alexametrics
31.8 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Menurunnya Motivasi Belajar Siswa di Masa Pandemi

SUKSESNYA pendidikan dilihat dari seberapa besar karakter mereka ketika bisa menyeimbangkan kognitif, afektif dan psikomotornya. Pada tahun 2020 telah terjadi pandemi Covid–19 yang menyebabkan semuanya berubah pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah berubah sesuai dengan aturan pemerintah dilaksanakan di rumah dengan daring atau belajar dengan jarak jauh.

Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan menggunakan internet sebagai tempat menyalurkan ilmu pengetahuan. Bentuk pembelajaran seperti ini dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun tanpa terikat waktu dan tanpa harus bertatap muka. Di era perkembangan teknologi pembelajaran daring semakin canggih dengan berbagai aplikasi dan fitur yang semakin memudahkan pengguna. Tidak terikatnya waktu dan dilakukan tanpa bertatap muka menjadi keunggulan pembelajaran daring yang bisa dimanfaatkan pendidik. Indonesia menerapkan social distance di segala aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan. Oleh karena itu, pembelajaran daring dapat dikatakan menjadi satu-satunya pilihan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan mutu pembelajaran di Indonesia.

Walaupun terlihat bagus dan sempurna, ternyata pembelajaran daring bukanlah hal yang mudah dilakukan. Banyak kendala yang dialami ketika pembelajaran daring dipilih menjadi bentuk pembelajaran pengganti tatap muka. Mulai dari keterbatasan signal dan ketidaktersediaan smartphone pada setiap siswa. Adanya bentuk penugasan via daring justru dianggap menjadi beban bagi sebagian siswa dan orang tua. Bagi siswa dan orang tua yang belum pernah mengenal smartphone akan kebingungan dan akhirnya tidak menyelesaikan tugas yang disampaikan oleh guru. Hal seperti ini biasanya terjadi pada siswa pada tingkat sekolah dasar. Istilah pembelajaran yang dijadikan solusi oleh pemerintah menjadi asing dikarenakan ketidaktersediaan fasilitas. Oleh karena itu, pembelajaran daring di beberapa wilayah tidak berjalan secara maksimal.

Baca Juga :  Pemanfaatan Barang Bekas untuk Media Pembelajaran Induksi Magnetik

Ketika pembelajaran dimulai di rumah, tenaga kerja Pendidikan dituntut untuk kreatif dan inovatif agar proses pembelajaran Daring dapat dilaksanakan dengan baik. Namun, dengan segala keterbatasan, proses pembelajaran Daring belum bisa maksimal sehingga siswa mengalami penurunan motivasi belajar. Motivasi belajar ini erat kaitannya dengan hasil belajar, seperti yang diungkapkan oleh Syah (1995) “Banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil belajar siswa, diantaranya: kecerdasan, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa”.

Pembelajaran daring pastinya mempengaruhi motivasi belajar siswa, banyak siswa yang malas untuk mengerjakan tugas dan orangtua yang mengerjakan tugas tersebut, akibatnya anak tidak belajar dengan maksimal. Ada juga orang tua yang mengeluh dengan keadaan tersebut, mereka kuwalahan dalam mendampingi anak-anak mereka dalam belajar karena mereka juga dituntut untuk bekerja, sehingga anak-anak jadi terabaikan belajar di rumah.

Dalam proses pembelajaran Daring ini tentunya kontrol orangtua sangat dibutuhkan untuk mengawasi proses pembelajaran siswa di rumah. Akan tetapi, kontrol orangtua untuk mengawasi peserta didik dalam penggunaan smartphone dan media pendukung pembelajaran masih kurang baik. Hal ini justru menjadikan anak kecanduan bermain smartphone dan media pendukung pembelajaran Daring sehingga motivasi belajar peserta didik menurun. Anak-anak menjadi malas dalam membuat tugas dan juga menyepelekan tugas-tugas mereka.

