alexametrics
33.6 C
Kudus
Friday, August 5, 2022

Pojok Baca Memaksa Siswa untuk Membaca

BERDASARKAN survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2018,  Indonesia berada di peringkat ke-74 dari 79 negara pada kategori kemampuan membaca. Fakta tersebut, tidak lepas dari rendahnya budaya baca di masyarakat Indonesia. Berbanding lurus pada rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia.

Ada beberapa faktor penyebab rendahnya budaya baca di Indonesia. Pertama, gaya hidup yang ditanamkan dari lingkungan dengan lingkup terkecil, yaitu keluarga. Dalam kehidupan keluarga, orang tua menganggap membaca bukanlah salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Sehingga, membaca menjadi hal yang dikesampingkan, bukan sebuah prioritas dalam keluarga.

Faktor kedua, kegiatan pembelajaran di sekolah yang menjadikan guru sebagai narasumber. Di mana hal ini menyebabkan siswa tidak aktif mencari informasi yang dibutuhkan dari sumber lain, terutama buku.


Sedangkan faktor terakhir, pesatnya perkembangan teknologi. Smartphone, komputer, maupun laptop sekarang ini, bukan lagi tergolong barang yang sangat mewah. Kemudahan mengakses informasi menggunakan perangkat-perangkat tersebut, menjadikan siswa malas membaca buku. Hanya dengan mengetik kata kunci terkait, siswa mendapatkan banyak pilihan informasi di depan mata tanpa harus membuka buku.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut, harus diwaspadai dan diubah, agar tidak semakin membudaya. Salah satu hal yang dapat dilakukan, membangkitkan minat dan kegemaran siswa dalam membaca serta menanamkan kebiasaan membaca pada siswa.

Tahapan pertama, mendorong munculnya minat membaca (reading interest) pada siswa. Yaitu, keinginan atau kemauan seseorang untuk membaca. Kedua, tindakan membaca yang dilakukan berulang-ulang, yang menjadi suatu kesenangan atau kegemaran. Tahap ini, disebut sebagai tahap gemar membaca. Tahap ketiga, terciptanya kebiasaan membaca (reading habit) dan budaya membaca (reading culture) (Melling, 2011).

Baca Juga :  Strategi Branding sebagai Jembatan menuju Sekolah Bermutu

Kebiasaan membaca pada siswa tidak akan muncul dengan sendirinya. Orang tua maupun guru harus mendorong munculnya kebiasaan tersebut, dengan cara memaksa siswa untuk sering membaca. Orang tua harus memperkenalkan buku sedari dini atau membuat jadwal membaca di rumah. Minimal 10 atau 15 menit tiap harinya. Sedangkan tugas guru terkait kebiasaan membaca tersebut, salah satunya membuat sebuah program literasi atau pojok baca di sekolah.

Program literasi atau pojok baca tersebut, sebaiknya dikemas semenarik mungkin, agar siswa tidak merasa jenuh dan terpaksa dalam berliterasi. Pihak sekolah dapat bekerja sama dengan perpustakaan sekolah untuk mewujudkan hal tersebut.

Perpustakaan bersama sekolah harus terus melakukan inovasi terkait program pojok baca. Inovasi-inovasi yang dapat dilakukan antara lain, menyediakan pojok-pojok baca tidak hanya di kelas-kelas, tetapi juga di sudut-sudut kantin, di ruang UKS, di gazebo, di musala, maupun di ruang serbaguna.

Hal lain yang dapat dilakukan, memilih duta pojok baca yang dipilih dari siswa yang dapat menggerakkan teman-temannya, agar mempunyai kebiasaan membaca. Sekolah dan perpustakaan juga dapat memberikan penghargaan kepada siswa yang paling sering berkunjung ke perpustakaan maupun meminjam buku.

