alexametrics
24.5 C
Kudus
Tuesday, May 24, 2022

Geladi Bersih ANBK SD di Karimunjawa Terkendala Jaringan Internet

KARIMUNJAWA – Geladi bersih Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) Sekolah Dasar (SD) di Karimunjawa terkendala sinyal. Seperti yang dialami SDN Karimunjawa 5 di Pulau Genting dan SDN Kemujan 3 Kecamatan Karimunjawa saat geladi bersih ANBK pekan ini.

Ditambah lagi keterbatasan sarana komputer dan laptop yang belum memenuhi syarat ANBK. Sehingga masih menumpang di sekolah arau madrasah yang sudah memiliki fasilitas standar ANBK. SDN Kemujan 3  menumpang ANBK di Madrasah Tsanawiyah (Mts) Safinatul Huda Kemujan dan SDN Karimunjawa 5 pulau Genting yang menumpang di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Karimunjawa.

“Siswa kami di SDN Karimunjawa 5 Pulau Genting benar-benar mengalami persoalan serius terkait sinyal telekomunikasi jika dilaksanakan ANBK di satuan pendidikan kami. Di SDN Karimunjawa 5 pulau Genting, tidak ada sinyal sama sekali,” ujar Salamak, Kepala SDN Kemujan 3 yang merangkap Kepala SDN Karimunjawa 5 sejak Mei 2021 lalu.


Ia menjelaskan, pada saat input data siswa peserta ANBK, operator sekolah harus menuju dermaga Pulau Genting yang jaraknya satu kelimeter dari sekolah. Itupun sinyalnya putus-putus dan tidak lancer. “Serta hanya bisa dilakukan pada malam hari saat ada aliran listrik,” tuturnya.

Padahal pada saat simulasi ANBK, geladi bersih maupun pelaksanaannya nanti dilaksanakan pada pukul 08.00 untuk sesi 1 dan pukul 14.00 untuk sesi 2. “Untuk itu, pada ANBK tahun 2021 ini kami menumpang di SMKN Karimunjawa,” imbuhnya.

Masalah lain muncul. Terkait transportasi. Untuk mengangkut enam siswa peserta ANBK dari Pulau Genting ke Karimunjawa memakan waktu dua hingga tiga jam. Membutuhkan biaya operasional transportasi. Bantuan Operasional Siswa (BOS) tidak mencukupi untuk mengangkut siswa melalui perahu, menyewa penginapan maupun konsumsi siswa dan guru pendamping selama simulasi, geladi bersih, dan pelaksanaan ANBK.

Baca Juga :  MIN 2 Pati Raih The Best Achievement of Madrasah Ibtidaiyah

Sementara itu, untuk keperluan simulasi dan geladi bersih ANBK SDN Kemujan 3 yang menumpang di MTs Safinatul Huda sudah menghabiskan biaya lebih dari Rp 10 juta. Digunakan untuk pengadaan seperangkat komputer server yang mempunyai RAM 8 G, kecepatan 20 Mbps dan windows terbaru.

“Kami benar-benar mengharapkan perhatian dan bantuan pemerintah untuk mengatasi masalah di dua sekolah yang kami pimpin,” ujarnya.

Lebih lanjut Salamak mengatakan, di SDN Kemujan 3 total jumlah siswanya ada 66 siswa dalam enam kelas namun hanya ada lima ruang kelas. Sehingga ada kelas yang digilir jam belajarnya. Dia berharap ada pengadaan tanah dari pemerintah dan pembangunan ruang kelas baru di SDN Kemujan 3.

“Sedangkan di SDN Karimunjawa 5 pulau Genting, kami berharap ada pengangkatan guru baru. Saat ini hanya ada dua guru negeri, dua guru tidak tetap dan satu penjaga tidak tetap,” imbuhnya.

Ia berharap status tenaga pendidik di Pulau Genting Karimunjawa disamakan dengan guru di Pulau Parang dan Pulau Nyamuk, agar mendapat tunjangan khusus. “Secara administrasi, kami memang ikut desa Karimunjawa, namun secara geografis kami terpisah lautan,” tandasnya.






