alexametrics
33.6 C
Kudus
Friday, August 5, 2022

Tradisi Kupatan di Sumber Bulusan

SUATU tempat atau daerah yang ada di negara Indonesia ini mempunyai suatu tradisi masing-masing yang tetap berjalan seiring kemajuan zaman. Begitu juga di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Jekulo, mempunyai suatu tradisi kupatan.

Tradisi adalah segala sesuatu yang dianggap merupakan kebiasaan, merupakan adat istiadat turun temurun (KBIL, Daryanto; 1997). Tradisi kupatan adalah suatu tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat Dukuh Sumber, Hadipolo, dan sekitarnya diadakan setiap hari kedelapan sesudah Hari Raya Idul Fitri. Tepatnya di Hari Raya Kupat.

Tradisi tersebut berawal dari kisah perjalanan Sunan Muria yang ingin berkunjung ke rumah atau pesantren muridnya yang bernama Ki Duda (masyarakat sekitar menyebutnya Mbah Duda) di Kudus bagian timur (sekarang terkenal dengan sebutan Dukuh Sumber).


Alkisah, dalam perjalanannya tersebut, Kanjeng Sunan Muria diikuti para santrinya. Sampailah beliau di suatu tempat pada malam hari, dengan berjalan kaki dari lereng Gunung Muria.

Di tempat itulah beliau mendengar suara krubak-krubuk yang berasal dari sawah. Atas kehendak Allah SWT spontan beliau bersabda (ngendikan): ”Bengi-bengi kok krubak-krubuk kaya bulus. Ora lungo ngaji malah ing sawah.”

Seketika itu, orang-orang yang sedang bekerja di sawah tersebut menjadi bulus. Termasuk pasangan suami istri, murid Mbah Duda.

Pasangan bulus Umara-Umari tersebut, sambat-sambat kepada Sunan Muria minta untuk dikembalikan lagi menjadi manusia. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tempat di mana Umara-Umari menjadi bulus sekarang dinamakan Maja Bulus. Karena di tepi sawah tersebut ada pohon maja.

Kanjeng Sunan Muria dan murid-muridnya melanjutkan perjalanan ke selatan. Begitu juga bulus Umara-Umari mengikuti dari belakang. Sampai ada gundukan tanah yang agak tinggi dan keduanya bisa melewatinya, sehingga mereka merasa senang dengan senyum-senyum (mesem = Jawa). Maka akhir zaman tempat tersebut dinamakan Praseman.

Baca Juga :  Menulis Cerpen Perlu Digali, meski Pandemi Masih Menghantui

Kanjeng Sunan Muria berjalan ke selatan terus dan diikuti semuanya. Sampai akhirnya beliau di suatu tempat perbatasan Sumber dan Tenggeles (sekarang). Bulus Umara-Umari disuruh kembali ke utara lagi, sehingga keduanya berhenti seperti Togog/Pogog = Punggel (Jawa) atau ujung jalan terakhir. Maka akhir zaman tempat tersebut dinamakan Pogog/Togog.

Akhir cerita kedua bulus Umara-Umari dan teman-temannya memohon kepada Kanjeng Sunan Muria untuk dicarikan suatu tempat yang cocok untuk mereka. Dengan rasa kasihan, pilu, iba, dan rasa tanggung jawab, Kanjeng Sunan Muria akhirnya menancapkan tongkatnya, sehingga keluarlah air yang kelihatan ngebul-ngebul. Yang akhir zaman tempat tersebut dinamakan Ngebul. Di situlah tempat tinggal bulus Umara-Umari.

Selain itu, Kanjeng Sunan Muria berpesan kepada keduanya: ”Kamu tidak akan kelaparan, setiap orang dari anak cucu Mbah Duda dan sekitarnya, kelak jika punya hajat akan selalu memberi makan kamu (Umara-Umari). Terlebih nanti pada Hari Raya Kupatan (Bada Kupat) orang-orang dari sekitar dan pelosok desa akan berdatangan untuk melihat, menengok, menjenguk, dan memberi makan kepada kamu berupa kupat dan lepet. Sehabis mereka mengadakan kenduri kupat lepet di masjid.”

Itulah sekilas cerita tentang tradisi Kupatan di Sumber Bulusan. Dari cerita tersebut, bisa kita ambil hikmahnya. Pertama, saat bekerja ingat waktu. Kedua, mengambil hikmah cerita. Ketiga, mengetahui suatu legenda. Keempat, mensyukuri nikmat Allah SWT. Kelima, ikut memajukan potensi wisata daerah kita. (*)

SUATU tempat atau daerah yang ada di negara Indonesia ini mempunyai suatu tradisi masing-masing yang tetap berjalan seiring kemajuan zaman. Begitu juga di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Jekulo, mempunyai suatu tradisi kupatan.

