alexametrics
24.4 C
Kudus
Thursday, May 19, 2022

Guru Milenial untuk Generasi Z

MILENIAL artinya generasi yang terdiri dari orang-orang yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996. Perlu diketahui juga bahwa sebelum milenial terdapat generasi yang sebut generasi baby boomers atau generasai pada tahun 1946 hingga 1964. Setelah generasi baby boomers terdapat generasi X, yaitu orang-orang yang lahir pada awal tahun 1960an hingga awal tahun 1980an. Setelah generasi X terdapat generasi generation Y atau millennials. Generasi ini terdiri dari orang-orang yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996. Hingga setelah tahun 1996 hingga tahun 2010 berubah menjadi generasi Z. Generasi Z merupakan generasi yang digadang-gadang melek teknologoi. Sebab, rata-rata dari mereka sudah melek teknologi dari sejak dini dan nyaman menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dari anak-anak generasi milenial lahirlah sebuah generasi baru. Yakni, generasi Alpha. Generasi Alpha merupakan anak-anak yang lahir pada tahun 2010 hingga tahun 2025 mendatang. Generasi Z hingga generasi Alpha saat ini barangkali tidak akan pernah merasakan mati lampu sambil dengar radio baterai, main bayangan dengan sinar lampu templok, ataupun bermain permainan trasional.

Dengan demikian anak sekolah ditahun 2021 dimulai dari kelas 1 sudah memasuki generasi Alpha. Anak –anak usia sekolah dasar terdiri dari siswa dari genarasi Z dan Generasi Alpa. Sedangkan gurunya rata-rata memasuki era generasi milenial. Saat inilah, tantangan guru lebih besar daripada genarasi sebelumnya. Memasuki era milenial setiap orang dituntut untuk menguasai teknologi. Semua serba canggih dan serba digital. Apalagi di era setelahnya. Tugas guru semakin berat dan dituntut untuk kreatif dan bermigrasi ke digitalisasi.

Baca Juga :  SMK Muhammadiyah Rembang Gagas Sekolah Sehat dan Anti Perundungan

Lantas, bagaimana menjadi guru milenial untuk generasi Z di era revolusi industri? Tentu saja modal utama yang harus dimiliki guru adalah kreatif. Dengan metode blended learning. Mereka dapat memadukan pembelajaran konvensional dengan digitalisasi. Contoh lainnya, guru dapat mengkombinasikan permainan tradional dalam metode pembelajaran, mengemas materi dalam lagu tradional. Lagu-lagu yang sedang viral dewasa ini dapat juga digubah kedalam materi pembelajaran. Bukankah anak peniru yang baik? Apa yang siswa dengar setiap harinya  niscaya akan mudah diingat. Guru juga bisa mengkombinasikan permainan tradisional dalam metode pembelajaran. Agar tak kehilangan muruah permainan tradional yang turun temurun sejak dahulu kala. Guru juga bisa menciptakan edugame yang dapat mengasah otak siswa, sehingga siswa dapat memainkan kapanpun dan saat dimanapun tanpa harus datang ke sekolah.


Guru tak perlu risau, apabila dirinya merasa belum mumpuni terhadap teknologi. Mereka bisa mengikuti diklat baik luring maupun daring. Bagi guru yang merasa unggul mereka juga bisa mengikuti program guru penggerak. Guru Penggerak merupakan program dari Kemendikbud yang mengajak para guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran atau menggerakan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Meskipun ada beberapa sekolah saja yang diijinkan melakukan pembelajaran tatap muka terbatas, jangan jadikan pandemi sebagai alasan untuk tidak kreatif, inovatif, berkembang dan update. Mari menjadi Guru milenial yang di dambakan. Asal ora kalah karo wegah niscaya guru milenial dapat menguasai Generasi Z dengan segala kecanggihan yang ada.  (*)

MILENIAL artinya generasi yang terdiri dari orang-orang yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996. Perlu diketahui juga bahwa sebelum milenial terdapat generasi yang sebut generasi baby boomers atau generasai pada tahun 1946 hingga 1964. Setelah generasi baby boomers terdapat generasi X, yaitu orang-orang yang lahir pada awal tahun 1960an hingga awal tahun 1980an. Setelah generasi X terdapat generasi generation Y atau millennials. Generasi ini terdiri dari orang-orang yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996. Hingga setelah tahun 1996 hingga tahun 2010 berubah menjadi generasi Z. Generasi Z merupakan generasi yang digadang-gadang melek teknologoi. Sebab, rata-rata dari mereka sudah melek teknologi dari sejak dini dan nyaman menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dari anak-anak generasi milenial lahirlah sebuah generasi baru. Yakni, generasi Alpha. Generasi Alpha merupakan anak-anak yang lahir pada tahun 2010 hingga tahun 2025 mendatang. Generasi Z hingga generasi Alpha saat ini barangkali tidak akan pernah merasakan mati lampu sambil dengar radio baterai, main bayangan dengan sinar lampu templok, ataupun bermain permainan trasional.

Dengan demikian anak sekolah ditahun 2021 dimulai dari kelas 1 sudah memasuki generasi Alpha. Anak –anak usia sekolah dasar terdiri dari siswa dari genarasi Z dan Generasi Alpa. Sedangkan gurunya rata-rata memasuki era generasi milenial. Saat inilah, tantangan guru lebih besar daripada genarasi sebelumnya. Memasuki era milenial setiap orang dituntut untuk menguasai teknologi. Semua serba canggih dan serba digital. Apalagi di era setelahnya. Tugas guru semakin berat dan dituntut untuk kreatif dan bermigrasi ke digitalisasi.

Baca Juga :  Alasan Penting Kenapa MA NU Banat Kudus Jaring Bakat Siswi sejak Masuk

Lantas, bagaimana menjadi guru milenial untuk generasi Z di era revolusi industri? Tentu saja modal utama yang harus dimiliki guru adalah kreatif. Dengan metode blended learning. Mereka dapat memadukan pembelajaran konvensional dengan digitalisasi. Contoh lainnya, guru dapat mengkombinasikan permainan tradional dalam metode pembelajaran, mengemas materi dalam lagu tradional. Lagu-lagu yang sedang viral dewasa ini dapat juga digubah kedalam materi pembelajaran. Bukankah anak peniru yang baik? Apa yang siswa dengar setiap harinya  niscaya akan mudah diingat. Guru juga bisa mengkombinasikan permainan tradisional dalam metode pembelajaran. Agar tak kehilangan muruah permainan tradional yang turun temurun sejak dahulu kala. Guru juga bisa menciptakan edugame yang dapat mengasah otak siswa, sehingga siswa dapat memainkan kapanpun dan saat dimanapun tanpa harus datang ke sekolah.

Guru tak perlu risau, apabila dirinya merasa belum mumpuni terhadap teknologi. Mereka bisa mengikuti diklat baik luring maupun daring. Bagi guru yang merasa unggul mereka juga bisa mengikuti program guru penggerak. Guru Penggerak merupakan program dari Kemendikbud yang mengajak para guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran atau menggerakan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya. Meskipun ada beberapa sekolah saja yang diijinkan melakukan pembelajaran tatap muka terbatas, jangan jadikan pandemi sebagai alasan untuk tidak kreatif, inovatif, berkembang dan update. Mari menjadi Guru milenial yang di dambakan. Asal ora kalah karo wegah niscaya guru milenial dapat menguasai Generasi Z dengan segala kecanggihan yang ada.  (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/