alexametrics
30.3 C
Kudus
Saturday, May 28, 2022

Penggunaan Kata Kunci dalam Menulis Teks Editorial

KEGIATAN menulis adalah kegiatan berbahasa yang menunjukkan kemampuan siswa dalam arti sesungguhnya. Oleh karenanya, pada tiap materi di kompetensi dasar peserta didik selalu dituntut utuk menghasilkan produk tulisan. Di sisi, lain potensi plagiat dan copi paste semakin tinggi. Dalam hal ini, pendidik harus mempunyai kemampuan untuk memotivasi siswa. Selain itu, guru harus mampu membuat langkah-langkah maupun petunjuk yang mudah dipahami dan dilakukan.

Pada pelajaran bahasa Indonesia kelas XII kompetensi 4.6 merancang teks editorial dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis, peserta didik dituntut untuk mampu menulis sebuah teks editorial. Kemampuan menulis teks editorial merupakan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi permasalahan yang sedang hangat dan kemampuan anlisis dalam mensikapi permasalahan tersebut.

Teknis kata kunci merupakan salah satu cara peserta didik menulis sebuat teks editorial. Pertama, peserta didik menentukan berita baru dan viral. Penggunaan kata viral tentunya akan lebih mudah diterima oleh perserta didik. Peserta didik menentukan tesis terhadap berita tersebut berdasar pendapat sebagian besar orang maupun pandangan sendiri. Kata kunci yang mudah dalam mengungkapkan pendapat adalah kata sifat, seperti: setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, mungkin-mustahil, asli-palsu dan lain sebagainya.


Kedua, peserta didik memberikan alasan (argumen) atas pendapatnya melalui kalimat sebab-akibat (kausal): setuju A karena … atau tidak setuju A karena, A mungkin (terjadi) karena …, atau A tidak mungkin (terjadi) karena …, dan lain sebagainya. Dalam hal ini pendidik menentukan sebab dengan sebuah kata kunci: A tidak mungkin karena tidak jelas (kata kunci tidak jelas).

Ketiga, peserta didik menentukan kata kunci sebagai penegasan ulang maupun rekomendasi (saran) terhadap permasalahan berita viral tersebut. A tidak mungkin karena tidak jelas, maka jangan percaya. Kata kunci rekomendasi adalah jangan percaya.

Apabila kata-kata kunci tersebut sudah ditentukan, maka tersusunlah kerangka karangan terdiri atas kata-kata kunci tersebut antara lain; (A) tidak mungkin, (A tidak mungkin karena) tidak jelas (sumbernya), (A tidak mungkin karena) ada kejanggalan, (A tidak mungkin karena) berubah-ubah, (A tidak mungkin karena tidak jelas, ada kejanggalan, dan berubah-ubah, maka) jangan dipercaya.

Berdasarkan kata kunci yang ada (bercetak miring), masing-masing kata kunci dikembangkan menjadi kalimat. Masing-masing kalimat kata kunci pun dapat dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Tesis teks editorial dapat berupa pengenalan isu (berita viral) beserta pendapatnya.

Baca Juga :  Ratusan Siswa Kurang Mampu di Pati Terima Tali Asih

Alasan (argumen) dijelaskan berdasar data/fakta. Data dapat diperoleh melalui tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan (berita atau teori maupun data resmi lainnya). Apabila peserta didik kesulitan dalam mencari data, argumentasi dapat dijelaskan secara logis. Argumentasi dapat dalam bentuk penilaian, kritik, maupun prediksi.

Pada bagian penegasan ulang berisi penegasan kembali pendapat penulis maupun saran (rekomendasi) yang disarankan oleh penulis. Penegasan ulang merupakan bentuk penegasan bahwa berdasar argumentasi yang ada, pendapat (pandangan) penulis terhadap isu adalah benar adanya.

Penggunaan kata kunci ini pada dasarnya dapat digunakan dalam semua genre tulisan. Hanya saja, struktur genre tulisan juga mempengaruhi teknis penentuan kata kunci di setiap bagian struktur tulisan.