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

KARIMUNJAWA – Geladi bersih Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) Sekolah Dasar (SD) di Karimunjawa terkendala sinyal. Seperti yang dialami SDN Karimunjawa 5 di Pulau Genting dan SDN Kemujan 3 Kecamatan Karimunjawa saat geladi bersih ANBK pekan ini.

Ditambah lagi keterbatasan sarana komputer dan laptop yang belum memenuhi syarat ANBK. Sehingga masih menumpang di sekolah arau madrasah yang sudah memiliki fasilitas standar ANBK. SDN Kemujan 3  menumpang ANBK di Madrasah Tsanawiyah (Mts) Safinatul Huda Kemujan dan SDN Karimunjawa 5 pulau Genting yang menumpang di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) Karimunjawa.

“Siswa kami di SDN Karimunjawa 5 Pulau Genting benar-benar mengalami persoalan serius terkait sinyal telekomunikasi jika dilaksanakan ANBK di satuan pendidikan kami. Di SDN Karimunjawa 5 pulau Genting, tidak ada sinyal sama sekali,” ujar Salamak, Kepala SDN Kemujan 3 yang merangkap Kepala SDN Karimunjawa 5 sejak Mei 2021 lalu.

Ia menjelaskan, pada saat input data siswa peserta ANBK, operator sekolah harus menuju dermaga Pulau Genting yang jaraknya satu kelimeter dari sekolah. Itupun sinyalnya putus-putus dan tidak lancer. “Serta hanya bisa dilakukan pada malam hari saat ada aliran listrik,” tuturnya.

Padahal pada saat simulasi ANBK, geladi bersih maupun pelaksanaannya nanti dilaksanakan pada pukul 08.00 untuk sesi 1 dan pukul 14.00 untuk sesi 2. “Untuk itu, pada ANBK tahun 2021 ini kami menumpang di SMKN Karimunjawa,” imbuhnya.

Masalah lain muncul. Terkait transportasi. Untuk mengangkut enam siswa peserta ANBK dari Pulau Genting ke Karimunjawa memakan waktu dua hingga tiga jam. Membutuhkan biaya operasional transportasi. Bantuan Operasional Siswa (BOS) tidak mencukupi untuk mengangkut siswa melalui perahu, menyewa penginapan maupun konsumsi siswa dan guru pendamping selama simulasi, geladi bersih, dan pelaksanaan ANBK.

Baca Juga :  Dampak Covid-19 terhadap Pembelajaran Online

Sementara itu, untuk keperluan simulasi dan geladi bersih ANBK SDN Kemujan 3 yang menumpang di MTs Safinatul Huda sudah menghabiskan biaya lebih dari Rp 10 juta. Digunakan untuk pengadaan seperangkat komputer server yang mempunyai RAM 8 G, kecepatan 20 Mbps dan windows terbaru.

“Kami benar-benar mengharapkan perhatian dan bantuan pemerintah untuk mengatasi masalah di dua sekolah yang kami pimpin,” ujarnya.

Lebih lanjut Salamak mengatakan, di SDN Kemujan 3 total jumlah siswanya ada 66 siswa dalam enam kelas namun hanya ada lima ruang kelas. Sehingga ada kelas yang digilir jam belajarnya. Dia berharap ada pengadaan tanah dari pemerintah dan pembangunan ruang kelas baru di SDN Kemujan 3.

“Sedangkan di SDN Karimunjawa 5 pulau Genting, kami berharap ada pengangkatan guru baru. Saat ini hanya ada dua guru negeri, dua guru tidak tetap dan satu penjaga tidak tetap,” imbuhnya.

Ia berharap status tenaga pendidik di Pulau Genting Karimunjawa disamakan dengan guru di Pulau Parang dan Pulau Nyamuk, agar mendapat tunjangan khusus. “Secara administrasi, kami memang ikut desa Karimunjawa, namun secara geografis kami terpisah lautan,” tandasnya.






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

Most Read

Artikel Terbaru

/