alexametrics
25.5 C
Kudus
Saturday, May 21, 2022

Pembelajaran Mahal Dan Etika

PEMBELAJARAN di masa pandemi seperti ini yang sering dijumpai adalah pembelajaran secara daring dan luring. Pembelajaran daring adalah anak-anak belajar secara mandiri, online dengan bimbingan bapak/ibu guru serta orang tua masing-masing. Akan tetapi berbagai masalah akan muncul seiring berjalannya waktu. Apakah mereka menikmati dan  bisa mengikuti pembelajaran tersebut ataukah hanya akan membuat mereka malas karena hanya dipantau dari hasil kerja mereka saja?

Seringkali mendengar anak-anak dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif dalam pembelajaran tersebut tanpa memandang dari segala sisi. Di satu sisi, bagi mereka yang berkecukupan hal itu tidak akan menjadi polemik, bagaimana dengan sisi yang satunya?. Satu sisi yang menuntut mereka harus menyediakan fasilitas yang sedemikian, agar tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan mengorbankan sisi yang lainnya. Pembelian kuota wajib hukumnya bagi mereka.

Padahal mereka untuk makan sehari-hari saja mereka kesusahan. Jika hanya mengandalkan pemberian kuota dari pemerintah, tentunya tidak akan cukup untuk pembelajaran mereka yang seminggu full harus menerima materi dan tugas. Bayangkan saja bapak/ibu, mereka harus menghitung dengan detail bagaimana caranya agar kuota bantuan pemerintah itu cukup. Tapi akan lain halnya dengan mereka yang berkecukupan.


Pembelajaran menuntut tenaga pendidik dan siswa untuk terus melaju dengan teknologi yang ada. Semakin ke depan akan terasa semakin sengit persaingan di dunia IT. Secara tidak langsung akan membuat anak didik untuk terus menekuni yang namanya dunia online.

Dunia yang seharusnya belum mereka kenal lebih banyak tapi sekarang ini, mereka dituntut untuk itu. Dunia yang seharusnya mereka kenal 5 tahun ke depan sekarang ini harus mereka kuasai dan itu harus. Dalam dunia online, siapa yang lebih cepat tanggap, terampil dan lincah itulah yang bisa menguasai dunia dengan lebih baik. Tapi, bagaimana dengan teman-teman sebaya mereka yang ada di pelosok gunung? Yang susah sinyal? Yang harus mendaki puncak hanya untuk sekedar mencari sinyal?

Sungguh berbanding terbalik dengan mereka yang ada di kota. Seharusnya pemerintah juga mengimbangi dengan pembangunan di segala sektor. Komunikasi adalah hal yang paling utama yang harus jadi utama. Dengan model dunia yang seperti ini, maka sebagai pendidik dan siswa sebagai anak didik dituntut agar tidak ketinggalan semua informasi yang sedang berkembang.

Baca Juga :  Mulai PTM 100 Persen, Sekolah di Kudus Semprot Disinfektan 2 Kali Sehari

Dengan kata lain yang berkecukupan akan semakin berjaya sedangkan yang tertinggal akan semakin jauh tertinggal. Jadi, untuk anak-anak yang ada di pelosok, mereka ya…sebisanya saja untuk meraih pembelajaran yang menurut mereka semakin mahal. Padahal dulu, mereka sekolah itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa dan akan dipandang sesuatu yang mewah, sekarang hal itu malah akan menjadi polemik buat mereka, ingin bersekolah tapi membutuhkan banyak biaya kalau tidak sekolah tentunya mereka akan semakin tertinggal.

Untuk itu, pembelajaran online itu ada yang diuntungkan serta ada yang dirugikan. Yang diuntungkan untuk para siswa yang ada di kota, yang merasa dirugikan adalah para siswa yang ada di pelosok.

Sebenarnya penulis merasa prihatin karena situasi yang seperti ini, tapi apa mau dikata. Zaman sudah berubah dengan cepat, kalau tidak bisa mengikutinya otomatis akan tertinggal dengan kemajuan yang seperti sekarang ini. Semuanya serba online, belajar, belanja, travelling dan masih banyak lagi.

Inilah yang membuat para pendidik merasa agak sedikit kerepotan dalam menghadapi polah pikir anak yang sudah telanjur menjadi produk online. Mereka (para siswa) menggampangkan semua urusan dengan online. Apa-apa tinggal browsing, tinggal men-scroll, mencari apa yang mereka inginkan. Kalau mereka paham tentunya bisa memilih dan memilah yang penting dan berguna buat mereka, tapi jika salah maka mereka akan mendapati hal-hal yang sangat merugikan mereka sendiri. Mereka akan mengenal hal-hal yang seharusnya belum mereka kenal, menumbuhkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba, hal itulah yang menyebabkan mereka nantinya akan salah dalam menyikapi pembelajaran secara online.

