alexametrics
29.2 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Angin Segar Guru TIK dalam Kurikulum Prototipe

AWAL tahun ini, kabar perubahan kurikulum hangat diperbincangkan. Kurikulum 2013 dan kurikulum darurat yang selama ini diterapkan di sekolah akan ditambahkan pilihan dengan  kurikulum paradigma baru atau disebut sebagai kurikulum prototipe.

Alasan kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan, untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024 akibat pandemi Covid-19. Juga penyempurnaan terhadap Kurikulum 2013.

Dampak yang paling besar pada penerapan kurikulum prototipe salah satunya, bagi guru TIK. Yakni pemberlakuan mata pelajaran informatika (pengganti TIK) sebagai mata pelajaran wajib. Hal ini menjadi angin segar bagi guru TIK. Di mana pada kurikulum sebelumnya mata pelajaran TIK dihilangkan.


Selama ini, peran guru TIK terus mengalami perubahan dalam setiap pergantian kurikulum. Awalnya sebagai guru mata pelajaran, kemudian dihilangkan dan berubah fungsi menjadi guru bimbingan yang menangani minimal 150 siswa dalam satu semester. Perannya hampir sama dengan guru bimbingan dan konseling sebagai bimbingan atau layanan. Namun, guru TIK memberikan bimbingan dalam bidang TIK.

Saat ini, kurikulum prototipe baru diterapkan pada 2.500 satuan pendidikan yang tergabung dalam program sekolah penggerak dan SMK pusat keunggulan. Dalam implementasi kurikulum prototipe, sekolah diberikan keleluasaan dan kemerdekaan untuk memberikan proyek-proyek pembelajaran yang relevan dan dekat dengan lingkungan sekolah.

Tujuh hal baru pada kurikulum prototipe yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya, meliputi, pertama, struktur kurikulum, profil pelajar Pancasila, yang akan menjadi acuan dalam pengembangan standar isi, standar proses, dan standar penilaian, atau struktur kurikulum, capaian pembelajaran, dan asesmen pembelajaran.

Kedua, istilah KI dan KD diganti menjadi capaian pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai suatu kesatuan proses untuk mengembangkan kompetensi yang utuh bagi siswa.

Baca Juga :  Media Pembelajaran Inovatif Augmented Reality

Ketiga, pembelajaran tematik yang sebelumnya hanya terbatas pada kelas IV, V, dan VI SD, pada kurikulum prototipe pembelajaran tematik bisa diterapkan pada jenjang SMP dan SMA. Keempat, jumlah jam pelajaran ditetapkan per tahun, sehingga sekolah memiliki fleksibilitas dalam mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Kelima, penerapan pembelajaran kolaboratif yang berbentuk project bertujuan mengembangkan profil pelajar Pancasila. Melalui pengalaman pembelajaran dan mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu.

Keenam, mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komunikasi) diajarkan kembali. Dalam kurikulum prototipe dihadirkan kembali dengan sebutan informatika, yang akan diajarkan mulai jenjang SMP. Ketujuh, Mata pelajaran IPA (ilmu pengetahuan alam) dan IPS (ilmu pengetahuan sosial) pada jenjang SD kelas IV, V, dan VI pada kurikulum prototipe akan diajarkan secara bersamaan melalui IPAS.

Hadirnya penerapan kurikulum prototipe diharapkan menjadi solusi pemulihan kualitas standar pendidikan nasional yang merosot akibat pandemi dan dampak learning loss terhadap peserta didik. Untuk itu, perlu diadakan sosialisasi penerapan kurikulum prototipe bagi stakeholder satuan pendidikan dan pelatihan-pelatihan bagi guru, sehingga penerapan kurikulum prototipe berjalan maksimal.

Di samping itu, peran guru TIK dalam kurikulum prototipe sangat strategis dalam proses pemulihan pembelajaran akibat pandemi. Untuk itu, guru TIK dituntut harus lebih aktif, kreatif, dan profesional dalam melakukan peran barunya sebagai guru mata pelajaran informatika, demi suksesnya pelaksanaan kurikulum prototipe dan kemajuan dunia pendidikan. (*)

AWAL tahun ini, kabar perubahan kurikulum hangat diperbincangkan. Kurikulum 2013 dan kurikulum darurat yang selama ini diterapkan di sekolah akan ditambahkan pilihan dengan  kurikulum paradigma baru atau disebut sebagai kurikulum prototipe.

