alexametrics
31.6 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Suka Duka Guru dalam Pembelajaran di Masa Pandemi

GURU adalah pekerjaan yang sangat mulia. Karena tugas utama guru adalah mendidik dan mengajar. Mendidik artinya mengubah perilaku peserta didik yang domainnya pada aspek sikap. Domain sikap di antaranya religius, mandiri, gotong royong, jujur, kerja keras, peduli, percaya diri, dan kerja sama. Mengajar artinya mengubah perilaku peserta didik yang domainnya pada aspek pengetahuan dan keterampilan sesuai spesifikasi guru tersebut.

Di masa pandemi seperti saat ini yang menjadikan beban tersendiri bagi guru. Bagaimana bisa seorang guru akan secara maksimal di dalam mendidik, karena peserta didik dan guru tidak bisa komunikasi secara tatap muka langsung.

Orentasi mendidik adalah rohnya pada aspek sikap. Sementara guru tidak mungkin dapat melihat secara langsung untuk mengamati sikap perilaku peserta didiknya. Misalnya meninjau dari sikap jujur. Guru tidak mungkin bisa mengetahui secara pasti dalam hal mengerjakan tugas-tugas atau penilaian harian yang diberikan murni dari hasil karya peserta didik sendiri. Karena pelaksanaan online, peserta didik bisa dengan leluasa mencari jawaban dengan cara mereka sendiri. Baru ditinjau dari satu sikap saja belum sikap yang lain.


Misal ditinjau dari sikap percaya diri, jelas kalau dikaitkan dengan pengerjaan tugas atau pengerjaan penilaian harian, sikap percaya diri belum bisa tumbuh secara maksimal. Karena peserta didik bisa lebih leluasa bertanya ke mana pun. Maka dari sinilah, guru di masa pandemi ini sangat-sangat merasa prihatin. Karena guru kurang maksimal dalam merubah perilaku peserta didiknya yang terkait dengan sikap jujur dan percaya diri.

Apalagi jika masuk pada aspek religius dan mandiri. Pada aspek religius biasanya guru setiap pagi dan siang bisa memandu langsung untuk diajak memohon berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan harapan materi yang diberikan saat itu dapat bermanfaat di kelak nanti. Kini, di masa pandemi guru tak dapat lagi melihat aktivitas peserta didik berdoa. Walaupun dalam pembelajaran online pun kegiatan tersebut tetap dilakukan.

Kemudian jika ditinjau dari sikap mandiri, jelas di masa pandemi seperti ini guru kurang yakin bahwa sikap ini dapat ditumbuhkan dengan maksimal. Peserta didik cenderung tergantung pada alat elektronik yang saat ini sedang marak berkembang, yaitu bertanya kepada ”Mbah Google”.

Baca Juga :  Menumbuhkan Pendidikan Karakter di Masa Pandemi

Tugas guru yang kedua adalah mengajar. Domainnya pada aspek pengetahuan. Ini mempunyai arti bahwa mengajar itu mempunyai makna mengubah perilaku peserta didik dari yang belum tahu menjadi tahu. Di masa pandemi seperti ini, guru tidak lagi kekurangan cara bagaimana mentransfer ilmu yang dimiliki kepada peserta didik. Di antaranya dimulai dari yang paling sederhana WhatsApp (WA), Google Classroom, Google Meet, Google Form, Office 365, dan lain sebagainya.

Yang menjadi kendala adalah tidak meratanya kekuatan sinyal dari masing-masing provider dari android peserta didik. Belum lagi yang berhubungan dengan kekuatan ekonomi orang tua. Karena semua itu butuh kuota. Kuota juga butuh uang. Dari sisi inilah muncul persoalan baru lagi.

Bagaimana mengatasi persoalan ini? Alhamdulillah pemerintah tahu keluh kesah warga negaranya di dalam dunia pendidikan. Pemerintah berupaya memberi bantuan kuota kepada peserta didik. Sehingga sedikit banyak peserta didik merasa terselesaikan masalah kuota ini.

Di masa pandemi seperti ini, guru dituntut lebih kreatif lagi. Misalnya dari contoh yang sederhana saja, guru yang mulanya belum mengenal power point, sekarang mau tidak mau harus mengenal untuk menyampaikan materi yang diajarkan melalui grup kelasnya. Tentunya agar bisa diakses peserta didik, materi tersebut diubah menjadi gambar. Belum lagi yang berkenaan dengan platform pendidikan.