Tradisi adalah segala sesuatu yang dianggap merupakan kebiasaan, merupakan adat istiadat turun temurun (KBIL, Daryanto; 1997). Tradisi kupatan adalah suatu tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat Dukuh Sumber, Hadipolo, dan sekitarnya diadakan setiap hari kedelapan sesudah Hari Raya Idul Fitri. Tepatnya di Hari Raya Kupat.

Tradisi tersebut berawal dari kisah perjalanan Sunan Muria yang ingin berkunjung ke rumah atau pesantren muridnya yang bernama Ki Duda (masyarakat sekitar menyebutnya Mbah Duda) di Kudus bagian timur (sekarang terkenal dengan sebutan Dukuh Sumber).

Alkisah, dalam perjalanannya tersebut, Kanjeng Sunan Muria diikuti para santrinya. Sampailah beliau di suatu tempat pada malam hari, dengan berjalan kaki dari lereng Gunung Muria.

Di tempat itulah beliau mendengar suara krubak-krubuk yang berasal dari sawah. Atas kehendak Allah SWT spontan beliau bersabda (ngendikan): ”Bengi-bengi kok krubak-krubuk kaya bulus. Ora lungo ngaji malah ing sawah.”

Seketika itu, orang-orang yang sedang bekerja di sawah tersebut menjadi bulus. Termasuk pasangan suami istri, murid Mbah Duda.

Pasangan bulus Umara-Umari tersebut, sambat-sambat kepada Sunan Muria minta untuk dikembalikan lagi menjadi manusia. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tempat di mana Umara-Umari menjadi bulus sekarang dinamakan Maja Bulus. Karena di tepi sawah tersebut ada pohon maja.

Kanjeng Sunan Muria dan murid-muridnya melanjutkan perjalanan ke selatan. Begitu juga bulus Umara-Umari mengikuti dari belakang. Sampai ada gundukan tanah yang agak tinggi dan keduanya bisa melewatinya, sehingga mereka merasa senang dengan senyum-senyum (mesem = Jawa). Maka akhir zaman tempat tersebut dinamakan Praseman.

Baca Juga :  Peran Krusial Bank di Sektor Pendidikan

Kanjeng Sunan Muria berjalan ke selatan terus dan diikuti semuanya. Sampai akhirnya beliau di suatu tempat perbatasan Sumber dan Tenggeles (sekarang). Bulus Umara-Umari disuruh kembali ke utara lagi, sehingga keduanya berhenti seperti Togog/Pogog = Punggel (Jawa) atau ujung jalan terakhir. Maka akhir zaman tempat tersebut dinamakan Pogog/Togog.

Akhir cerita kedua bulus Umara-Umari dan teman-temannya memohon kepada Kanjeng Sunan Muria untuk dicarikan suatu tempat yang cocok untuk mereka. Dengan rasa kasihan, pilu, iba, dan rasa tanggung jawab, Kanjeng Sunan Muria akhirnya menancapkan tongkatnya, sehingga keluarlah air yang kelihatan ngebul-ngebul. Yang akhir zaman tempat tersebut dinamakan Ngebul. Di situlah tempat tinggal bulus Umara-Umari.

Selain itu, Kanjeng Sunan Muria berpesan kepada keduanya: ”Kamu tidak akan kelaparan, setiap orang dari anak cucu Mbah Duda dan sekitarnya, kelak jika punya hajat akan selalu memberi makan kamu (Umara-Umari). Terlebih nanti pada Hari Raya Kupatan (Bada Kupat) orang-orang dari sekitar dan pelosok desa akan berdatangan untuk melihat, menengok, menjenguk, dan memberi makan kepada kamu berupa kupat dan lepet. Sehabis mereka mengadakan kenduri kupat lepet di masjid.”

Itulah sekilas cerita tentang tradisi Kupatan di Sumber Bulusan. Dari cerita tersebut, bisa kita ambil hikmahnya. Pertama, saat bekerja ingat waktu. Kedua, mengambil hikmah cerita. Ketiga, mengetahui suatu legenda. Keempat, mensyukuri nikmat Allah SWT. Kelima, ikut memajukan potensi wisata daerah kita. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/