Alasan kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan, untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024 akibat pandemi Covid-19. Juga penyempurnaan terhadap Kurikulum 2013.

Dampak yang paling besar pada penerapan kurikulum prototipe salah satunya, bagi guru TIK. Yakni pemberlakuan mata pelajaran informatika (pengganti TIK) sebagai mata pelajaran wajib. Hal ini menjadi angin segar bagi guru TIK. Di mana pada kurikulum sebelumnya mata pelajaran TIK dihilangkan.

Selama ini, peran guru TIK terus mengalami perubahan dalam setiap pergantian kurikulum. Awalnya sebagai guru mata pelajaran, kemudian dihilangkan dan berubah fungsi menjadi guru bimbingan yang menangani minimal 150 siswa dalam satu semester. Perannya hampir sama dengan guru bimbingan dan konseling sebagai bimbingan atau layanan. Namun, guru TIK memberikan bimbingan dalam bidang TIK.

Saat ini, kurikulum prototipe baru diterapkan pada 2.500 satuan pendidikan yang tergabung dalam program sekolah penggerak dan SMK pusat keunggulan. Dalam implementasi kurikulum prototipe, sekolah diberikan keleluasaan dan kemerdekaan untuk memberikan proyek-proyek pembelajaran yang relevan dan dekat dengan lingkungan sekolah.

Tujuh hal baru pada kurikulum prototipe yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya, meliputi, pertama, struktur kurikulum, profil pelajar Pancasila, yang akan menjadi acuan dalam pengembangan standar isi, standar proses, dan standar penilaian, atau struktur kurikulum, capaian pembelajaran, dan asesmen pembelajaran.

Kedua, istilah KI dan KD diganti menjadi capaian pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai suatu kesatuan proses untuk mengembangkan kompetensi yang utuh bagi siswa.

Baca Juga :  Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan bagi Anak Usia Sekolah

Ketiga, pembelajaran tematik yang sebelumnya hanya terbatas pada kelas IV, V, dan VI SD, pada kurikulum prototipe pembelajaran tematik bisa diterapkan pada jenjang SMP dan SMA. Keempat, jumlah jam pelajaran ditetapkan per tahun, sehingga sekolah memiliki fleksibilitas dalam mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Kelima, penerapan pembelajaran kolaboratif yang berbentuk project bertujuan mengembangkan profil pelajar Pancasila. Melalui pengalaman pembelajaran dan mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu.

Keenam, mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komunikasi) diajarkan kembali. Dalam kurikulum prototipe dihadirkan kembali dengan sebutan informatika, yang akan diajarkan mulai jenjang SMP. Ketujuh, Mata pelajaran IPA (ilmu pengetahuan alam) dan IPS (ilmu pengetahuan sosial) pada jenjang SD kelas IV, V, dan VI pada kurikulum prototipe akan diajarkan secara bersamaan melalui IPAS.

Hadirnya penerapan kurikulum prototipe diharapkan menjadi solusi pemulihan kualitas standar pendidikan nasional yang merosot akibat pandemi dan dampak learning loss terhadap peserta didik. Untuk itu, perlu diadakan sosialisasi penerapan kurikulum prototipe bagi stakeholder satuan pendidikan dan pelatihan-pelatihan bagi guru, sehingga penerapan kurikulum prototipe berjalan maksimal.

Di samping itu, peran guru TIK dalam kurikulum prototipe sangat strategis dalam proses pemulihan pembelajaran akibat pandemi. Untuk itu, guru TIK dituntut harus lebih aktif, kreatif, dan profesional dalam melakukan peran barunya sebagai guru mata pelajaran informatika, demi suksesnya pelaksanaan kurikulum prototipe dan kemajuan dunia pendidikan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/