehidupan Sosial Budaya Suku Samin di Pati

INDONESIA memiliki banyak suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Berjumlah ratusan dengan segala corak budayanya yang berbeda satu sama lain. Menurut Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia karya ahli antropologi Zulyani Hidayah tercantum 656 suku bangsa, Koentjaraningrat (1998).

Keanekaragaman suku tersebut, ada yang masih bertahan tradisinya. Ada juga yang mulai tergeser. Salah satu suku yang masih bertahan tradisinya hingga saat ini adalah Suku Samin yang ada di Dusun Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Salah satu suku di antara masyarakat Jawa yang dianggap feodal sekalipun terdapat sekelompok masyarakat yang dengan nilai-nilai yang egaliter. Suku samin ini juga dikenal sebagai Sedulur Sikep. (Utomo, 2013)

Menurut salah satu pakar komunitas masyarakat Samin yang dikenal di Pati, nama ini diambil dari tokohnya, Samin Surosentiko. Ini memang sudah menjadi kajian para cedekiawan. Baik Samin sebagai gerakan maupun Samin sebagai falsafah hidup. Masyarakat Samin masih dapat banyak dijumpai dan mereka bertempat tinggal di desa-desa dalam wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Sedangkan di wilayah Jawa Tengah tersebar di Blora dan Pati. Masayarakat samin sebenarnya Etnik Jawa, namun mereka memiliki tatanan kehidupan, bahkan tradisi yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Maka masyarakat Samin dianggap sebagai etnik tersendiri.


Di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati, terdapat komunitas Sedulur Sikep yang berjumlah cukup besar. Permukiman komunitas ini berada di dua dusun, Dusun Bombong dan Dusun Bacem. Karena itu, komunitas Sedulur Sikep Desa Baturejo seringkali disebut dengan nama Sedulur Sikep Bombong-Bacem. Daerah Bombong-Bacem merupakan pusat wilayah dari masyarakat Sedulur Sikep di Sukolilo. Sebab, beberapa leluhur Sedulur Sikep berasal dari wilayah ini.

Pencetus sejarah Saminisme adalah Samin Surosentiko yang lahir di Blora pada 1859. Nama asli Samin Surosentiko adalah R. Kohar yang merupakan anak dari R. Surowidjoyo dan cucu dari RM. Brotodiningrat yang merupakan Bupati Sumoroto yang berkuasa pada 1802-1826.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Agama di Sekolah

Secara umum, perilaku orang Samin/Sikep sangat jujur dan polos, tetapi kritis. Mereka tidak mengenal tingkatan bahasa Jawa. Jadi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa ngoko. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dalam bahasa yang digunakan, tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan.

Pakaian orang Samin biasanya baju lengan panjang tanpa kerah danberwarna hitam. Laki-laki memakai ikat kepala. Untuk pakaian perempuan, bentuknya kebaya lengan panjang serta berkain sebatas di bawah tempurung atau di atas mata kaki.

Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin  memiliki tradisi untuk saling berkunjung, terutama pada saat suatu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya jauh.

Orang Samin selalu beranjak pada eksistensi mereka yang sudah turun-temurun dari pendahulunya, yaitu ono niro mergo ningsun, ono ningsun mergo niro (adanya saya karena kamu, adanya kamu karena saya). Ucapan itu menunjukkan bahwa orang Samin sesungguhnya memiliki solidaritas yang tinggi dan menghargai eksistensi manusia sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial.

Untuk itu, orang Samin tidak mau menyakiti orang lain, tidak mau petil jumput (mengambil barang orang lain yang bukan haknya), tetapi juga tidak mau dimalingi (haknya dicuri).

Samin di masyarakat umum terkadang dipahami sebagai orang gemblung, karena suka nyeleneh kalau ditanya. Sebagai contoh ketika ditanya orang: ”Dari mana, Kang?” Maka jawaban yang muncul adalah ”dari belakang” atau ”dari depan”. Maka jika ada yang tipologinya seperti ini, secara spontan orang akan mengatakan dasar Samin. Itulah keunikan kehidupan sosial budaya masyarakat Samin. (*)

INDONESIA memiliki banyak suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Berjumlah ratusan dengan segala corak budayanya yang berbeda satu sama lain. Menurut Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia karya ahli antropologi Zulyani Hidayah tercantum 656 suku bangsa, Koentjaraningrat (1998).