Maka dari itu bapak/ibu sesama pendidik, kita harus seringkali mengingatkan dan jangan pernah bosan untuk selalu dan selalu mengontrol serta mengingatkan tentang batasan-batasan dalam penggunaan gadget. Jangan menjadikan anak didik kita menjadi ahlinya online yang hanya ahli dalam tugas dan pekerjaan tapi tidak ahli dalam etika, moral dan sopan santun. Marilah bapak ibu tetap kita mengajarkan pada anak didik kita norma-norma yang ada tanpa meninggalkan kebudayaan kita yang terkenal dengan sopan, ramah dan menghormati serta menghargai orang lain. (*)

PEMBELAJARAN di masa pandemi seperti ini yang sering dijumpai adalah pembelajaran secara daring dan luring. Pembelajaran daring adalah anak-anak belajar secara mandiri, online dengan bimbingan bapak/ibu guru serta orang tua masing-masing. Akan tetapi berbagai masalah akan muncul seiring berjalannya waktu. Apakah mereka menikmati dan  bisa mengikuti pembelajaran tersebut ataukah hanya akan membuat mereka malas karena hanya dipantau dari hasil kerja mereka saja?

Seringkali mendengar anak-anak dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif dalam pembelajaran tersebut tanpa memandang dari segala sisi. Di satu sisi, bagi mereka yang berkecukupan hal itu tidak akan menjadi polemik, bagaimana dengan sisi yang satunya?. Satu sisi yang menuntut mereka harus menyediakan fasilitas yang sedemikian, agar tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan mengorbankan sisi yang lainnya. Pembelian kuota wajib hukumnya bagi mereka.

Padahal mereka untuk makan sehari-hari saja mereka kesusahan. Jika hanya mengandalkan pemberian kuota dari pemerintah, tentunya tidak akan cukup untuk pembelajaran mereka yang seminggu full harus menerima materi dan tugas. Bayangkan saja bapak/ibu, mereka harus menghitung dengan detail bagaimana caranya agar kuota bantuan pemerintah itu cukup. Tapi akan lain halnya dengan mereka yang berkecukupan.

Pembelajaran menuntut tenaga pendidik dan siswa untuk terus melaju dengan teknologi yang ada. Semakin ke depan akan terasa semakin sengit persaingan di dunia IT. Secara tidak langsung akan membuat anak didik untuk terus menekuni yang namanya dunia online.

Dunia yang seharusnya belum mereka kenal lebih banyak tapi sekarang ini, mereka dituntut untuk itu. Dunia yang seharusnya mereka kenal 5 tahun ke depan sekarang ini harus mereka kuasai dan itu harus. Dalam dunia online, siapa yang lebih cepat tanggap, terampil dan lincah itulah yang bisa menguasai dunia dengan lebih baik. Tapi, bagaimana dengan teman-teman sebaya mereka yang ada di pelosok gunung? Yang susah sinyal? Yang harus mendaki puncak hanya untuk sekedar mencari sinyal?

Sungguh berbanding terbalik dengan mereka yang ada di kota. Seharusnya pemerintah juga mengimbangi dengan pembangunan di segala sektor. Komunikasi adalah hal yang paling utama yang harus jadi utama. Dengan model dunia yang seperti ini, maka sebagai pendidik dan siswa sebagai anak didik dituntut agar tidak ketinggalan semua informasi yang sedang berkembang.

Baca Juga :  Pembelajaran Kontekstual Media Posyandu

Dengan kata lain yang berkecukupan akan semakin berjaya sedangkan yang tertinggal akan semakin jauh tertinggal. Jadi, untuk anak-anak yang ada di pelosok, mereka ya…sebisanya saja untuk meraih pembelajaran yang menurut mereka semakin mahal. Padahal dulu, mereka sekolah itu sudah merupakan prestasi yang luar biasa dan akan dipandang sesuatu yang mewah, sekarang hal itu malah akan menjadi polemik buat mereka, ingin bersekolah tapi membutuhkan banyak biaya kalau tidak sekolah tentunya mereka akan semakin tertinggal.

Untuk itu, pembelajaran online itu ada yang diuntungkan serta ada yang dirugikan. Yang diuntungkan untuk para siswa yang ada di kota, yang merasa dirugikan adalah para siswa yang ada di pelosok.

Sebenarnya penulis merasa prihatin karena situasi yang seperti ini, tapi apa mau dikata. Zaman sudah berubah dengan cepat, kalau tidak bisa mengikutinya otomatis akan tertinggal dengan kemajuan yang seperti sekarang ini. Semuanya serba online, belajar, belanja, travelling dan masih banyak lagi.

Inilah yang membuat para pendidik merasa agak sedikit kerepotan dalam menghadapi polah pikir anak yang sudah telanjur menjadi produk online. Mereka (para siswa) menggampangkan semua urusan dengan online. Apa-apa tinggal browsing, tinggal men-scroll, mencari apa yang mereka inginkan. Kalau mereka paham tentunya bisa memilih dan memilah yang penting dan berguna buat mereka, tapi jika salah maka mereka akan mendapati hal-hal yang sangat merugikan mereka sendiri. Mereka akan mengenal hal-hal yang seharusnya belum mereka kenal, menumbuhkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba, hal itulah yang menyebabkan mereka nantinya akan salah dalam menyikapi pembelajaran secara online.

Maka dari itu bapak/ibu sesama pendidik, kita harus seringkali mengingatkan dan jangan pernah bosan untuk selalu dan selalu mengontrol serta mengingatkan tentang batasan-batasan dalam penggunaan gadget. Jangan menjadikan anak didik kita menjadi ahlinya online yang hanya ahli dalam tugas dan pekerjaan tapi tidak ahli dalam etika, moral dan sopan santun. Marilah bapak ibu tetap kita mengajarkan pada anak didik kita norma-norma yang ada tanpa meninggalkan kebudayaan kita yang terkenal dengan sopan, ramah dan menghormati serta menghargai orang lain. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/