Dari hal-hal yang memaksa siswa tersebut, diharapkan munculnya kebiasaan membaca dari dalam diri siswa. Mereka tidak lagi merasa dipaksa untuk membaca atau berliterasi. Kebiasaan yang terbentuk secara kuat akan memunculkan minat siswa dalam menjelajahi buku-buku yang lain, akhirnya menciptakan kegemaran membaca yang membudaya di dalam diri siswa. (*)

BERDASARKAN survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2018,  Indonesia berada di peringkat ke-74 dari 79 negara pada kategori kemampuan membaca. Fakta tersebut, tidak lepas dari rendahnya budaya baca di masyarakat Indonesia. Berbanding lurus pada rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia.

Ada beberapa faktor penyebab rendahnya budaya baca di Indonesia. Pertama, gaya hidup yang ditanamkan dari lingkungan dengan lingkup terkecil, yaitu keluarga. Dalam kehidupan keluarga, orang tua menganggap membaca bukanlah salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Sehingga, membaca menjadi hal yang dikesampingkan, bukan sebuah prioritas dalam keluarga.

Faktor kedua, kegiatan pembelajaran di sekolah yang menjadikan guru sebagai narasumber. Di mana hal ini menyebabkan siswa tidak aktif mencari informasi yang dibutuhkan dari sumber lain, terutama buku.

Sedangkan faktor terakhir, pesatnya perkembangan teknologi. Smartphone, komputer, maupun laptop sekarang ini, bukan lagi tergolong barang yang sangat mewah. Kemudahan mengakses informasi menggunakan perangkat-perangkat tersebut, menjadikan siswa malas membaca buku. Hanya dengan mengetik kata kunci terkait, siswa mendapatkan banyak pilihan informasi di depan mata tanpa harus membuka buku.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut, harus diwaspadai dan diubah, agar tidak semakin membudaya. Salah satu hal yang dapat dilakukan, membangkitkan minat dan kegemaran siswa dalam membaca serta menanamkan kebiasaan membaca pada siswa.

Tahapan pertama, mendorong munculnya minat membaca (reading interest) pada siswa. Yaitu, keinginan atau kemauan seseorang untuk membaca. Kedua, tindakan membaca yang dilakukan berulang-ulang, yang menjadi suatu kesenangan atau kegemaran. Tahap ini, disebut sebagai tahap gemar membaca. Tahap ketiga, terciptanya kebiasaan membaca (reading habit) dan budaya membaca (reading culture) (Melling, 2011).

Baca Juga :  Cara Meningkatkan Minat Baca Anak

Kebiasaan membaca pada siswa tidak akan muncul dengan sendirinya. Orang tua maupun guru harus mendorong munculnya kebiasaan tersebut, dengan cara memaksa siswa untuk sering membaca. Orang tua harus memperkenalkan buku sedari dini atau membuat jadwal membaca di rumah. Minimal 10 atau 15 menit tiap harinya. Sedangkan tugas guru terkait kebiasaan membaca tersebut, salah satunya membuat sebuah program literasi atau pojok baca di sekolah.

Program literasi atau pojok baca tersebut, sebaiknya dikemas semenarik mungkin, agar siswa tidak merasa jenuh dan terpaksa dalam berliterasi. Pihak sekolah dapat bekerja sama dengan perpustakaan sekolah untuk mewujudkan hal tersebut.

Perpustakaan bersama sekolah harus terus melakukan inovasi terkait program pojok baca. Inovasi-inovasi yang dapat dilakukan antara lain, menyediakan pojok-pojok baca tidak hanya di kelas-kelas, tetapi juga di sudut-sudut kantin, di ruang UKS, di gazebo, di musala, maupun di ruang serbaguna.

Hal lain yang dapat dilakukan, memilih duta pojok baca yang dipilih dari siswa yang dapat menggerakkan teman-temannya, agar mempunyai kebiasaan membaca. Sekolah dan perpustakaan juga dapat memberikan penghargaan kepada siswa yang paling sering berkunjung ke perpustakaan maupun meminjam buku.

Dari hal-hal yang memaksa siswa tersebut, diharapkan munculnya kebiasaan membaca dari dalam diri siswa. Mereka tidak lagi merasa dipaksa untuk membaca atau berliterasi. Kebiasaan yang terbentuk secara kuat akan memunculkan minat siswa dalam menjelajahi buku-buku yang lain, akhirnya menciptakan kegemaran membaca yang membudaya di dalam diri siswa. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/