Keanekaragaman suku tersebut, ada yang masih bertahan tradisinya. Ada juga yang mulai tergeser. Salah satu suku yang masih bertahan tradisinya hingga saat ini adalah Suku Samin yang ada di Dusun Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Salah satu suku di antara masyarakat Jawa yang dianggap feodal sekalipun terdapat sekelompok masyarakat yang dengan nilai-nilai yang egaliter. Suku samin ini juga dikenal sebagai Sedulur Sikep. (Utomo, 2013)

Menurut salah satu pakar komunitas masyarakat Samin yang dikenal di Pati, nama ini diambil dari tokohnya, Samin Surosentiko. Ini memang sudah menjadi kajian para cedekiawan. Baik Samin sebagai gerakan maupun Samin sebagai falsafah hidup. Masyarakat Samin masih dapat banyak dijumpai dan mereka bertempat tinggal di desa-desa dalam wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Sedangkan di wilayah Jawa Tengah tersebar di Blora dan Pati. Masayarakat samin sebenarnya Etnik Jawa, namun mereka memiliki tatanan kehidupan, bahkan tradisi yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Maka masyarakat Samin dianggap sebagai etnik tersendiri.

Di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati, terdapat komunitas Sedulur Sikep yang berjumlah cukup besar. Permukiman komunitas ini berada di dua dusun, Dusun Bombong dan Dusun Bacem. Karena itu, komunitas Sedulur Sikep Desa Baturejo seringkali disebut dengan nama Sedulur Sikep Bombong-Bacem. Daerah Bombong-Bacem merupakan pusat wilayah dari masyarakat Sedulur Sikep di Sukolilo. Sebab, beberapa leluhur Sedulur Sikep berasal dari wilayah ini.

Pencetus sejarah Saminisme adalah Samin Surosentiko yang lahir di Blora pada 1859. Nama asli Samin Surosentiko adalah R. Kohar yang merupakan anak dari R. Surowidjoyo dan cucu dari RM. Brotodiningrat yang merupakan Bupati Sumoroto yang berkuasa pada 1802-1826.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Agama di Sekolah

Secara umum, perilaku orang Samin/Sikep sangat jujur dan polos, tetapi kritis. Mereka tidak mengenal tingkatan bahasa Jawa. Jadi, bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa ngoko. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dalam bahasa yang digunakan, tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan.

Pakaian orang Samin biasanya baju lengan panjang tanpa kerah danberwarna hitam. Laki-laki memakai ikat kepala. Untuk pakaian perempuan, bentuknya kebaya lengan panjang serta berkain sebatas di bawah tempurung atau di atas mata kaki.

Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin  memiliki tradisi untuk saling berkunjung, terutama pada saat suatu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya jauh.

Orang Samin selalu beranjak pada eksistensi mereka yang sudah turun-temurun dari pendahulunya, yaitu ono niro mergo ningsun, ono ningsun mergo niro (adanya saya karena kamu, adanya kamu karena saya). Ucapan itu menunjukkan bahwa orang Samin sesungguhnya memiliki solidaritas yang tinggi dan menghargai eksistensi manusia sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial.

Untuk itu, orang Samin tidak mau menyakiti orang lain, tidak mau petil jumput (mengambil barang orang lain yang bukan haknya), tetapi juga tidak mau dimalingi (haknya dicuri).

Samin di masyarakat umum terkadang dipahami sebagai orang gemblung, karena suka nyeleneh kalau ditanya. Sebagai contoh ketika ditanya orang: ”Dari mana, Kang?” Maka jawaban yang muncul adalah ”dari belakang” atau ”dari depan”. Maka jika ada yang tipologinya seperti ini, secara spontan orang akan mengatakan dasar Samin. Itulah keunikan kehidupan sosial budaya masyarakat Samin. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/