Di masa pandemi ini, sebetulnya guru banyak memperoleh ilmu baru yang berkenaan dengan kemajuan teknologi yang berkaitan dengan internet. Untuk itu, banyak suka dan duka yang diperoleh guru dalam pembelajaran di masa pandemi ini. Mudah-mudahan pandemi yang melanda Kabupaten Rembang khususnya dan Indonesia pada umumnya segera sirna. Pendidikan dapat lagi berlangsung seperti biasanya. Aamiin… Aamiin… yaa rabal alamiin. (*)

GURU adalah pekerjaan yang sangat mulia. Karena tugas utama guru adalah mendidik dan mengajar. Mendidik artinya mengubah perilaku peserta didik yang domainnya pada aspek sikap. Domain sikap di antaranya religius, mandiri, gotong royong, jujur, kerja keras, peduli, percaya diri, dan kerja sama. Mengajar artinya mengubah perilaku peserta didik yang domainnya pada aspek pengetahuan dan keterampilan sesuai spesifikasi guru tersebut.

Di masa pandemi seperti saat ini yang menjadikan beban tersendiri bagi guru. Bagaimana bisa seorang guru akan secara maksimal di dalam mendidik, karena peserta didik dan guru tidak bisa komunikasi secara tatap muka langsung.

Orentasi mendidik adalah rohnya pada aspek sikap. Sementara guru tidak mungkin dapat melihat secara langsung untuk mengamati sikap perilaku peserta didiknya. Misalnya meninjau dari sikap jujur. Guru tidak mungkin bisa mengetahui secara pasti dalam hal mengerjakan tugas-tugas atau penilaian harian yang diberikan murni dari hasil karya peserta didik sendiri. Karena pelaksanaan online, peserta didik bisa dengan leluasa mencari jawaban dengan cara mereka sendiri. Baru ditinjau dari satu sikap saja belum sikap yang lain.

Misal ditinjau dari sikap percaya diri, jelas kalau dikaitkan dengan pengerjaan tugas atau pengerjaan penilaian harian, sikap percaya diri belum bisa tumbuh secara maksimal. Karena peserta didik bisa lebih leluasa bertanya ke mana pun. Maka dari sinilah, guru di masa pandemi ini sangat-sangat merasa prihatin. Karena guru kurang maksimal dalam merubah perilaku peserta didiknya yang terkait dengan sikap jujur dan percaya diri.

Apalagi jika masuk pada aspek religius dan mandiri. Pada aspek religius biasanya guru setiap pagi dan siang bisa memandu langsung untuk diajak memohon berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan harapan materi yang diberikan saat itu dapat bermanfaat di kelak nanti. Kini, di masa pandemi guru tak dapat lagi melihat aktivitas peserta didik berdoa. Walaupun dalam pembelajaran online pun kegiatan tersebut tetap dilakukan.

Kemudian jika ditinjau dari sikap mandiri, jelas di masa pandemi seperti ini guru kurang yakin bahwa sikap ini dapat ditumbuhkan dengan maksimal. Peserta didik cenderung tergantung pada alat elektronik yang saat ini sedang marak berkembang, yaitu bertanya kepada ”Mbah Google”.

Baca Juga :  Pembelajaran Mahal Dan Etika

Tugas guru yang kedua adalah mengajar. Domainnya pada aspek pengetahuan. Ini mempunyai arti bahwa mengajar itu mempunyai makna mengubah perilaku peserta didik dari yang belum tahu menjadi tahu. Di masa pandemi seperti ini, guru tidak lagi kekurangan cara bagaimana mentransfer ilmu yang dimiliki kepada peserta didik. Di antaranya dimulai dari yang paling sederhana WhatsApp (WA), Google Classroom, Google Meet, Google Form, Office 365, dan lain sebagainya.

Yang menjadi kendala adalah tidak meratanya kekuatan sinyal dari masing-masing provider dari android peserta didik. Belum lagi yang berhubungan dengan kekuatan ekonomi orang tua. Karena semua itu butuh kuota. Kuota juga butuh uang. Dari sisi inilah muncul persoalan baru lagi.

Bagaimana mengatasi persoalan ini? Alhamdulillah pemerintah tahu keluh kesah warga negaranya di dalam dunia pendidikan. Pemerintah berupaya memberi bantuan kuota kepada peserta didik. Sehingga sedikit banyak peserta didik merasa terselesaikan masalah kuota ini.

Di masa pandemi seperti ini, guru dituntut lebih kreatif lagi. Misalnya dari contoh yang sederhana saja, guru yang mulanya belum mengenal power point, sekarang mau tidak mau harus mengenal untuk menyampaikan materi yang diajarkan melalui grup kelasnya. Tentunya agar bisa diakses peserta didik, materi tersebut diubah menjadi gambar. Belum lagi yang berkenaan dengan platform pendidikan.

Di masa pandemi ini, sebetulnya guru banyak memperoleh ilmu baru yang berkenaan dengan kemajuan teknologi yang berkaitan dengan internet. Untuk itu, banyak suka dan duka yang diperoleh guru dalam pembelajaran di masa pandemi ini. Mudah-mudahan pandemi yang melanda Kabupaten Rembang khususnya dan Indonesia pada umumnya segera sirna. Pendidikan dapat lagi berlangsung seperti biasanya. Aamiin… Aamiin… yaa rabal alamiin. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/