Peran orangtua sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran daring. Orangtua siswa harus menyiapkan anaknya dalam pembelajaran Daring dengan cara mengontrol, memberikan fasilitas yang cukup baik dan sering memotivasi siswa untuk tetap belajar meskipun melewati media Daring. Selain itu, guru harus memiliki strategi tersendiri untuk membuat pembelajaran Daring ini menjadi menyenangkan. Guru perlu kreatif dan inovatif. (*)

SUKSESNYA pendidikan dilihat dari seberapa besar karakter mereka ketika bisa menyeimbangkan kognitif, afektif dan psikomotornya. Pada tahun 2020 telah terjadi pandemi Covid–19 yang menyebabkan semuanya berubah pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah berubah sesuai dengan aturan pemerintah dilaksanakan di rumah dengan daring atau belajar dengan jarak jauh.

Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan menggunakan internet sebagai tempat menyalurkan ilmu pengetahuan. Bentuk pembelajaran seperti ini dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun tanpa terikat waktu dan tanpa harus bertatap muka. Di era perkembangan teknologi pembelajaran daring semakin canggih dengan berbagai aplikasi dan fitur yang semakin memudahkan pengguna. Tidak terikatnya waktu dan dilakukan tanpa bertatap muka menjadi keunggulan pembelajaran daring yang bisa dimanfaatkan pendidik. Indonesia menerapkan social distance di segala aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan. Oleh karena itu, pembelajaran daring dapat dikatakan menjadi satu-satunya pilihan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan mutu pembelajaran di Indonesia.

Walaupun terlihat bagus dan sempurna, ternyata pembelajaran daring bukanlah hal yang mudah dilakukan. Banyak kendala yang dialami ketika pembelajaran daring dipilih menjadi bentuk pembelajaran pengganti tatap muka. Mulai dari keterbatasan signal dan ketidaktersediaan smartphone pada setiap siswa. Adanya bentuk penugasan via daring justru dianggap menjadi beban bagi sebagian siswa dan orang tua. Bagi siswa dan orang tua yang belum pernah mengenal smartphone akan kebingungan dan akhirnya tidak menyelesaikan tugas yang disampaikan oleh guru. Hal seperti ini biasanya terjadi pada siswa pada tingkat sekolah dasar. Istilah pembelajaran yang dijadikan solusi oleh pemerintah menjadi asing dikarenakan ketidaktersediaan fasilitas. Oleh karena itu, pembelajaran daring di beberapa wilayah tidak berjalan secara maksimal.

Baca Juga :  Pemanfaatan Barang Bekas untuk Media Pembelajaran Induksi Magnetik

Ketika pembelajaran dimulai di rumah, tenaga kerja Pendidikan dituntut untuk kreatif dan inovatif agar proses pembelajaran Daring dapat dilaksanakan dengan baik. Namun, dengan segala keterbatasan, proses pembelajaran Daring belum bisa maksimal sehingga siswa mengalami penurunan motivasi belajar. Motivasi belajar ini erat kaitannya dengan hasil belajar, seperti yang diungkapkan oleh Syah (1995) “Banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil belajar siswa, diantaranya: kecerdasan, sikap, bakat, minat, dan motivasi siswa”.

Pembelajaran daring pastinya mempengaruhi motivasi belajar siswa, banyak siswa yang malas untuk mengerjakan tugas dan orangtua yang mengerjakan tugas tersebut, akibatnya anak tidak belajar dengan maksimal. Ada juga orang tua yang mengeluh dengan keadaan tersebut, mereka kuwalahan dalam mendampingi anak-anak mereka dalam belajar karena mereka juga dituntut untuk bekerja, sehingga anak-anak jadi terabaikan belajar di rumah.

Dalam proses pembelajaran Daring ini tentunya kontrol orangtua sangat dibutuhkan untuk mengawasi proses pembelajaran siswa di rumah. Akan tetapi, kontrol orangtua untuk mengawasi peserta didik dalam penggunaan smartphone dan media pendukung pembelajaran masih kurang baik. Hal ini justru menjadikan anak kecanduan bermain smartphone dan media pendukung pembelajaran Daring sehingga motivasi belajar peserta didik menurun. Anak-anak menjadi malas dalam membuat tugas dan juga menyepelekan tugas-tugas mereka.

Peran orangtua sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran daring. Orangtua siswa harus menyiapkan anaknya dalam pembelajaran Daring dengan cara mengontrol, memberikan fasilitas yang cukup baik dan sering memotivasi siswa untuk tetap belajar meskipun melewati media Daring. Selain itu, guru harus memiliki strategi tersendiri untuk membuat pembelajaran Daring ini menjadi menyenangkan. Guru perlu kreatif dan inovatif. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/