Secara umum, teknik kata kunci dalam menulis teks editorial dapat dilaksanakan relatif baik di SMA Negeri 1 Wirosari. Selain mempermudah peserta didik dalam menemukan gagasan dan pada proses penulisan, potensi plagiat atau sistem copi paste akan terminimalisasi. Oleh karenya, petunjuk langkah-langkah dan penilaian proses sangatlah penting. (*)

KEGIATAN menulis adalah kegiatan berbahasa yang menunjukkan kemampuan siswa dalam arti sesungguhnya. Oleh karenanya, pada tiap materi di kompetensi dasar peserta didik selalu dituntut utuk menghasilkan produk tulisan. Di sisi, lain potensi plagiat dan copi paste semakin tinggi. Dalam hal ini, pendidik harus mempunyai kemampuan untuk memotivasi siswa. Selain itu, guru harus mampu membuat langkah-langkah maupun petunjuk yang mudah dipahami dan dilakukan.

Pada pelajaran bahasa Indonesia kelas XII kompetensi 4.6 merancang teks editorial dengan memerhatikan struktur dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis, peserta didik dituntut untuk mampu menulis sebuah teks editorial. Kemampuan menulis teks editorial merupakan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi permasalahan yang sedang hangat dan kemampuan anlisis dalam mensikapi permasalahan tersebut.

Teknis kata kunci merupakan salah satu cara peserta didik menulis sebuat teks editorial. Pertama, peserta didik menentukan berita baru dan viral. Penggunaan kata viral tentunya akan lebih mudah diterima oleh perserta didik. Peserta didik menentukan tesis terhadap berita tersebut berdasar pendapat sebagian besar orang maupun pandangan sendiri. Kata kunci yang mudah dalam mengungkapkan pendapat adalah kata sifat, seperti: setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, mungkin-mustahil, asli-palsu dan lain sebagainya.

Kedua, peserta didik memberikan alasan (argumen) atas pendapatnya melalui kalimat sebab-akibat (kausal): setuju A karena … atau tidak setuju A karena, A mungkin (terjadi) karena …, atau A tidak mungkin (terjadi) karena …, dan lain sebagainya. Dalam hal ini pendidik menentukan sebab dengan sebuah kata kunci: A tidak mungkin karena tidak jelas (kata kunci tidak jelas).

Ketiga, peserta didik menentukan kata kunci sebagai penegasan ulang maupun rekomendasi (saran) terhadap permasalahan berita viral tersebut. A tidak mungkin karena tidak jelas, maka jangan percaya. Kata kunci rekomendasi adalah jangan percaya.

Apabila kata-kata kunci tersebut sudah ditentukan, maka tersusunlah kerangka karangan terdiri atas kata-kata kunci tersebut antara lain; (A) tidak mungkin, (A tidak mungkin karena) tidak jelas (sumbernya), (A tidak mungkin karena) ada kejanggalan, (A tidak mungkin karena) berubah-ubah, (A tidak mungkin karena tidak jelas, ada kejanggalan, dan berubah-ubah, maka) jangan dipercaya.

Berdasarkan kata kunci yang ada (bercetak miring), masing-masing kata kunci dikembangkan menjadi kalimat. Masing-masing kalimat kata kunci pun dapat dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Tesis teks editorial dapat berupa pengenalan isu (berita viral) beserta pendapatnya.

Baca Juga :  Pembelajaran Kolaboratif Sangat Bermakna

Alasan (argumen) dijelaskan berdasar data/fakta. Data dapat diperoleh melalui tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan (berita atau teori maupun data resmi lainnya). Apabila peserta didik kesulitan dalam mencari data, argumentasi dapat dijelaskan secara logis. Argumentasi dapat dalam bentuk penilaian, kritik, maupun prediksi.

Pada bagian penegasan ulang berisi penegasan kembali pendapat penulis maupun saran (rekomendasi) yang disarankan oleh penulis. Penegasan ulang merupakan bentuk penegasan bahwa berdasar argumentasi yang ada, pendapat (pandangan) penulis terhadap isu adalah benar adanya.

Penggunaan kata kunci ini pada dasarnya dapat digunakan dalam semua genre tulisan. Hanya saja, struktur genre tulisan juga mempengaruhi teknis penentuan kata kunci di setiap bagian struktur tulisan.

Secara umum, teknik kata kunci dalam menulis teks editorial dapat dilaksanakan relatif baik di SMA Negeri 1 Wirosari. Selain mempermudah peserta didik dalam menemukan gagasan dan pada proses penulisan, potensi plagiat atau sistem copi paste akan terminimalisasi. Oleh karenya, petunjuk langkah-langkah dan penilaian proses sangatlah penting. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/